Ceklek
Dinar membuka gagang pintu perlahan dan kini di depannya sudah berdiri empat orang pria dengan tatapan menyelidik dan baju yang mereka pakai menunjukan bahwa mereka satu kelompok.
"Permisi Bu,maaf mengganggu waktunya sebentar.Apakah Ibu pernah melihat beliau?"pandangan Dinar beralih pada foto yang di tunjukkan tamu yang tengah menatap dalam padanya.
Deg
Iya benar tebakan kalian orang-orang itu tengah mencari tamu yang sudah pergi beberapa jam yang lalu,dan karena Dinar tidak ingin memiliki masalah lain maka dengan cepat dia menggelengkan kepala.
"Tidak pernah."Tegas Dinar dengan suara lantang,padahal di hatinya kini dia tengah menutupi kegugupannya."Coba ingat-ingat lagi Bu,barangkali Ibu lupa."Suara pria itu setengah memaksa.
Dan yang membuat Dinar harus lebih kuat menyembunyikan ketakutannya yaitu saat ketiga pria lain nya yang tadi diam kini mulai bergerak menyebar ke segala arah.
Rahang pria tadi mengeras dan tatapannya semakin dalam."Siapa Mih?"
Tiba-tiba Tegar sudah berdiri di balik tubuh Dinar sambil menyebutkan sedikit kepalanya menatap tamu yang masih diam di hadapan Ibunya.
"Bukan siapa-siapa,"ucap Dinar sedikit menoleh kepada anaknya.Air mata dan mata sembab Tegar masih belum mereda karena kepergian tamu kesayangannya.
Keadaan itu secepatnya di gunakan oleh Dinar untuk meyakinkan ucapannya pada pria di hadapannya."Tolong jangan membuat anak saya ketakutan!"
Kedua alis pria itu menyatu dan hembusan kasar napasnya bisa terlihat jelas dari wajah tegas pria itu.
Ketiga pria yang tadi berkeliling di sekitar rumah Dinar kini sudah kembali tepat di belakang tubuh pria yang berbincang dengan Dinar
"Aman Pak."ucap salah satu dari mereka.
Orang yang di ajak bicara hanya sedikit melirik kepada orang yang tadi melapor."Baiklah,maaf sudah mengganggu waktu anda Bu,bila ternyata anda mengingat sesuatu atau melihat orang yang saya cari tadi,tolong segera hubungi saya di no ini."
Sebuah kartu nama di sodorkannya dan cepat Dinar mengambil sambil mengangguk.Semua dia lakukan agar ke empat tamunya itu cepat pergi dari rumah ya.
Berhasil,karena setelah itu semua tamu yang memiliki wajah menyeramkan itu benar-benar pergi tanpa bicara lagi.
Dinar segera menutup pintu dan menggenggam tangan Tegar lalu membawanya ke dalam kamar.Lemas,itu lah tengah dia rasakan.
"Apakah mereka mencari Paman?"pertanyaan Tegar membuat Dinar mengangguk lalu menarik napas panjang.
"Apakah Paman sekarang dalam bahaya?"mata Tegar kini kembali mengeluarkan air mata.Dinar menyentuh rambut Tegar dan mengusap perlahan.
"Mamih tidak tidak tau tapi mereka sepetinya kenal dekat dengan Tuan Ganesa."kemudian Dinar mengusap air mata yang membanjiri pipi Tegar.
"Paman bilang kalau sudah menyelesaikan pekerjaannya,dia akan sering mengunjungi kita di sini Mih."Rengek Tegar dengan suara parau.
Dinar mengusap lembut punggung Tegar yang masih bergetar karena tangisannya.'Kebanyakan manusia tidak akan memenuhi janjinya dan berhenti bersilaturahmi bila tidak ada kepentingan,semoga kamu tidak.'Ucapnya dalam hati.
Yang Dinar takutkan benar terjadi,Tegar akan sangat terpukul dengan kepergian Ganesa karena selama ini anaknya itu sangat sulit beradaptasi dengan orang lain.Namun dengan Ganesa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Semu
Literatura FemininaBertahan dalam pelarian bukanlah hal mudah,apalagi harus membawa bayi yang baru seminggu dilahirkan. Suami yang seharusnya menjaga dan menyayangi hanya tinggal impian saja.Dinar wanita 27 tahun yang berparas ayu itu kini telah menjelma menjadi wanit...
