51. Guncangan Batin

395 89 25
                                        

Yes, vote n komen sepi! Monggo ramaikan kuy, buat ngasih semangat buat othornya. Semoga terhibur ya, Deers .... Selamat membaca.

❤️❤️❤️

Mata David memerah begitu keluar dari apartemen Freya. Seharusnya dia tak menjamah Freya. Namun, tetap saja David tak bisa menahan gejolak perasaannya yang selama ini dia tahan. Apalagi, Freya mau membuka diri dan hati dengan menceritakan masa lalunya, tanpa David minta. Seolah saat itu Freya justru melucuti pakaian yang menutupinya, dan mengundang David untuk lebih masuk ke dalam ranah pribadinya.

Namun, tetap saja ada kekhawatiran, Freya akan menyerah dengan hubungan mereka setelah menceritakan masa lalunya. Tanpa berpikir panjang, David merengkuh gadis itu, untuk memberikan jejak kepemilikannya di tempat tersembunyi agar Freya tak pergi.

Sungguh, David merasa menjadi laki-laki bejat. Dia mencintai Freya, tapi membenci masa lalu gadis itu.

Ya, mencintai … tetapi ada rasa sakit di relung hati.

Seandainya boleh memilih, David ingin tak mengetahui apapun tentang masa lalu Freya. Dia tak menyangka masa lalu Freya ternyata melibatkan keluarganya, sehingga akhirnya sekarang dia menjadi laki-laki munafik.

Semua ini bermula saat David bertemu Deni Soemantri di malam dia mengantar mie pangsit untuk Freya.

***
Malam itu, saat dia berjalan di basement, menuju ke mobilnya, dia melihat seseorang meletakkan sesuatu di mobil merah Freya. Seketika David berlari mendapati lelaki mencurigakan itu.

"Woi, Pak! Ngapain kamu nempel-nempel kertas di mobil itu?" Seruan David menggema di seluruh basement.

Laki-laki bermasker itu terlonjak. Dia buru-buru hendak melarikan diri dan segera menaiki sepeda motornya. Namun, dengan sigap David menghadang dari samping dan melepas kunci motornya.

"Siapa kamu? Ngapain kamu nempel-nempel mobil itu?" Wajah David terlihat garang. Nadanya menyelidik persis seperti seorang penyidik.

"Sa-saya ayahnya yang punya mobil itu." Suara laki-laki itu bergetar.

"Ayah yang punya mobil? Saya mengenal yang punya mobil? Siapa nama yang punya mobil?" Mata David menyipit tajam.

"Freya. Freya Weningsari."

David meneleng, lalu menarik masker yang dikenakan laki-laki yang mengaku ayah Freya. Matanya membulat. Otaknya mengingat wajah yang ada di hadapannya. "Om Deni?"

Ayah Freya mengernyit. "Kamu tahu saya?"

"Bener Om Deni? Saya David, anak Pak Dika." David menepuk dadanya dengan senyum lebar.

Ayah Freya menelan ludah kasar. "Anak Pak Dika?"

"Iya. Teman Om. Pemilik d'Amore dulu," terang David yang entah kenapa merasa senang seolah bertemu kawan lama.

"Ah, iya … iya …." Ekspresi ayah Freya terlihat canggung.

"Om ayahnya Freya?" tanya David dengan antusias.

"Iya. Kamu kenal anak saya?" Ayah Freya mengambil kunci yang dikembalikan David. Dengan tangan bergetar dia memasukkan kunci ke dalam lubang.

"Dia … pacar saya." David melipat bibirnya. Dia merasa malu karena sudah lancang mengira ayah Freya sebagai orang iseng yang hendak mengganggu Freya.

"Oh, ya?" Wajah terkejut laki-laki paruh baya itu tak bisa disembunyikan.

"Iya. Tadi saya habis dari sana. Om nggak ke sana?"

"Nggak." Ayah Freya segera menstarter motor hingga deru mesin memenuhi  basement. "Saya pulang dulu, karena ada perlu. Titip anak saya, ya."

Selepas kepergian ayah Freya, David yang hendak menuju ke mobilnya urung melangkahkan kaki. Dia berbalik dan mengambil lipatan kertas yang diselipkan di wiper kiri.

Paralel (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang