Bab Empatpuluh Tiga

3.4K 270 3
                                        

Dua manusia yang memiliki hubungan mulia itu terpaku di tempatnya masing-masing.Perlahan kaki mereka sama-sama melangkah hingga sepasang kaki yang baru datang itu berlari menghampiri Dinar."Mamih...ini beneran Mamihkan??"

Mata Dinar yang sudah basah oleh air mata tak bisa menjawab apa-apa,hanya anggukan cepat yang dia lakukan sambil merentangkan kedua tangannya.

"Tentu saja ini Mamih mu Nak."Akhirnya Dinar menjawab Tegar dengan suka cita,mereka berpelukan seolah tak ingin saling melepaskan.

Yuni yang turut melihat peristiwa itu,tak bisa menahan haru sampai sebutir cairan bening keluar dari kedua matanya.

Dinar terus mengusap rambut anak lelakinya dengan penuh kasih."Apa kabar kamu Nak?apa kamu baik-baik saja?"suara Dinar terdengar bergetar menahan luapan rindunya selama ini.

"Bagaimana aku baik-baik saja bila jauh dari Mamih,"jawab anak lelaki itu polos.Dinar mengeratkan pelukannya dan sudah tak bisa menahan tangisannya setelah mendengar ungkapan jujur Tegar.

"Tapi semua harus aku lakukan agar mereka berhenti mengganggu kita."Lanjutnya dengan suara parau.

"Apa Mamih baik-baik saja selama aku pergi?"pertanyaan yang sama di ucapakan oleh anak lelaki itu penuh keraguan,Dinar mengacak rambut Tegar gemas.

"Menurut kamu sendiri bagaimana keadaan Mamih setelah kejadian itu?"Dinar melonggarkan pelukannya lalu menatap dalam kedua mata Tegar.

Air mata yang membasahi seluruh wajah tegar perlahan di hapus oleh tangan Dinar dan sang anak kini tengah membalas tatapan lembut dari Ibunya.Namun karena sesegukan,dia jadi terbata-bata menjawab pertanyaan Dinar."A aku tau Ma Mamih pasti jauh menderita setelah peristiwa i itu."

Dinar tak sanggup melanjutkan ucapannya,dia kembali memeluk anak lelaki itu dan menciumi wajahnya.

Prok prok prok

Suara tepuk tangan terdengar dari balik meja,Desi tengah tertawa sinis dengan gayanya yang angkuh."Wah wah ternyata ada manusia yang tidak bisa berubah walau waktu telah banyak memberi pelajaran dalam kehidupannya."Cibiran Desi penuh kebencian.

"Dari dulu sampai sekarang yang namanya maling ya akan tetap maling.Ini rumah keluarga Gunawan Prakasa,siapa saja yang menjadi tamu harus menjaga kesopanan dan ijin pemilik rumah bila melakukan sesuatu."Sarkas Desi dengan tatapan nyalang.

"Dan kamu cepat masuk ke dalam!sebelum menanggung malu karena harus mengetahui wanita yang kau sebut Ibu itu tidak memiliki asal usul yang jelas."

Tiba-tiba Dinar berdiri dan berlari menyerang Desi namun baru saja tangannya hendak menyentuh baju Nyonya rumah itu,tangan Yuni sudah menarik tubuh Dinar hingga dia hanya bisa meronta-ronta.

Plak

Rupanya kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Desi,sebuah tamparan telak mendarat di pipi kiri Dinar.Melihat itu Yuni sengaja melonggarkan cengkeramannya di perut Dinar hingga wanita itu bisa meraih rambut yang sudah di tata seapik mungkin oleh pemiliknya.

"Kurang ajar,apa yang kamu lakukan dengan rambutku?"teriak Desi sambil menahan rambutnya dari cengkraman tangan Dinar.

"Penjaga,apa kalian buta?cepat lepaskan tangan wanita gila ini dari rambutku dan segera usir keluar dari rumah ini!"titah Desi terdengar menggema di ruangan itu.Tegar yang tadi terpaku di tempatnya,segera maju untuk membantu Ibunya yang sudah kalap.

Semua pelayan dan penjaga rumah datang untuk melerai dan segera mencekal tangan Dinar yang terus meronta,tidak teriak namun wajah dan matanya merah sembab oleh air mata dan keringat.

Yuni dan Tegar pun bernasib sama,tangan mereka di cekal oleh para pekerja di sana.Teriakan Tegar terus terdengar memanggil Ibunya sedang Yuni dalam keterbatasan gerak hanya bisa diam namun wajahnya tidak dalam baik-baik saja.

Suara langkah besar terdengar jelas dan cepat dari lantai dua,sebelum mereka menyadari siapa yang datang sebuah tinju dengan kekuatan maksimal mendarat tepat di wajah pria tegap bertubuh besar yang mencekal erat tangan Dinar.

SemuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang