Hehe😗
Happy reading 💙
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
“Eh, ini si Elya ulang tahun. Kalian datang, gak?”
Fix menatap Titra yang sedang bicara, kemudian menatap Reva yang sedang makan. Dia kembali menatap Titra bingung ketika gadis itu mencolek lengannya. Kedua alisnya terangkat, antara protes dan bingung. Mata Titra menunjuk Reva, seperti sedang bicara ‘ayo dong ajak gebetan lo!’
“Lo mau datang bareng gue gak, Klar?” tanya Fix setelah beberapa saat memproses kode dari Titra. Sesaat, kembali melirik Titra yang menunjukkan jempolnya. Bagus, lanjutkan!
“Gue diundang?”
“Astaga. Datang aja kali!” Titra memutar kedua bola matanya malas. Ini lagi pakai drama diundang kagak diundang. Toh, yang punya acara membagikan undangan di grup kelas.
“Elya!”
“Ya?”
“Lo ngundang Reva juga, ‘kan?” Titra yang paling berisik sekarang.
“Iya, dong! Kenapa enggak? Reva gak mau datang, ya?”
Reva menghela napas kecil. Dia mendongak, tersenyum pada Elya. “Gue datang, kok.”
“Yes! Jangan lupa ajak Fix!”
Fix tertawa geli. Berterima kasih pada Elya karena sudah mengundangnya dan membantunya mengajak Reva datang bersama. Akhir-akhir ini dia mulai mendapatkan dukungan semesta.
“Re, lo kenapa, sih? Gak suka acara ginian?”
Reva menggeleng kecil. Bukan begitu, bukan tidak suka, tapi dia tidak tertarik. Selain makan, memberi ucapan dan kado, berfoto, dan bicara hal tak jelas, Reva rasa membosankan. Dia lebih suka bosan karena sendirian dari pada bosan karena berada di tengah kebahagiaan orang lain.
Rasanya dia akan jadi orang paling jahat karena tak bisa berbagi kebahagiaan.
“Pulang sekolah cari kado bareng?”
“Hem. Gue kabari Papa dulu.”
“Nice.” Fix tersenyum lebar. Dia melanjutkan makannya dengan godaan kecil dari Titra. Membiarkan Reva mengirim pesan untuk Etan.
“Cari kado di mana, Fix?”
“Menurut lo?”
“Gue ada saran!” Titra berseru penuh semangat. Dia bangga dengan kemampuannya yang satu ini. Meski hampir tak pernah membelinya, Titra tahu tempat dan barang bagus yang terbaik.
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
Standar motor Fix menyentuh semen. Dia memperhatikan Reva yang sedang melepas helm sambil melepas helmnya sendiri. Sejak tangan Reva sembuh, Fix tak bisa lagi melakukan hobi barunya. Padahal dia suka, bisa menatap jelas wajah Reva dari jarak yang lumayan dekat. Walau ujung-ujungnya dia sendiri yang kewalahan dengan jantungnya.
“Yuk.”
Fix membuka langkah disusul oleh Reva di belakang.
“Biasanya cewek suka apa?” tanya Fix membuka obrolan. Meski sudah mendapat banyak ilmu dari Titra, dia tidak bisa menebak selain untuk Reva.
Fix tersenyum kecil, memperhatikan Reva yang sedang melihat-lihat isi toko. Rasanya menyenangkan.
“Elya suka apa? Lo tahu?”
Pertanyaannya diabaikan. Entah kenapa, akhir-akhir ini Fix merasa suasana yang Reva bawa sangat berbeda. Dia jadi jauh lebih pendiam, bahkan bicara hanya seperlunya. Entah itu perubahan dengan pertanda baik atau bukan.
Sepuluh menit mereka habiskan untuk mencari hadiah. Reva hanya menurut dan berakhir dengan membelikan Elya parfum, boneka, dan sebuah kalung yang lumayan mahal. Mereka berdua patungan untuk membayar, karena Fix sendiri tak membawa uang sebanyak itu jika sok-sokan membayar sendiri.
“Klar.”
“Hem?” Reva mendongak, menaikkan alis.
“Gue boleh ajak lo jalan?”
“Ke mana?”
“Gak usah jauh-jauh dari rumah lo. Ke danau aja.”
Reva tersenyum kecil, mengangguk mengiyakan. Dia memperhatikan Fix, pikirannya kacau lagi. Semua hal yang tak pernah Reva pikirkan sebelumnya entah kenapa menyerang benaknya. Rasanya tidak enak, karena pikiran itu saling berebutan untuk muncul terlebih dahulu. Yang ada malah ingatan-ingatan abstrak yang tak bisa Reva mengerti.
Reva terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai sering mengabaikan dunia yang seharusnya dia hadapi dengan teliti.
Reva menghela napas. Naik ke boncengan Fix dan kembali diam. Bagaimana cara menenangkan pikirannya?
“Klar?”
“Hem?”
“Sudah sampai.”
