Yogyakarta ....
Kota yang ingin Freya Weningsari hindari. Namun, gadis itu harus mau menetap karena dia mendapat misi menjadi pemimpin di d'Amore hotel. Di hotel itu, dia bertemu dan jatuh cinta dengan David Bagaskara. Mereka saling bersaing ... tap...
Freya akhirnya memanggil Binta, manajer keuangan dan Pak Danuaji, manajer dari departemen engineering. Dua orang itu sudah duduk di depannya sementara Freya masih memeriksa beberapa halaman terakhir berkas yang lain.
Begitu mereka duduk di depannya, Freya mendongak lalu melepas kacamatanya sejenak. Kedua tangannya yang bersedekap ditumpukan di atas meja, tepat menyentuh ujung bawah kertas pengajuan biaya untuk pest control yang harus disetujui Freya.
Freya memandang Pak Danuaji dan Binta bergantian lalu menunduk menatap deretan angka yang menjadi total pengeluaran yang harus dicairkan. Dia berdeham, sebelum memulai perbincangan berat siang itu.
“Jadi, saya sebenarnya saya ingin mengikuti prosedur dengan memanggil asisten general manajer dulu.” Freya mengembuskan napas kesal dengan Pak Mardi yang tiba-tiba menghilang. Sekarang menyebut nama laki-laki sok perlente, tapi justru dandanannya seperti lepat kebanyakan isi.
Pak Danuaji dan Binta duduk diam memperhatikan atasan mereka memberikan ucapan pembuka. Keheningan menguasai mereka sesaat, kala Freya mengambil satu bendel berkas dan membaliknya. Ia menyodorkan berkas itu ke arah mereka agar bawahannya bisa membaca.
Pak Danuaji yang lebih dulu mengenal berkas itu karena matanya langsung menangkap nama lengkapnya beserta gelar yang sangat ia banggakan. Danuaji, S.T.
Lelaki itu langsung meraih berkas itu dan memeriksanya dengan kerutan alis yang tercetak di dahi. “Ini dari bagian saya, Bu? Ada yang salah dengan pengajuan dana ini? Berkas dokumen penawarannya juga sudah saya sertakan.”
“Kenapa besaran kontrak dengan pihak ketiga itu banyak sekali? Anda kan tahu kondisi keuangan kita sedang tidak baik.” Tatapan tajam Freya tertuju pada Pak Danuaji yang masih membaca berkas yang ia ajukan.
“Pest control adalah salah satu kegiatan wajib yang harus kita lakukan, Bu. Apalagi hotel ini ingin menaikkan rating. Jangan sampai hama seperti tikus mengganggu tamu sehingga mereka akan memberikan rating rendah pada hotel ini, Bu.” Pak Danuaji meletakkan berkas itu di meja, dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil mendorong bingkai tengah kacamatanya ke pangkal hidung.
“Iya. Saya sangat paham itu! Tapi dengan kondisi kita yang pailit, kita harus mengencangkan ikat pinggang!” Freya membalas tatapan Pak Danuaji dengan mata menyipit.
Pak Danuaji terlihat tidak menyetujui usul Freya. Namun saat ia akan membuka mulut, suara Freya lebih dulu menggema di ruangan.
“Hentikan perpanjangan kontrak dengan pihak ketiga. Rekrut tenaga engineer baru dengan sistem kontrak berkala! Yang jelas, dia harus punya kemampuan yang mumpuni di bidang teknis.”
“Tapi, Bu---” Pak Danuaji dan Binta sama-sama menyanggah.
Tapi Freya mengacungkan jari telunjuk lentiknya, dan menggerakkan ke kanan dan kiri. “Ini kebijakan general manajer dengan menyelamatkan keuangan. Saya harap Bapak Danu dan Mbak Binta mengerti.”
*** Sore ini seperti biasa Freya sudah duduk di salah satu sudut area luar bar hotel. Kali ini ia tdak melihat lelaki yang beberapa hari ini selalu duduk di tempat yang sama. Memang ia berpikir, lebih baik tidak bertemu lelaki itu atau ia yang akan menyingkir.
Sore ini ia sudah memesan Sunset Cocktail. Sebuah cocktail beralkohol yang sangat ia sukai karena mengandung jus jeruk dan gin. Sebenarnya ia tidak ingin mabuk-mabukkan. Tetapi, menyesap cocktail alkohol saat malam menjelang, bisa mengurangi kepenatan yang dia rasakan setelah sepanjang hari bekerja.
Entah sejak kapan, Freya sering meminum minuman haram itu. Temannya adalah alkohol kala ia penat, mengingat Freya tidak mempunyai teman untuk berbagi. Walau sekarang ada Ibu yang inggal bersamanya, Freya hampir tidak pernah bercerita tentang beban pekerjaannya menjadi general manajer. Dia hanya tidak ingin membebani Ibu.
Memang sejak tragedi itu terjadi, Freya mulai dijauhi teman-temannya. Selain itu ia juga dirundung dan dianggap sebagai anak penjahat yang tidak pantas bergabung dengan mereka. Walau sudah diangkat anak oleh Mama Rani setelah ia melarikan diri dari rumah, tetap saja Freya tidak bisa bergaul bebas seperti dulu kala. Ia takut kelepasan kalau dia anak Andini, seorang pembunuh yang dijatuhi hukuman dua puluh tahun masa kurungan.
Freya menghela napas panjang, bila teringat kembali kenangan lamanya yang ingin ia hapus dari hidupnya. Dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, karena menyadari dia sudah menunggu pesanan cocktailnya selama lima belas menit.
Saat Freya hendak bangkit dari duduk untuk bertanya pada bartender, gerakannya terhenti karena segelas cocktail warna oranye tersaji di depannya. Senyumnya merekah karena minuman itu sangat cantik penyajiannya. Warnanya serupa semburat jingga langit yang menaunginya sore ini. Minuman itu diberi hiasan irisan jeruk di bibir gelas dan sehelai daun mint yang mengapung. Membayangkan segarnya rasa cairan mengaliri tenggorokannya, membuat kelenjar ludah Freya terangsang.
“Makasih! Cantik se---”
Ucapan Freya tak berlanjut saat ia mendongak dan mendapati seorang laki-laki yang ingin ia hindari, berdiri di depannya seraya tersenyum hingga matanya menyipit.
💕Dee_ane💕
Freya ayu-ayu tapi galak😪
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.