Alis Freya mengerut menatap wajah yang bersinar diterpa sinar mentari senja. Senyum yang mencetak lesung di pipi itu tak dimungkiri membuat lelaki itu tampak menawan. Sungguh, Freya tidak ingin mengakui pesona lelaki berbaju merah dan bersweater abu itu.
"Sunset cocktail non alcohol." Lelaki itu duduk di depan Freya.
Seketika alis Freya semakin menukik. Dalam rangka apa ia duduk di depannya? Lagipula kenapa ia mengantar minuman yang tak dipesannya.
"Maaf, saya tidak memesan ini." Freya menyorongkan gelas berembun itu ke depan lelaki itu. "Lagipula, anda bukan karyawan di sini. Kenapa anda mengantar minuman?"
Lelaki itu terkekeh hingga matanya menyipit. Padahal menurut Freya, tak ada hal lucu yang diucapkannya. Reaksi lawan bicaranya sungguh membuat Freya malas.
"Sepertinya saya harus mengaku. Oh, ya kenalkan, saya David." David mengulurkan tangannya ke arah Freya.
Namun, uluran tangan David tak disambut ramah oleh Freya. Dia hanya menatap tangan kekar itu, dengan satu alis terangkat.
"Ini traktiran saya. Beberapa hari ini saya perhatikan, anda selalu datang duduk di sini. Melamun sambil minum cocktail alkohol," kata David dengan renyah. Dia menarik tangannya dan menumpukan tangan yang dilipat di atas meja. Seolah ia ingin memancang tubuhnya tetep berada di depan Freya.
Freya mendengkus. Matanya menyipit tajam. Dia mengempaskan tubuhnya ke sandaran kursi kayu dengan keras. Satu kakinya terangkat dan ditumpukan di paha kiri.
Sambil bersedekap, Freya lalu berkata, "Rupanya anda kurang kerjaan sekali hingga memperhatikan hal remeh seperti ini. Dan sayangnya, saya tidak tertarik!
Tawa David semakin keras. Dia bahkan mendongak hingga Freya bisa melihat jakun menonjol di leher kekarnya.
Dengan decakan keras, Freya meraih tasnya dan bangkit seraya mendorong kursi hingga decitan memekakkan telinga menyela tawa David. Freya memutar tubuh, hendak berlalu dari lelaki yang mengganggu kenyamanannya.
Namun, saat ia melangkah tergesa, seorang anak kecil yang berlari-lari menabraknya. Es krim dengan sirup stroberi berhasil mengenai pantatnya, hingga rok cokelat muda yang ia kenakan tertoreh noda merah.
Freya berbalik. Matanya memelotot memandang anak kecil yang berdiri menatap nanar es krim yang kini jatuh di lantai. Sementara itu, David ikut berdiri dan menghampirinya sambil melepas sweater abunya.
"Pakai ini! Noda merah di rok belakang Mbak mirip noda darah. Orang akan menyangka darah haid Mbak tembus," bisik David sambil menyampirkan sweater di bahu Freya. Ujung sweater panjang itu menjuntai mencapai lututnya.
Langkah Freya terhenti. Kakinya kaku terpaku pada bumi. Rona wajahnya menguap seketika. Tangan Freya merayap ke arah pantat. Ia meyakinkan dirinya bahwa lelaki itu hanya menjebaknya. Memang ia merasakan sensasi dingin. Tapi saat ia mengangkat jarinya dia melihat ujung jari-jari ternoda warna merah pekat.
Mata Freya melebar. Ia menoleh ke arah anak kecil yang kini berlari ke arah orang tuanya duduk.
"Sialan!" desisnya pelan. Walau bibirnya tak bergerak, tetapi suara itu terdengar jelas.
"Anak itu nggak sengaja. Jangan marah."
Freya berdecak sambil membuang muka. Bisa-bisanya lelaki hobi senyum sendiri itu membela anak kecil yang menodai rok kesayangannya.
"Pakai saja sweater itu. Boleh diambil sebagai hadiah pertemanan kita." David tersenyum lebar, lalu pergi meninggalkan Freya yang termangu.
Tangan Freya meremas samping rok pensil. Matanya masih tertuju pada punggung David yang menjauh. Namun, seketika wajahnya memerah karena David tiba-tiba berbalik.
"Jumpa besok, ya!" David melambaikan tangannya dengan penuh percaya diri, lantas memutar tubuh dan melanjutkan lagi langkah kakinya melewati pintu samping bar.
Freya mendengkus keras. Kepalanya menunduk menatap sweater beraroma parfum black musk yang lembut tapi maskulin itu yang kini memeluk badannya.
Freya mengeratkan rahang sambil melirik ke arah pintu yang menelan sosok David yang menyebalkan. Entah kenapa wajah ini mengingatkannya pada laki-laki hidung belang yang suka main perempuan.
"Dasar, cowok playboy! Emang aku cewek murahan yang gampang hanyut dalam rayuan recehmu?" gerutu Freya seraya berjalan menuju area dalam bar.
Namun, saat ia mengingat kembali ucapan David, hati Freya berdesir.
"Pertemanan?" Langkahnya kembali terhenti. Pandangannya tiba-tiba kosong. Ia lupa bagaimana rasanya mempunyai seorang teman.
Freya mengelus sweater rajut yang menjuntai di lengannya. "Ini to rasanya punya teman?"
💕Dee_ane💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Paralel (Completed)
Literatura FemininaYogyakarta .... Kota yang ingin Freya Weningsari hindari. Namun, gadis itu harus mau menetap karena dia mendapat misi menjadi pemimpin di d'Amore hotel. Di hotel itu, dia bertemu dan jatuh cinta dengan David Bagaskara. Mereka saling bersaing ... tap...