Reva mendongak, sedikit terkejut. Bahkan, perjalanan nyaris satu jam begini tidak terasa sama sekali. Rasanya baru tadi dia naik, tapi sudah harus turun lagi.
“Lo kenapa? Sakit?” tanya Fix. Dia sudah tak bisa mengabaikan rasa khawatirnya lagi.
“Pikiran gue. Lagi gak bisa gue kontrol.”
“Tapi, lo masih normal, kok.”
Fix terdiam. Ada yang salah dari perkataannya barusan? Tatapan Reva seperti mengatakan ada yang salah.
“Sorry, kalau gue gak fokus.”
“Gak papa lah. Kalau lo fokus ke gue, jadi gue yang kesenangan.”
Fix terkekeh geli berusaha mencairkan suasana dengan berkata jujur. Dia mengajak Reva berjalan ke dalam, menemui danau yang asri. Duduk di bawah pohon rindang meski masih ada sorotan cahaya matahari yang nakal lewat cela-cela dedaunan.
Reva menghela napas, menarik perhatian Fix yang bersusah payah mengalihkan atensinya dari Reva. Gadis itu memeluk kedua kakinya, menatap kesal ke arah danau.
“Lo kalau lagi banyak pikiran ngapain?”
“Mikirin lo.”
“Pasti bukan itu jawabannya.”
“Gue serius.” Fix menunjukkan ekspresi yang meyakinkan. “Kalau gue mikirin lo, gue cuman fokus tentang perasaan gue. Hal yang lain otomatis ngalah karena dia gak pantas buat gue pikirin.”
“Ooh ....”
Respons Reva biasa saja. Sepertinya pikirannya benar-benar sekacau itu. “Lo boleh cerita ke gue. Siapa tahu, lo banyak pikiran karena seharusnya gak lo pendam sendiri.”
“Gue gak mau orang asing tahu.”
Jleb.
Perasaan Fix seperti dihantam batu tajam, tertabok dengan perkataan Reva yang ternyata menganggapnya hanya sebagai orang asing tanpa spesial. Fix pikir, Fix temannya. Teman berbagi. Pantas saja Reva tak melakukannya, sejauh ini Fix masih orang asing.
“Sebelum ada gue. Lo mikirin Niana?”
“I-iya.”
“Niana baik, ‘kan, Fix?”
Fix menghela napas bingung. Entahlah, yang dia pikir suasana akan membaik, malah terasa lebih runyam begini. Dia sudah tak tertarik membahasa Niana. Dia sudah merasa cukup puas hari itu bicara dengan Niana.
“Iya. Dia baik. Tapi suka berlebihan yang buat jadi kelihatan gak baik.”
“Sudah gue duga.”
“Emangnya kenapa?”
“Gue cuman berusaha nyingkirin pikiran buruk gue. Semua memang bisa terjadi, tapi gue benci berpikiran buruk tentang sesuatu. Beberapa sudah terjadi, dan gue jadi takut dengan pikiran gue sendiri.”
Fix mengerti. Dia juga pernah tanpa alasan memikirkan hal-hal yang buruk. Entah kecelakaan, tidak lolos audisi, sampai Reva yang akan terus menolaknya. Rasanya memang tidak enak dan sangat mengerikan. Sialnya, sangat sulit dicegah.
Hanya saja ... buruk yang Reva maksud tidak sebanding dengan apa yang Fix maksud.
“Kak Jio .... Apa aja yang dia ceritakan tentang gue?”
Fix terkesiap. Belum siap hal ini terjadi. “Lo ... tahu?”
Reva tersenyum simpul, membalas tatapan Fix. “Gerak-gerik Kak Jio gampang kebaca, Fix. Kalian sama.”
“Katanya lo gak peka. Kalau gitu artinya lo peka, dong!” Fix mulai protes. Reva terlalu suka merendahkan dirinya sendiri. Jarang mengapresiasi kemampuannya.
“Oh gitu, ya?”
Fix diam sejenak. Reva benar-benar berbeda. Senyumannya, sorot matanya, hingga pada aura yang dia pancarkan. Tak ada satu pun yang terasa seperti biasanya.
Tangan Fix mengambil krikil di dekatnya, melemparkannya ke danau dengan perasaan gusar. Tujuan Reva bersikap bodoh begini sebenarnya apa? Padahal dia tahu, dia pembaca gerak-gerik yang andal.
“Banyak, Klar. Hal-hal yang gak gue tahu sebelumnya.” Fix membuang napas. Memperhatikan lekat-lekat gelombang air hingga kembali tenang.
“Salah satunya?”
“Alasan lo pindah. Bukan kemauan lo sendiri, tapi tuntutan dari Nenek lo. Awalnya gue bingung, gue pikir lo bohong. Tapi, Kak Jio kasih gue peringatan. Kalau ngomong sama lo, harus dicerna baik-baik. Gue sadar, waktu itu lo gak pernah jawab iya. Lo juga gak bermaksud bohong.”
