28. Sok Misterius

424 123 7
                                        

David Bagaskara datang lagi. Jangan lupa vote n komennya ya, Deers. Happy reading!

💖💖💖

David tersenyum lebar sambil menapakkan kaki keluar dari bar. Awalnya, dia berpikir bahwa Freya adalah gadis garang yang tidak bersahabat. Namun, ternyata, setelah berinteraksi sejenak dengan Freya, gadis itu sangat lugu bila berhubungan dengan lawan jenis. Penampilannya yang terlihat keras itu seolah seperti cangkang yang melindungi hatinya yang lembut. 

Sepanjang perjalanan David masih saja mengurai senyum. Bahkan ia sampai menggigit bibirnya untuk menahan tawa kecil karena merasa sangat senang saat mendapati Freya mengharapkan kehadiran. Apalagi melihat setiap reaksi Freya yang malu-malu, entah kenapa ekspresi itu mudah sekali terekam di otaknya. Karena pertemuan sore di serambi itu, membuat David lebih bersemangat lagi untuk melamar pekerjaan di D'Amore. 

Sesampainya di rumah, David bergegas mandi untuk membasuh debu yang menempel di badannya. Seharian ini dia keluar rumah sejak pagi hingga sore. Ada beberapa pertemuan dengan seseorang yang penting, hingga membuatnya tak sabar menanti datangnya hari esok. 

Hawa Yogyakarta yang membuat gerah, mampu dihapus oleh sejuknya air yang mengguyur tubuh. Namun, David tak mau berlama-lama karena perutnya sudah keroncongan. Beruntung, begitu keluar dari kamar mandi, Mama sedang menyiapkan makan malam. 

"Masak apa, Ma?" David yang masih berbalut handuk dan bertelanjang dada menghampiri Mama. Matanya membulat saat melihat sajian sayur bobor daun adas, ikan asin, tahu tempe goreng, dan sambal. Setoples kerupuk juga sudah ada di sudut meja untuk memeriahkan makan malam kali ini.

"Wah, aromanya harum banget!" David mengambil sepotong tahu dan menggigitnya.

"Sana pakai baju dulu! Kebiasaan dari dulu.
, kalau keluar kamar mandi nggak pakai baju!" Mama kembali berjalan ke dapur sambil menepuk pundak kekarnya.

David mengunyah tahunya sambil menatap Mama. Kirana Wedasari selalu memperhatikan asupan makanan yang bergizi sejak ia kecil. Walau sajiannya sederhana, tetap saja mampu memanjakan lidah David. Ia bahkan sering merindukan masakan Mama saat masih berada di Jepang.

Tak ingin mendengar omelan Mama untuk yang kedua kali, David pun masuk ke kamarnya untuk memakai baju. Tak lama kemudian, suara Mama kembali berkumandang, memanggilnya makan.

Setelah mengenakan kaus merah, boxer short pendek dan sarung untuk menutupi kaki berbulunya, David keluar dari kamar. Rambutnya masih setengah basah hanya disisir dengan jari sewaktu ia berjalan menuju ruang makan.

"Ayo, maem. Seharian mblayang wae, sampai nggak makan di rumah." Mama mengambilkan piring buat David, lalu mengisinya dengan dua entong nasi. Wanita itu menggeleng-geleng kepala karena anaknya selalu menyukai memakai sarung bila di rumah sejak SMA.

David menerima piring yang disodorkan Mama. Melihat porsi nasi yang diberikan Mama di dalam piring, David yang kelaparan merasa kurang, karena ia yakin bisa menghabiskan nasi dalam rice cooker. 

Seolah mengerti pikiran David, Mama berkata, "Habisin dulu. Nanti bisa nambah."

Mama kemudian duduk di depan David, sambil memperhatikan putranya mengambil sayur dan lauk. Dia tersenyum mendapati David yang menyantap makanannya dengan lahap.

"Mama nggak makan?" tanya David setelah menggigit kerupuk keriting putih. Perpaduan sayur bobor, sambel, dan ikan asin mampu memanjakan lidah David.

"Udah tadi."

David mengangguk-angguk. Mulutnya sudah penuh makanan, tapi matanya menatap wajah pucat Mama. "Ma, kapan kontrol ke dokter? Mama kan nggak boleh terlalu lelah sejak serangan jantung pertama itu."

Mama tersenyum. Dia mengalihkan pandangannya ke arah serbet kotak yang terlipat di atas meja. Jari-jarinya mempermainkan sudut serbet. "Makanya itu Mama pengin kamu pulang. Kalau kata orang Jawa, 'makan nggak makan asal kumpul'."

Desahan keras terlontar dari mulutnya. "Lagian Mama pengin kamu meneruskan—"

"Ma, aku sudah putuskan mau ke D'Amore." David menyela ucapan Mama. Sendok yang digenggamnya memotong tahu yang ditusuk dengan garpu. 

"Mas …."

"Ma, please." Gerakan tangannya memasukkan tahu ke dalam mulut urung ia lakukan. Tangan kirinya yang terangkat kembali turun. "Ada hal yang perlu aku lakuin di sana."

"Opo? Di sini juga banyak yang perlu kamu lakukan." Kini Mama menatap erat wajah putranya yang senyumnya menduplikasi sang suami.

"Rahasia. Aku mau kasih kejutan sama Mama." David melahap kembali tahunya dan menyuapkan nasi dengan daun adas.

Mama mengernyit. Raut penasaran tergambar di wajah. Namun, David justru mengulum senyum sambil melanjutkan kunyahannya.

"Opo to, Mas? Kok misterius?" Mama menyipitkan mata. Badannya sedikit dicondongkan ke atas meja, sementara tangannya menumpu di atas meja.

"Nanti, Ma. Bila saatnya tiba, aku pasti cerita. Ini juga masih penjajakan." David mengusap keringat tipis di kening dengan telapak tangannya. Rasa pedas sudah mendominasi mulut hingga bibirnya memerah.

"Penjajakan?"

David mengangguk sembari meneguk air putih dingin yang sudah disiapkan Mama.

"Kamu ndeketin cewek di sana?" tebak Mama yang semakin didera rasa penasaran.

Namun, David hanya tersenyum saja lalu melanjutkan menghabiskan sisa makanannya. 

💕Dee_ane💕

Paralel (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang