Selamat malam, Deers! Hari ini kalian bakal ditemani David lagi. Semoag terhibur. Jangan lupa vote n komennya ya.
💕💕💕
"Aku mau bekerja di hotel sekitar sini. Di D'Amore mungkin?"
Jawaban David membuat mata Mama memelotot. Wajah merahnya menguap berganti ekspresi pucat. "D'Amore?" Mama terbata. Lidahnya seolah kelu tak bisa berkata-kata.
David mengangguk. "Aku ingin bekerja di situ. Rating hotelnya memang buruk. Siapa tahu dengan aku bekerja di situ, D'Amore bisa membaik."
"Daripada kamu bekerja di situ. Memikirkan hotel orang lain. Kenapa nggak kerja sama Mama? Apa ya harus Mama gaji kamu? Mama minta kamu pulang, karena selain Mama nggak sesehat dulu, Mama ingin sebelum Mama pergi, homestay ini bisa menjadi sebuah penginapan yang menawarkan kekeluargaan dan keramahan." Mama duduk di sebelah David. Dia meraih tangan putranya dan menepuk tangan kekar yang kokoh.
David menatap Mama dengan sendu. Ia mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Mama yang masih tampak kencang.
"Mama, Mama nggak akan kemana-mana. Mama bakal ada di sampingku. Makanya Mama nggak usah mikir. Rumah ini akan tetap menjadi rumah kita. Dan impian Mama mempunyai hotel pasti akan aku wujudkan." David memandang lurus mata yang dihiasi kerutan halus. "Apa gunanya aku bekerja di Red Moon kalau bukan ingin mewujudkan harapan Mama? Aku harus belajar manajemen perhotelan terlebih dahulu sebelum akhirnya kita bisa mengulangi kejayaan keluarga kita."
Mama mendesah halus. Karakter David yang tegas bila menginginkan sesuatu tak bisa diganggu gugat oleh Mama. "Kamu mau bekerja di mana?" tanya Mama kemudian.
"D'Amore. Ya, D'Amore! Hotel milik Papa yang terpaksa dijual, dan sekarang dimiliki perusahaan perhotelan besar."
Mama menelan ludah kasar. Matanya berkaca seraya meremas kain jarik wiru. "Kenapa harus D'Amore?"
David membaringkan tubuhnya dengan kedua tangan terangkat sebagai bantal, sementara itu kakinya masih menjuntai ke bawah ranjang. "Aku nggak rela D'Amore hancur. Hotel yang dibangun Papa dengan susah itu pasti akan lebih bersinar."
***
David duduk di sebelah nisan besar di sebuah perkuburan di perbukitan. Sebuah foto tertempel di nisan marmer dengan tulisan di bawahnya : Andika Bagaskara.
David meletakkan dupa di depan batu nisan dan berdoa di samping makam. Mata yang terpejam itu terasa panas saat bayangan masa kecilnya yang bahagia berkelibatan. Walau waktu tetap merangkak, dan kehidupan tetap berputar, tetap saja rasa sedih serta kehilangan tak mampu terhapus.
Seandainya Papa masih hidup, ia yakin D'Amore yang berdiri megah di pinggir jalan utama kota Jogjakarta itu tetap akan bersinar di bawah kepemimpinan Andika Bagaskara. Bahkan David membayangkan, ia pasti yang akan menduduki posisi general manajer hotel itu bila semua berjalan lancar. Tapi, semua itu hanya pengandaian. Hidupnya tak lagi sama begitu Papa berpulang. Hotel milik Papa pun perlahan meredup.
Sungguh, David tidak rela setiap kali melihat berita berpindah tangannya hotel D'Amore. Terlebih sekarang, rating hotel itu begitu rendah. Walau masih ada tamu, kemungkinan mereka terpaksa karena sudah tidak mendapatkan lagi penginapan bila musim liburan tiba.
David mengembuskan napas kasar setelah menyudahi doa untuk ketenteraman jiwa Papa. Dia mencengkeram nisan abu untuk meredam gejolak batin yang berkecamuk. Rasanya tak rela apa yang diperjuangkan Papa hancur begitu saja.
"Pa, ini David. Maaf aku baru datang lagi setelah sekian lama. Rasanya Yogya menorehkan kesedihan di hatiku. Apalagi setiap lewat di depan D'Amore …." David mendengkus. Dia menghela napas panjang sembari mendongakkan kepala untuk menahan air mata. Begitu emosinya stabil, ia kembali menunduk menatap foto Papa. "Pa, restui aku. Aku akan melamar ke D'Amore. Akan kukembalikan D'Amore pada tempatnya."
David tersenyum miring. "Ya. D'Amore akan bersinar bila berada di tangan yang tepat!"
💕Dee_ane💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Paralel (Completed)
Chick-LitYogyakarta .... Kota yang ingin Freya Weningsari hindari. Namun, gadis itu harus mau menetap karena dia mendapat misi menjadi pemimpin di d'Amore hotel. Di hotel itu, dia bertemu dan jatuh cinta dengan David Bagaskara. Mereka saling bersaing ... tap...
