Hai, hai, hai! Lama banget aku nggak nongol. Maafkeun🙏. Beberapa bulan nggak enak body, tapi Puji Tuhan udah dipulihkan oleh yang ngasih hidup. Oke, Freya n David balik lagi ya. Kasih komen n vote donk. Semoga terhibur. Salam sehat!
❤️❤️❤️
"Ada kotoran di rambutmu." David menjumput beberapa helai rambut Freya dan memperlihatkan daun kering yang menyelip di rambut bagian kiri kepalanya.
Wajah Freya semakin seperti kepiting rebus yang baru matang. Pikirannya tak terbukti. Kepala Freya serasa menciut karena malu mempunyai imajinasi yang aneh
"Ah, iya." Freya mengambil daun itu dari tangan David dengan canggung. "Makasih …."
David tersenyum simpul. Tarikan bibir itu justru membuat Freya serasa dipermainkan. Seolah David mudah sekali mengombang-ambingkan perasaannya. Freya benar-benar seperti gadis remaja yang polos. Walau memang begitulah sebenarnya.
"Makasih diantar." Freya buru-buru ingin turun dari kabin mobil yang seolah memancarkan penghangat yang membakar tubuh. Padahal setahu dia, pendingin kabin sudah dihidupkan dan awalnya bekerja optimal.
Namun, baru saja Freya hendak menarik handel pintu mobil, lengannya ditahan oleh David. "Fre, tunggu …."
Freya menoleh dengan kernyitan alis. "Ada apa lagi?"
"Gemes sama pipimu." David mencubit gemas pipi merona Freya. Lalu dia mendekatkan kepalanya hingga mulutnya tepat berada di depan liang pendengaran gadis itu. "Boleh minta sun di pipi?"
Rasanya rangka di raga Freya tercabut. Tubuhnya mendadak lemas seperti jeli. Otaknya pun mendadak kosong, tak mampu berpikir.
Sun? Di atas banyak diksi dan laki-laki itu memilih kata 'sun' saat ingin mencium pipinya?
David masih memaku pandang padanya. Kedua alisnya terangkat meminta persetujuan.
Namun, Freya mendorong pelan David. Dia ternyata takut bila skinship benar-benar terjadi. "Maaf. Pelan-pelan saja, Mas."
David tersenyum penuh pengertian. Dia mengusap pelan dahi Freya. "Oke. Aku antar sampai ke lift."
Ah, ternyata David memarkir mobil karena ingin mengantarnya. Freya sekali lagi merasa malu, karena berprasangka yang bukan-bukan.
Akhirnya mereka berdua berjalan menuju lobi. Baru kali ini Freya diantar pulang oleh laki-laki yang mempunyai hubungan spesial dengannya. Tiba-tiba di otaknya terlintas sesuatu.
"Mas, hubungan kita … jangan sampai diketahui orang kantor, ya?"
Langkah David terhenti saat mendengar ucapan Freya. "Kenapa?"
"Nggak enak aja. Sementara, biarkan apa adanya dulu," pinta Freya dengan nada memohon.
David mendesah. Dia mendongak, seraya menyugar rambutnya. "Ya sudah kalau itu maumu. Tapi jangan lama-lama. Aku nggak pengin ada orang lain yang deketin kamu karena mikir kamu jomlo."
Freya terkikik kecil. "Emang sapa yang mau sama aku?"
"Banyak kali, Fre. Cowok tulen itu pasti terpesona sama kamu. Cuma mereka minggir karena tahu perangaimu." David mengapit kedua pipi Freya hingga bibir tipis gadis itu membentuk huruf 'o'.
Begitu membebaskan pipinya dari tangan David, Freya berkata, "Ya, cuma cowok gendheng aja yang mau sama aku."
David tergelak. "Dan kamu podo gendhenge karena sudah suka cowok gendheng."
***
Memang Freya mengakui kali ini dia gila. Gendheng! Sedheng! Karena sudah mengikuti kata hatinya. Selama ini dia membatasi diri dengan makhluk yang bernama laki-laki karena tidak ingin terlibat dengan kekisruhan yang menambah ruwet hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paralel (Completed)
ChickLitYogyakarta .... Kota yang ingin Freya Weningsari hindari. Namun, gadis itu harus mau menetap karena dia mendapat misi menjadi pemimpin di d'Amore hotel. Di hotel itu, dia bertemu dan jatuh cinta dengan David Bagaskara. Mereka saling bersaing ... tap...
