Tiba-tiba pintu kamar yang Tegar tempati terbuka dan wajahnya muncul dengan tatapan penuh tanya pada pasangan suami-istri itu.
"Mamih,Paman...belum tidur?apa yang kalian lakukan dengan berdiri disana?"Dinar berusaha menutupi keterkejutannya.
"Mamih sedang memastikan apa ada yang harus di bereskan sebelum tidur."Jawabnya sambil menepuk-nepuk sandaran kursi yang ada di dekatnya seolah ada debu disana.
"Lalu Paman kenapa ikut berdiri disana?"Tegar berpikir mungkin Ganesa hendak membantu Ibunya atau sekedar menemani.Ganesa hendak menjawab namun Tegar segera menghampirinya."Mamih sudah terbiasa begitu dan tidak akan tidur nyenyak bila belum merapikan rumah."Ganesa mengangguk dan mengusap belakang lehernya.
Dinar segera mendekat pada Tegar."Lalu kamu sendiri kenapa belum tidur?apa berubah pikiran dan ingin Mamih temani?"
"Tidak usah Mih,aku cuma mau ambil minum saja."Jelas Tegar dan langsung menuju ke dapur.Dinar mengikuti Tegar dan hendak membantunya.
"Aku bisa sendiri kok Mih,tadi kan sudah di beri tau letak barang-barang di sini.Mamih istirahat saja dan jangan terlalu capek,lagipula aku lihat semuanya sudah di rapikan oleh asisten rumah tangga."
Dinar menarik napas panjang dan dia semakin tau tak ada cara lain lagi untuk membuat Tegar mengijinkan dia tidur bersamanya.
"Iya sudah,kamu jangan lupa baca doa sebelum tidurnya ya."Ucap Dinar lembut dan menoleh ke arah tadi Ganesa berdiri dan ternyata pria itu sudah tidak ada di sana.
"Siap,selamat tidur ya Mih."
Dinar mengangguk dan tampak ragu-ragu menuju ke kamar utama."Paman mana?"lanjut Tegar membuat Dinar celingukan dan tersenyum samar.
"Biasanya diruang kerja dan akan tidur bila sudah menyelesaikan pekerjaannya.Kadang sampai tertidur disana."Jawabnya asal seolah memahami sepenuhnya kebiasaan pria yang sudah jadi suaminya itu.
"Selalu seperti ini?"kedua alis Tegar tertaut sempurna.
Dinar mengangguk dan tanpa di duga sambil membawa gelas yang berisi air di tangannya Tegar langsung menuju ke tempat Ganesa berada.
Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu,Ganesa mempersilahkannya untuk masuk dan menatap lembut anak laki-laki itu dan tersenyum kecil.
"Kenapa belum tidur?apakah kamu ingin Paman ceritakan dongeng seperti dulu?"
Tegar meletakan gelas di atas meja dan dia kini berdiri di samping Ganesa."Setelah Paman pergi aku sudah tidak suka mendengar cerita dongeng lagi."
"Apakah kamu tidak minta Mamihmu untuk membacakan buku-buku dongeng itu?"Tegar menggeleng.
"Aku hanya tidak ingin terlalu bergantung pada buku itu lagi karena aku sudah besar."Jelasnya dengan tatapan tegas.
Ganesa memberi jempol dan menepuk bahu Tegar."Rupanya selain kamu bertambah besar dan bijak sana,kamu juga mandiri."Tegar tersenyum dan sedikit tersipu.
"Paman apakah aku boleh menanyakan sesuatu?"ucapnya ragu.Ganesa mengangguk dan mempersilahkan Tegar untu bertanya apapun yang ingin dia ketahui.
"Apakah Paman tidak bisa menyelesaikan pekerjaan di kantor? sampai harus selalu membawanya ke rumah dan menggangu waktu istirahat?"
Ganesa mengusap pelan kepala Tegar dan memandang penuh arti."Apakah kamu sedang mengkhawatirkan Paman?"
"Tentu saja aku khawatir dan tak ingin Paman jatuh sakit karena sampai sekarang aku masih ingat bagaimana perjuangan Paman untuk bisa sembuh seperti sekarang."
Tanpa basa-basi,Ganesa merapikan beberapa lembar dokumen yang berada di meja kerjanya.
"Baiklah untuk malam ini Paman akan tidur cepat dan akan lebih disiplin mengatur waktu."
Tegar tersenyum puas dan merekapun meniggalkan ruangan itu.
Tapi sesampainya di ruang tamu dia melihat Ibunya mondar mandir di depan pintu kamar utama."Paman lihat sendiri kan,dari dulu Mamih itu penakut sampai-sampai tidak berani masuk kamar sendirian."Jelasnya dengan nada rendah
"Paman juga tau,makanya tadi memang tidak berniat lama-lama di sana."
Tegar lega mendengar penuturan Ganesa dan dia segera berjalan ke kamarnya.Sebelum menutup pintu dia memastikan Dinar dan Ganesa masuk kamar terlebih dahulu.
"Bagaimana ini?"ucap Dinar dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh Ganesa,wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegugupan yang sejak tadi dirasakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semu
ChickLitBertahan dalam pelarian bukanlah hal mudah,apalagi harus membawa bayi yang baru seminggu dilahirkan. Suami yang seharusnya menjaga dan menyayangi hanya tinggal impian saja.Dinar wanita 27 tahun yang berparas ayu itu kini telah menjelma menjadi wanit...