Setelah itu hening. Reva tak bertanya apa-apa lagi dan Fix juga tak berani bertanya apa pun pada gadis itu. Pikiran Reva perlahan mereda, tak seriweh tadi sebelum bertanya beberapa hal pada Fix. Mungkin yang Fix bilang tadi benar. Sejak Jio tidak ada, Reva tak punya tempat untuk bercerita.
Bahkan cerita itu enggan keluar di depan orang tuanya sendiri.
“Makasih ya, Fix.”
“Sama-sama.” Fix asal jawab. “Tapi untuk apa?”
Reva tersenyum lebih ringan, rasanya mencuat lega di dada Fix. Perlahan Reva yang biasanya kembali. Benar, dia tidak bohong.
“Makasih sudah jawab pertanyaan gue.”
“Ya. Wajar aja gue jawab kalau lo nanya. Gak usah terima kasih segala.” Fix terkikik geli. Dia senang merasa berguna.
“Better. Bukan hal wajar kalau berurusan sama gue.”
Fix mengernyit, kembali menatap lawan bicaranya. “Kenapa? Lo makan nasi, ‘kan?”
Reva mengangguk.
“Wajar, kok.”
Reva mendengkus geli. Kedua kakinya dia luruskan, merasa lebih nyaman sekarang. Ada beberapa hal yang memang harus diceritakan. Ada beberapa hal yang mencari tempat ceritanya sendiri.
Fix ikut tersenyum lega. Dia membuka tasnya, mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebenarnya ini adalah hadiah kecil yang mau Fix berikan tadi. Namun, dia urungkan melihat aura Reva yang kurang bersahabat. Sekarang sudah waktunya, Fix sama sekali tak berniat mengulurnya.
“Nih.”
Reva menoleh, menatap sebuah jepitan yang Fix perlihatkan padanya. Tatapan beralih pada Fix, lantas tersenyum dan memberikan isyarat agar Fix memasangkannya. Beberapa saat Reva hanya mendapati Fix yang mengerjap.
Tak bisa Fix mungkiri jika dia merasa sangat senang sekarang. Dengan telaten jemarinya bergerak memasangkan jepitan itu di rambut Reva. Menerima ucapan terima kasih yang manis darinya.
“Cantik.”
“Iya.”
“Lo yang cantik, bukan jepitannya.” Fix sudah tahu ke mana persetujuan itu berlabuh.
“Makasih.”
“Bahagia terus, Klar. Lo selalu pantas untuk bahagia, bukan karena lo sudah punya semuanya terus jadi gak pantas. Lo perlu tahu, kebahagiaan lo bisa jadi sumber kebahagiaan orang lain. Salah satunya gue.”
“Tapi, gue gak mau jadi sumbernya, Fix.”
“Kenapa? Itu, ‘kan, hal baik.” Kedua alis Fix terangkat tinggi. Masih banyak hal yang dia tidak mengerti.
“Kalau gue sumbernya. Ketika gue hilang, mereka bakal kesusahan cari sumber yang baru.”
Fix menghela napas, lagi-lagi dia merasa bertanggungjawab akan semua hal. Itu memang bagus, tapi ada beberapa hal yang tak perlu segitunya. Persetan dari itu, Fix mengangguk setuju. “Lo terlalu candu. Susah buat move on.”
“Sama kayak lo tadi. Yang biasanya ceria, tiba-tiba ikut diam gara-gara gue. Rasanya gak enak, ‘kan?”
Ah, Fix menangkapnya.
“Ya, mau gimana?” Fix mengangkat bahu. “Gue juga gak bisa menjamin orang lain seratus persen bikin gue bahagia, Klar. Perasaan gue yang pilih lo, dia gak bisa bohong.”
Fix tidak tahu apa yang sampai detik ini tak bisa Reva ungkapkan sembarangan. Perasaan memang salah satu hal yang paling bisa diandalkan, tapi dia pun akan jadi hal yang paling salah ketika ego ikut bermain di sana.
“Kalau lo bisa kendalikan perasaan lo. Gue gak mau lo suka gue.”
Fix mendengkus, geleng-geleng. “Untungnya gak bisa. Dan, gue jadi lebih paham tentang cinta. Dia gak peduli segelap apa hati yang mau dia singgahi. Peran cinta di sini membuatnya kembali hangat dan bercahaya. Gue percaya gue bisa.”
Maka Reva sebaliknya.
“Tapi, gue rasa gak gitu. Lo bisa, tapi lo capek duluan, Fix.”
⚪ t h a n k s t o f i x ⚪
See you!
MINGGU DEPAN COMEBACK SINGLE KE-9!❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Thanks to Fix | Revisi
Novela Juvenil| Fiki UN1TY | Dalam proses revisi 5 Desember "Aku adalah ceritamu yang telah lama usai." Reva meletakkan penanya di dalam saku, menutup buku diary miliknya dengan perasaan yang dia sendiri tak bisa jelaskan bagaimana. Lembar terakhir yang dia gunak...
