Hallo, ada yang menanti cerita ini? Jangan lupa vote n komennya, yak! Semakin ramai, besok bisa double up🤭
Semoga terhibur😊
💕Happy Reading💕
“Dijual?” Mata Freya membeliak.
“Rating hotel ini sudah hancur. Grafik penjualan setiap bulan menurun. Daripada menanggung kerugian yang lebih parah, Papa menyetujui usul dewan direksi," terang Papa Antoinne.
Freya hanya termangu. Dia merasa gagal mengemban amanat yang diberikan lai-laki yang menjadi figur ayah baginya. Kepala gadis itu menggeleng berulang. “Kasih Freya kesempatan sekali lagi, Pa. Freya yakin bisa mempertahankan hotel ini dan memberikan keuntungan pada perusahaan.”
***
Pembicaraan siang itu, membuat otak Freya semakin kusut. Suasana hatinya tak menentu. Dia tidak ingin mengecewakan papa angkatnya. Lagipula bila ingin bekerja di kantor pusat, dia harus bisa menyelesaikan tantangan ini dengan sebaik-baiknya.
“Ada apa to, Nduk? Sejak kamu pulang, wajahmu kelihatan kusut sekali.” Ibu mengaduk susu hangat sambil berjalan menghampiri Freya.
Freya yang sedari tadi menekuri tabletnya, mendongakkan kepala. Dia mengurai senyum tipis. “Nggak pa-pa, Bu.”
Freya tahu, membicarakan pekerjaannya dengan Ibu tidak akan menyelesaikan masalah. Dia justru akan membebani Ibu.
“Ibu tahu, Ibu nggak pinter. Tapi seenggaknya, Ibu pernah juga bekerja di hotel.” Ibu duduk di sebelah Freya dan menyodorkan cangkir yang mengepulkan uap hangat yang wangi.
“Bu, hotel dulu sama sekarang itu beda. D’Amore dulu dan sekarang beda. Posisi Ibu dan Fre juga beda. Jangan disamain!” Walau Freya tahu, Ibu bermaksud menghiburnya tapi tetap saya Freya tak mampu mengendalikan lengkingan suaranya.
Tarikan bibir Ibu tak bisa menutupi sorot sendunya. Tangan berkeriput itu mengelus bahu Freya. "Maaf. Betul katamu, semua berubah. Posisi kita pun tidak bisa disamakan."
Batin Freya mencelus. Tenggorokannya tersekat menyadari sikapnya yang kasar. "Ibu, maaf … Freya …."
Namun, Ibu justru bangkit dengan air muka yang suram seperti orang yang terduka. "Habiskan susunya selagi hangat. Ibu mau berjalan-jalan sebentar sambil membeli beberapa barang."
"Biar Fre antar—"
"Nggak perlu. Sebaiknya tenangkan dulu hati dan otakmu supaya bisa berpikir jernih." Ibu pun berlalu dari hadapan Freya.
Sementara itu, gadis muda itu hanya terpaku di atas sofa sambil menggenggam erat cangkir yang masih menguarkan uap beraroma rempah yang menenangkan. Mata Freya perlahan berkaca-kaca mengamati punggung Ibu yang masuk ke dalam kamar. Dia menggigit bibir dengan kerutan alis yang menghiasi wajahnya. Nalarnya berpikir, apakah pilihannya ini layak diperjuangkan? Ambisi … eksistensi … tapi dia harus mengingkari kasih sayang seorang ibu.
***
Secangkir susu hangat yang dicampur dengan jahe benar-benar mujarab memanggil kantuk dan membuat Freya terlelap. Tangan Ibu seperti tangan ibu peri yang meracik ramuan ajaib membuatnya terhipnotis. Setiap seduhan seolah terdapat rapalan mantra yang menenangkan, sehingga pagi ini Freya bisa membuka matanya dengan raga yang bugar.
Tak hanya karena lengkingan dering alarm yang membuatnya terjaga, tetapi aroma bumbu rempah yang ditumis, menggelitik organ penciuman. Seolah uap yang menyusup di celah pintu kamar itu mengangkat badannya bangkit. Belum lagi keriuhan sutil mengaduk bahan di wokpan granite memeriahkan paginya.
"Oseng kikil?" Freya memejamkan mata sambil menghirup napas panjang untuk menghayati aroma wangi tumisan bumbu.
Suara 'cetik' kompor gas, mengikuti kemeriahan panci yang beradu dengan pan support. Setelah agak tenang, barulah suara desis minyak panas yang dimasukkan sesuatu mengudara di seluruh ruangan. Harmoni pagi ini, tak pernah Freya sadari. Nyanyian pagi apartemennya yang berpadu dengan senandung merdu Ibu selalu menemaninya memulai hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paralel (Completed)
Chick-LitYogyakarta .... Kota yang ingin Freya Weningsari hindari. Namun, gadis itu harus mau menetap karena dia mendapat misi menjadi pemimpin di d'Amore hotel. Di hotel itu, dia bertemu dan jatuh cinta dengan David Bagaskara. Mereka saling bersaing ... tap...
