David berjalan menuju ke meja bar di mana Gyan, sang captain bar, sedang mengelap gelas. Dia langsung menyodorkan dua lembar uang berwarna merah ke hadapan Gyan.
Gyan mendongak. David sudah berdiri di depannya. "Kok udahan?" Gyan mengangkat kedua alis. Bola matanya bergulir ke arah pintu samping bar. "Nggak berhasil kan deketin Bu Freya?"
David memberikan cengiran. Tangannya memasukkan dompet ke saku celana jeans di belakang. "Atos. Koyo mentho!"
Gyan tergelak sambil menggelengkan kepala. Dia menerima uang David dan saat hendak memberikan kembali, David menolak.
"Wes tak omongi! Bu Freya ini orangnya susah." Gyan mengangkat tangan kanannya dan meletakkan di sisi mulutnya. "Galak! Kaya singa beranak kelaparan!" tambahnya sambil berbisik.
Tawa David menggelegar. Dia mengangguk-angguk paham. Awalnya ia tidak percaya dengan ucapan Gyan tentang Freya. Namun, menghadapi sendiri sikap Freya yang ketus dan dingin, David paham kenapa general manajer hotel ini begitu tidak disukai oleh karyawannya.
Setelah berpamitan dengan Gyan, David memilih pulang. Setidaknya, ia sudah cukup puas karena berhasil memulai pendekatan dengan gadis cantik yang selalu memberi ekspresi kusut.
Sambil tersenyum miring, David melenggang menyusuri tangga menuju ke tempat parkir mobil lantai UG. "Lihat saja, Freya. Mungkin kali ini kamu menolakku. Tapi … aku yakin kamu akan bertekuk lutut di depanku."
***
David tiba di depan rumah yang dijadikan homestay bertepatan dengan azan isya berkumandang. Suasana homestay saat itu cukup ramai. Ada tiga wisatawan mancanegara yang menginap. Dua orang dari Jepang dan yang satu dari Jerman.
Namun, bukannya berbaur membantu kesibukan Mama yang sedang menyiapkan makan malam para tamu, David langsung menuju ke bagian belakang rumah joglo yang menjadi tempat tinggalnya bersama Mama.
Begitu sampai di kamar, David mengempaskan badannya di ranjang. Ia menatap kosong langit-langit putih seraya mengenang kembali pertemuannya dengan Freya.
"Ayu … tapi galak." David terkekeh kecil.
David mengusap wajahnya kasar. Ia tidak percaya mendekati seorang gadis dengan cara yang receh. Namun, sejak melihat Freya di serambi bar, David tidak bisa berhenti memperhatikan. Walaupun keberadaannya tak terlihat oleh Freya, tetapi justru membuat David leluasa memperhatikannya.
Cara duduk dengan badan tegak dan tangan terlipat di depan dada yang ditumpukan di atas meja. Tatapan sendunya saat memandang semburat langit senja sangat bertolak belakang dengan wajah judes saat memberikan penolakan.
"Freya Weningsari …." David menggumamkan nama gadis yang menarik perhatiannya. Dia tak bisa menahan tarikan bibirnya.
Tiba-tiba sebuah ilham menyusup di otaknya. Matanya membulat menyadari pikirannya. Namun, lamunannya dibuyarkan oleh derik pintu kamar nyaring yang membuatnya spontan menegakkan tubuh.
"Ya ampun, Le. Tahu homestay sedang ramai, kamu malah mblayang! Mbok bantu Mama." Mama berjalan masuk. Dia menarik kursi dan membalikkan agar bisa duduk menghadap sang putra. "Kamu itu sudah besar. Bukan anak remaja lagi."
David mendesah kasar. "Ma, Mama sudah ada karyawan. Biarkan mereka bekerja."
Mama berdecak. "Lha kan kamu bisa ngurusi bagian kantor. Bikin perencanaan gimana membuat usaha ini meningkat."
"Ma, maaf. Aku pulang karena Mama minta supaya Mama ada yang menjaga di masa tua. Oke, aku kabulkan. Aku pulang meninggalkan karir cemerlang di Jepang. Tapi, aku punya pikiran sendiri, Ma. Tidak selamanya anak harus mengikuti keinginan orangtuanya." David memperbaiki posisi duduknya. Dia menurunkan kakinya dari ranjang.
Wajah Mama menegang. Lambat laun air mukanya memerah. Namun, dia menghirup napas dalam-dalam untuk meredakan amarahnya.
"Lalu, apa yang kamu pengin, Le?"
💕Dee_ane💕
Gyan ada di cerita Kak Ry-santi. Mampir kuy ke sana😍
KAMU SEDANG MEMBACA
Paralel (Completed)
Chick-LitYogyakarta .... Kota yang ingin Freya Weningsari hindari. Namun, gadis itu harus mau menetap karena dia mendapat misi menjadi pemimpin di d'Amore hotel. Di hotel itu, dia bertemu dan jatuh cinta dengan David Bagaskara. Mereka saling bersaing ... tap...
