27. Langit Senja

460 133 21
                                        

Hai, Deers! Makasih masih setia di part 27. Semoga terhibur yak😊 Jangan lupa kasih vote n komen.

💕💕💕

"Mau tahu aja apa mau tahu banget?" Alis David bergerak naik turun.

Sungguh, Freya kesal sekali dengan wajah berhidung mancung yang sedang menggodanya. Bibir tipisnya mencang-mencong sambil mengalihkan pandangan pada semburat sinar jingga saat matahari mulai turun ke peraduan.

Entah kenapa sore ini terlihat sangat indah. Freya merekahkan senyum saat melihat pesona angkasa di sore itu, melupakan godaan David yang tidak bermutu 

David mengerjap mendapati ekspresi Freya. Dia mengurut arah pandangan Freya yang membuat gadis itu membuka mulutnya lebar dan mengurai senyuman langka.

"Bagus ya, langitnya?" David akhirnya juga ikut menikmati pemandangan langit sore itu. "Langit sore itu sangat cantik. Rasanya bisa menghapus lelah dan memperbaiki mood. Iya, nggak?"

Freya memalingkan wajah. Ucapan David itu sangat menarik. Mengingatkannya pada ucapan seseorang yang membuatnya selalu ingin menikmati langit senja.

"Kenapa?" David mengangkat alisnya saat tahu Freya menatapnya dengan intens.

Freya menggeleng. Dia mengembuskan napas pelan. "Iya. Langit sore itu emang indah. Mungkin karena cuma sebentar, keindahannya justru dinanti."

David mengangguk setuju. "Kecantikan itu akan selalu dinantikan hari berikutnya. Seperti kamu …."

Freya mengernyit. Detak jantungnya yang tiba-tiba meningkat, memompa darah ke kepala hingga membuat pipinya merona.

"Dasar playboy teri!" Freya berdecak menutupi sikap salah tingkahnya.

David tergelak keras. 

Melihat reaksi David, ,Freya semakin memberengut dengan bibir mengerucut. Ia heran kenapa David selalu tertawa seolah tak ada beban dalam hidupnya. 

"Maksudnya, seperti kamu yang suka menantikan kecantikan langit senja berikutnya. Bukan kamu yang cantik. Geer!" David mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi sambil bersedekap. Ia menggigit bibir bawah untuk menahan senyum saat melirik reaksi Freya.

"Siapa yang geer?" Suara Freya meningkat satu oktaf. Dia melempar tisu kusut yang sekusut wajahnya ke muka David.

Namun, lemparan tisu itu mampu ditangkis oleh David. "Jangan cepet marah. Nanti cepet tua. Kalau emang ada sesuatu yang menjadi beban, lepasin aja. Daripada capek fisik dan mental."

Freya tersenyum miring. Walau dia mengakui bahwa perkataan David ada benarnya, namun dia tidak ingin semudah itu menyerah.

"Gimana bisa berhasil kalau dikit-dikit kita nyerah. Supaya sukses, kita harus berusaha sekuat tenaga biar nggak tersisih dan jadi pengangguran kaya kamu!" sindir Freya dengan ketus. 

David mengulum senyum sambil mengangguk-angguk. Matanya kini tertuju pada langit yang perlahan menarik tabir gelap.

"Tenang aja. Semua akan indah pada waktunya."

Freya kembali memutar bola mata. Ungkapan David tentu tak akan terjadi bila manusia tidak berikhtiar. Melihat David yang hanya duduk manis menikmati pemandangan dari pukul tiga sampai setelah azan maghrib berkumandang, Freya yakin lelaki itu hanyalah anak orang kaya yang menghambur-hamburkan harta orangtua.

Rasanya Freya menyesal sudah memutuskan untuk mampir ke bar. Namun, Freya memilih diam dan tidak menanggapi David. 

"Fre …." 

Freya yang menyibukkan diri mengaduk es batu mencair dengan sedotan itu mendongak. Matanya menyipit saat David memanggil namanya tanpa embel-embel. "Fre? SKSD banget sih!" 

"Kamu lebih muda dari aku dua tahun." David mengangkat jari membentuk huruf 'V' dengan cengiran.

"Sok tahu!" Freya mengerling ke arah pemuda yang sepertinya hidup tanpa beban. "Kayanya kita nggak sedeket itu buat manggil cuma nama."

"Gitu, ya?" David mengelus dagu licinnya. "Apa mau aku panggil 'dik'? Dik Freya?" Kedua alis David terangkat.

"Sejak kapan aku jadi adikmu?" Tanpa Freya sadari, dia berbicara dengan bahasa lebih santai.

"Sejak …" Bola mata David bergulir ke sudut kanan atas. "kemarin. Pas aku nyelamatin kamu dari insiden berdarah."

Freya mendengkus. Bibirnya mencebik. Dia merutuk karena merasa berhutang budi dengan David yang merelakan sweternya untuk menutupi noda merah di pantat.

"Tenang aja, aku balikin sweaternya besok." Nada ketus terlontar dari bibir tipisnya.

"Ah, segitu penginnya kamu ketemu aku, sampai cari alasan mau balikin sweaterku, Fre?" David menjorokkan badannya dan menumpukan tangan yang terlipat di atas permukaan meja. Matanya menyipit seolah ingin menyelisik kedalaman hati Freya.

"Sorry?" Alis rapi Freya mengerut tajam.

Tawa David menguar. Dia lalu bangkit dari duduk hingga kursi yang terdorong ke belakang berderak. "Ok, kalau gitu besok kita ketemu lagi di sini. Jam lima. Seperti biasa." David mengacungkan kelima jarinya. Senyum yang membuat mata sipitnya semakin terlihat seperti garis itu tak lekang dari wajahnya. 

Sementara itu, Freya hanya bisa melongo, tak bisa membalas David yang sudah berlalu dari hadapannya. Dia menatap nanar punggung kekar itu dengan mulut yang tak bisa menutup.

"Sehat ta arek iku?" Freya bergumam dengan logat Surabayanya sambil mengerjap tak percaya.

💕Dee_ane💕

*SKSD : Sok Kenal Sok Deket

Paralel (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang