Hula, Deers! Freya dan David datang lagi. Semoga sehat😍 karena daku lagi ngedrop. Jangan lupa jejak cintanya ya.
💕💕💕
"Ibu nggak pinter manajemen. Tapi, yang jelas, sewaktu dipecat dulu, Ibu sakit hati. Dua kali kesalahan, langsung dipecat tanpa peringatan. Padahal selama bertahun-tahun, Ibu mengabdikan diri untuk hotel itu. Hotel yang kini bernama D'Amore." Ibu mengembuskan napas panjang.
"Karena pemecatan Ibu, Freya merasa bersalah dan sakit hati. Kalau Fre nggak sakit, pasti Ibu nggak sepanik itu hingga nggak sempat izin di saat ada event penting." Mata Freya menyorotkan kesenduan. Walau tidak ingin menangis tetap saja bila mengingat masa itu, hati Freya menjadi pedih.
Keduanya bungkam, hingga keheningan menyelimuti. Semenit kemudian, Freya menoleh dan menarik napas dalam-dalam.
"Apa bener Freya kutukan seperti yang dibilang …." Lidah Freya kelu. Pita suaranya tak mampu menggetarkan panggilan 'Ayah'. Setelah kejadian itu, semua kebahagiaan dalam hidup Freya seolah terenggut.
"Freya … seorang anak itu adalah berkat. Ibu bersyukur memiliki kamu. Begitu juga … Ayah."
Freya mendengkus. Dia tak paham dengan jalan pikiran Ibu yang selalu membela laki-laki yang sering lupa pulang. Namun, bukannya membawa rejeki, Ayah justru membawa utang yang harus dilunasi Ibu. Parahnya belum lama Ibu dipenjara, Ayah menikahi wanita yang Freya tahu adalah sahabat Ibu.
Bukannya nyaman, hatinya justru semakin kusut saat Ibu membicarakan laki-laki yang kini entah di mana rimbanya. Dia menyeruput habis susunya dan memilih untuk mengajak Ibu tidur.
***
"Nduk, Ibu bawakan bekal sarapan." Ibu menutup tempat bekal dengan tergesa saat melihat Freya keluar dari kamar.
Seperti biasa pada pukul tujuh pagi, Freya sudah siap dengan penampilan terbaiknya. Rok pensil warna cokelat tua menjadi pilihannya hari itu karena tidak ingin mengulangi kesalahan sebelumnya.
"Ibu, cukup buatin Fre smoothie aja. Ibu tahu kan Freya nggak sarapan terlalu awal." Freya duduk di salah satu kursi di ruang makan. Dia meraih gelas tinggi yang berisi jeruk, wortel, mangga dan yoghurt plain yang sudah dihaluskan.
“Kamu itu juga butuh protein. Mosok sarapanmu buah dan sayur saja. Kamu udah langsing, nggak perlu diet! Ibu khawatir kamu sakit, karena kurang gizi dan kurang istirahat akibat kebanyakan kerja.” Ibu kini sibuk menyiapkan infused water yang sudah dibuatnya semalam. Tangan yang bekerja tidak menghalangi mulutnya terus menerus memberi ceramah.
Freya sudah terbiasa dengan kuliah pagi tentang makanan bergizi. Pekerjaan Ibu sebagai chef sewaktu muda dulu—sebelum bertemu lelaki itu, dan sebelum peristiwa nahas terjadi—menjadikan Ibu merasa ahli memberi nasihat tentang asupan gizi yang baik untuk Freya.
Sementara itu, Freya melirik ke arah Ibu walau pandangannya terhalang oleh gelas yang sedang ia teguk isinya. Begitu menghabiskan Tropical smoothie–nya, Freya menarik tisu dari atas nakas dan mengelap bibir atas yang sudah berpoles lipstik warna oranye. Tak ingin menghabiskan waktu, Freya lalu bangkit dan menghampiri Ibu.
“Ibu, anakmu ini sehat. Ibu udah memberikan makanan bergizi buat Freya selama Freya masih kecil. Freya tidak ingin Ibu kerepotan di pagi hari.” Freya memeluk Ibunya dari belakang. Kepalanya menumpu di bahu sembari memperhatikan Ibu mengelap tumbler yang basah saat menuang infused water. Bersama Ibu, dia seperti kembali ke masa sewaktu SD. Waktu paling bahagia, di mana dia akan membawa bekal masakan Ibu ke sekolah. Teman-temannya akan iri karena Freya selalu membawa bekal seperti bento dalam film kartun Jepang.
Ibu mendengkus. "Ibu nggak pernah merasa repot. Asal kamu dan ayahmu bisa makan—"
Freya melepas pelukannya. Dia langsung berbalik untuk mengambil termos bekal. Bila sudah mengungkit tentang Ayah lagi, entah kenapa hati Freya terasa nyeri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paralel (Completed)
ChickLitYogyakarta .... Kota yang ingin Freya Weningsari hindari. Namun, gadis itu harus mau menetap karena dia mendapat misi menjadi pemimpin di d'Amore hotel. Di hotel itu, dia bertemu dan jatuh cinta dengan David Bagaskara. Mereka saling bersaing ... tap...
