14. Ayu Tapi Jutek

683 153 12
                                        

Hai, Deers! David dan Freya datang lagi. Semoga suka ya. Masih pinjem bartender cantiknya Kak Ry-santi. Jangan lupa vote n komen banyak2 ya!

💕💕💕

Sudah hari kesepuluh, David duduk di salah satu bangku yang ada di dekat dinding pembatas serambi lantai dua. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat lalu lalang mobil yang memasuki hotel. Di sudut lain, ia bisa mengamati taman berumput hijau dengan sprinkle air yang menyembur untuk menyuburkan rumput jepang yang tertanam rapi. Di tengah taman terdapat kolam dengan pancuran yang semakin menampilkan kesan seolah seperti berada di Taman Eden.

Ya, hotel itu serupa Eden bagi David. Banyak kenangan indah yang tersimpan di otaknya. Walau sebuah peristiwa menorehkan luka, tetapi David tetap menganggap tempat itu seperti surga.

Seperti sore sebelumnya, David duduk di bangku yang sama, di samping tanaman sulur dan bunga kemuning mungil yang tumbuh di dalam pot yang diletakkan berjajar di atas dinding pagar. Dia menengok ke arah jam analog yang melingkar di pergelangan tangan kiri.

"Lima, empat, tiga ...."

Derik pintu samping bar yang menghubungkan dengan serambi luar terdengar. Senyum terurai dari bibirnya. Dia menengok ke arah kanan dan mendapati gadis setinggi kira-kira 150-an cm berjalan ke luar.

Betul tebakannya. Gadis berambut hitam lurus yang ditata ekor kuda rapi, berjalan menuju serambi. Sepatu stiletto tidak mengurangi kemungilan sang gadis yang terlihat menggemaskan. David menduga gadis itu akan duduk di pojok serambi dan kemudian larut memandangi sesuatu. Entah apa yang menarik perhatiannya. Yang jelas, gadis itu tampak larut dengan lamunan. Bahkan tak menyadari bahwa David sudah curi-curi pandang sejak hari pertama ia duduk di situ.

Pandangan mereka bertemu. David menganggukkan kepala untuk menyapa gadis berkulit putih itu. Tak disangka sang gadis membalas sapaan tanpa suaranya. Bibir tipis berpoles lipcream pink itu mengembangkan senyum.

Seketika jantung David bergemuruh. Dia semakin menarik sudut bibirnya mengukir senyuman yang lebih lebar. Namun, pemilik mata bulat itu kembali melayangkan ekspresi datar dan memalingkan wajah.

David masih setia mengamati gadis yang duduk di pojokan. Berulang kali mereka bersirobok, berkali-kali juga gadis itu melengos enggan memandangnya.

David tersenyum miring. Pada akhirnya, ia memilih mengalah, karenq terlihat sekali bahwa gadis itu sangat terganggu. Dia bangkit lalu meninggalkan bangkunya, tak lama setelah bartender perempuan juga berjalan menuju ke area dalam bar.

David melangkah menuju bar di mana seorang gadis sedang sibuk mengisi es kristal di dalam ember kecil.

"Ada yang mau pesta?" tanya David basa-basi saat melihat botol sampanye berembun terbenam di dalam ember berisi es.

Suara David membuat Lavina terlonjak. Gadis berseragam putih dengan celemek abu-abu yang terikat di pinggang dengan suspender merah yang terpasang melintasi dada sintalnya itu mengembuskan napas keras dari mulut.

"Kak David! Ngageti wae. Mau pesen apa?"

Lavina menghentikan aktivitasnya, untuk melayani konsumen tetap barunya yang selalu datang setiap hari.

"Ora. Meh bali (Nggak. Mau pulang)."

Alis hitam teratur Lavina mengerut. "Pulang? Tumben?" Ia meneleng ke arah serambi luar. Semburat jingga masih tampak di langit. Biasanya David beranjak dari bar setelah bossnya pulang.

"Iya. Sepertinya cewek di situ, nggak sreg aku di sini." David menggerakkan dagu ke arah serambi.

Entah kenapa, Lavina mencondongkan separuh badannya melampaui meja bar untuk melihat siapa orang yang dimaksud David. Akhirnya matanya membulat. Di sana hanya ada dua orang saja. Langganan barnya dan Freya.

"Bu Freya?" tebak Lavina.

"Namanya Freya?" Pertanyaan Lavina justru disambut pertanyaan lain oleh David.

"Yang ada di situ cuma Bu Freya sih." Lavina mengetuk-ngetuk bibir yang mengerucut dengan telunjuk. "Kenapa emang?"

"Ayu tapi jutek." David meringis seraya mengeluarkan dompet yang ada di saku celana.

Tawa Lavina menyembur. Gadis itu bahkan harus menutup mulutnya dengan mata bergulir ke kanan ke kiri, meyakinkan diri bahwa suaranya tidak tertangkap pendengaran Gyan, atasan langsungnya.

Lavina melipat bibir. Dia menghirup napas dalam-dalam lalu berkata, "Beliau general manajer hotel ini."

Sontak, rahang David seperti ditarik gravitasi bumi. Gerakan hendak mengambil kartu debet dari dalam dompetnya terhenti. Kepalanya pun menoleh ke arah pintu transparan yang menguak sisi serambi luar bar dengan kerjapan mata berulang.

💕Dee_ane💕

General manajer? Lha aku muk karyawan homestay cuilik -David

General manajer? Lha aku muk karyawan homestay cuilik -David

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Paralel (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang