32. Hati Yang Bergetar

506 120 30
                                        

Siang, Deers! Freya dan David mampir lagi. Semoga terhibur. Jangan lupa vote n komennya.

💕💕💕

Freya mengerjap. Dia melirik David kemudian mengarahkan pandangan lagi ke kertas yang dia pegang.  “David Bagaskara, S.E, MBA.” Bibir tipis itu tidak terlihat bergerak, tetapi memperdengarkan gumaman.

Bola mata Freya kembali bergulir ke bagian berikutnya dan mendapati riwayat pendidikan serta pengalaman kerja. Dia menelan ludah kasar. Matanya menyipit dan mengerling ke arah David. Dia berpikir, bagaimana bisa laki-laki dengan prestasi gemilang itu hanya menghabiskan waktu duduk-duduk di serambi bar. Lagipula, untuk apa dia melamar ke hotel yang mati segan, hidup tak mau?

Namun, Freya tidak mau memusingkannya. Dia hanya menghela napas, sambil memasukkan kertas itu ke dalam amplop cokelat, dan menyodorkan kembali amplop itu. “Mestinya kamu tahu alur melamar pekerjaan. Berkas ini seharusnya dikirimkan ke bagian HRD.”

“Kalau kenal top manajernya, kenapa harus susah-susah berputar? Pangkas saja langsung jalan yang berliku.” David mengangkat-angkat alis dengan senyum yang lebar memperlihatkan lesung pipi yang menggemaskan.

Freya mendengkus. Ia meraih tas dan goodie bagnya. “Sori. Tapi aku nggak suka sesuatu yang instan. Sesuatu yang instan itu tidak menyehatkan, dan aku nggak mau hotel ini semakin terpuruk!”

Kursi yang bergeser saat Freya berdiri berderik keras. Dia mencangklong tasnya dan menenteng tas kecil lalu meninggalkan David yang melongo sendiri. Sepertinya memang pilihan buruk menghampiri lelaki itu di sini. Apalagi saat tahu dia sepertinya sengaja mendekatinya karena posisinya sebagai pemimpin tertinggi D’Amore sehingga ingin mengambil jalan pintas. 
Sungguh, Freya tidak suka cara kotor seperti itu walau pun dia tahu kapasitas David yang sangat berkompeten bila melihat dari curriculum vitaenya. Namun, Freya tidak ingin membiarkan dirinya terombang-ambing karena berdekatan dengan David, sehingga ia memilih untuk tidak menerima lelaki itu bekerja di sini.

Freya masih merutuk penuh penyesalan atas pilihannya saat dia sampai di parkiran. Namun, saat dia menangkap sesuatu yang aneh di ban mobil depan bagian kiri, umpatan kasar terlontar dari mulutnya.

“Jan***! Sial banget sih!” Freya menendang ban yang kempes itu. Dia menggigit sudut bibir sambil menatap nanar ban yang tak ada udara.

Namun, belum sempat Freya merogoh gawainya di dalam tas, suara David kembali menyapa pendengarannya.

“Ban kempes jangan dilihatin aja, Bu! Mana kuncinya? Biar saya bantu gantiin ban serep.” Telapak tangan David yang menengadah. Senyum cerah itu kembali terbit seolah hendak menerangi ruang yang sedikit suram.

“Nggak usah! Saya mau minta---”

“Jangan menolak pertolongan Tuhan. Tahu nggak cerita seseroang kebanjiran yang menolak sampan karena menunggu pertolongan Tuhan? Padahal Tuhanlah yang mengirim samapan untuk menolongnya.” Posisi David tak berubah. Dia masih beridir di depan Freya dengan penuh percaya diri.

Freya mendengkus. Dia tahu cerita itu entah dari mana dulu dia mendengar atau membacanya. “Aku nggak sebodoh itu tahu!”

“Makanya kalau nggak bodoh, terima saja bantuan dariku.” 

Dengan berat hati, Freya mengulurkan kunci yang dia ambil dari tas. Setelah menekan tanda gembok terbuka, derik halus terdengar, pertanda kunci telah terbuka. Dia meletakkan tasnya dahulu di dalam mobil lalu membuka bagasi belakang mobil sedan keluaran terbaru untuk mengeluarkan peralatan yang akan digunakan untuk mengganti ban serep.

“Ini dongkraknya.” Wajah kusut Freya bersemburat merah. Dia membuang muka saat mengulurkan peralatan itu.

David menerima dengan kuluman senyum. “Tunggu ya, aku bakal cepet bongkarnya.”

Paralel (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang