Freya termenung memandang langit malam di balkon apartemennya. Segelas susu hangat menemani malam cerah yang dipenuhi bintang. Waktu sudah merangkak menuju tengah malam. Tapi Freya sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Hatinya galau saat akan memutuskan memecat Murni yang membuatnya akan dianggap sebagai pemimpin berhati baja.
Bukan tanpa alasan Freya memutuskan hubungan kerja dengan Murni, sang manajer front office yang sudah bekerja lebih lama daripada dirinya. Hanya saja, saat Freya berusaha mempertahankan Murni, ia tidak mendapati alasan yang tepat. Dari segi kinerja, Freya tidak mendapati prestasi yang bagus dari Murni sehingga membuat Freya berpikir dua kali untuk mempertahankan pegawainya.
Freya mengarahkan bibir cangkir yang merambatkan sensasi hangat di genggaman ke depan mulutnya. Dia memejamkan mata sambil menghirup uap hangat yang harum, dan berharap agar otaknya bisa beristirahat sejenak malam ini.
Saat Ibu membuka pintu balkon, Freya membuka matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum di balik cangkir sebelum menyeruput susu hangat.
"Ibu kok belum tidur?" Freya menurunkan cangkirnya. Kedua tangannya masih menangkup cangkir untuk mengusir dinginnya angin malam kota Yogyakarta.
"Pas nglilir, Ibu lihat kamu nggak ada di ranjang." Ibu duduk di kursi yang dibatasi dengan meja kecil. "Ono opo to, Ngger? Cerita sama Ibu?"
Freya menggeleng. Dia menatap permukaan cairan putih yang tinggal separuh di dalam cangkir. Kalau pun bercerita, Freya tak yakin akan mendapat pencerahan. Namun, Ibu tetap diam menanti Freya membuka mulut.
"Nggak ada apa-apa, Bu." Freya mengurai senyuman. Tetapi tarikan bibirnya semakin menguatkan bahwa hatinya sedang galau.
Ibu memilih diam. Seperti biasa, Ibu akan menemani Freya hingga akhirnya sang putri bisa mencurahkan apa yang dia pikir dan rasakan.
"Bu …," panggil Freya setelah beberapa saat mereka membisu dalam pikiran masing-masing.
Ibu berdeham. Wajahnya terangkat, masih menatap bintang yang terlihat terang malam itu.
"Fre khawatir keputusanku salah," kata Freya pada akhirnya.
"Apa yang membuatmu seperti itu?" Ibu menoleh sejenak ke arah Freya.
Freya menggigit bibir. "Fre harus memecat seorang ibu beranak satu tanpa suami."
Ibu mengerutkan alis. Kali ini, dia memusatkan perhatian sepenuhnya pada Freya karena baru kali itu putrinya bercerita tentang masalah pekerjaan.
"Freya terjebak antara kemanusiaan sama tuntutan pekerjaan. Di sisi lain, Freya tahu rasanya ketika seseorang di–PHK, karena Frey pernah merasakannya. Waktu itu Freya kesal dengan hotel tempat Ibu bekerja karena membuat Ibu terpaksa bekerja serabutan." Freya mendesah. Otaknya mengingat kembali kenangan masa remajanya.
"Lalu?" Ibu terlihat tertarik dengan curahan hati Freya. Dia bahkan menggeser sudut kurainya agar bisa mendengar dan memperhatikan ekspresi Freya saat bercerita.
"Di sisi lain, Freya harus menata sistem manajemen yang amburadul." Freya kini memandang Ibu, walau tak mengharap tanggapan.
Freya lalu bercerita pada Ibu tentang Murni secara garis besar, menurut apa yang dia ketahui. Ibu hanya mengangguk mendengarkan cerita Freya.
"Kalau dulu … Ibu memang melakukan kesalahan besar karena keliru memberitahu bagian dapur resto menu yang dipesan pada event penting. Pihak hotel marah besar karena mendapat komplain dari klien, dan mengalami kerugian," kata Ibu sambil menyandarkan punggung rentanya di sandaran kursi.
"Bukan karena Ibu nggak sempat izin karena membawaku ke dokter?"
"Ya, itu juga kesalahan. Harusnya Ibu memberitahu manajer Food and Beverage kalau Ibu nggak datang. Waktu manajer mengecek kesiapan menu, kagetlah beliau karena berbeda dari pesanan. Namun, saat berusaha menghubungi Ibu, Ibu nggak bisa dihubungi karena baterai handphone Ibu off. Tentu saja pihak petinggi hotel marah karena Ibu dianggap nggak bertanggung jawab. Ya, akhirnya Ibu dipecat."
Freya kini membayangkan dirinya sebagai seorang petinggi manajemen hotel saat kasus Ibu terjadi. Entah kenapa rasa marah yang dulu bercongkol di hatinya itu lebur karena ia paham bahwa Ibu sudah melakukan dua kali kesalahan.
"Bu, Freya enaknya harus bagaimana? Freya bingung."
💕Dee_ane💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Paralel (Completed)
ChickLitYogyakarta .... Kota yang ingin Freya Weningsari hindari. Namun, gadis itu harus mau menetap karena dia mendapat misi menjadi pemimpin di d'Amore hotel. Di hotel itu, dia bertemu dan jatuh cinta dengan David Bagaskara. Mereka saling bersaing ... tap...
