"Tumben banget muter lagu galau. Galau lagi, Mbak?"
Gigi yang tengah menatap laptop, hanya melirik adiknya sekilas. Sedangkan Gaga memilih mengambil salah satu buku yang ada di rak. Setelah itu, Gaga langsung duduk di seberang Gigi. Saat ini mereka tengah berada di ruang kerja dan juga ruang baca keluarga.
"Ihaehandago haji ma, mianhadago haji ma." Gigi tiba-tiba menyenandungkan lagu yang tengah ia putar. Hal itu membuat Gaga menatap sang kakak penuh selidik.
"Eh galau beneran ternyata."
Gigi hanya berdecak. Lalu memilih fokus pada pekerjaannya daripada menanggapi sang adik.
"Coba lo ngomong kenapa galau? Mumpung gue di rumah."
"Memangnya mau kemana?"
"Besok gue mau ke Jerman."
"Ngapain ke Jerman?"
"Cari duit dong, Mbak. Ya kali ke Jerman main dakon."
"Tahan ya Nandung punya cowok modelan elo," cibir Gigi langsung.
Gaga seketika tersenyum lebar dan mencondongkan diri ke arah sang kakak. "Tahan juga mas Raky punya tunangan kayak elo."
"Emangnya gue gimana? Harusnya dia yang bersyukur."
Tersirat nada kesal dari ucapan Gigi barusan. Hal itu langsung membuat Gaga menjentikkan jarinya, seakan baru saja mendapatkan ilham yang besar.
"Nah bener kalian berantem. Kenapa? Bukannya mas Raky mau balik, ya?"
Gigi langsung menatap Gaga dengan muka jutek. "Menurut lo?"
"Kok menurut gue, sih? Ya nggak tahu, lah. Kenapa-kenapa? Kayak anak kecil ngambekan."
"Mirror, please," sahut Gigi dengan mendengus kesal.
Gaga hanya tertawa pelan. Lalu lelaki itu memilih memainkan gawainya. Tak lama kemudian, ia tertawa pelan dengan mata fokus menatap gawainya.
"Dah lah. Gue mau tidur. Apa lo mau makan, Mbak?"
"Katanya mau tidur. Dasar aneh, lo." Gigi mencibir tanpa menatap laki-laki itu.
Gaga menyengir. "Kok tiba-tiba gue laper, ya. Mbak, buatin pasta dong."
Gigi langsung menatap Gaga dengan pandangan malas. "Buat sendiri."
"Ayolah, Mbak. Mau apa? Gue beliin, deh."
Gigi yang sudah kembali fokus dengan laptopnya hanya mendengus. Gaga itu berlebihan jika sudah menyangkut keinginannya.
"Tas Dior? Sepatu Gucci? Ayo apa, Mbak? Gue lagi pengen makan pasta buatan lo."
"Ya udah minta buatin Mbak Ut."
"Nggak lah. Beda rasanya. Lebih mantep buatan lo."
"Halah, alasan. Kalau nggak delivery aja sana."
Gaga berdecak pelan dan mendekati Gigi. Bahkan lelaki itu mengambil kursi dan duduk di samping sang kakak.
"Pasta kalau delivery itu nggak enak, Mbak. Ayolah. Gue di Jerman sebulan, loh."
Gigi yang tengah mengetik langsung saja menghentikan aktivitasnya itu. Lalu bola matanya bergerak menatap Gaga yang memasang wajah setengah memelas itu.
"Tumben lama."
Gaga langsung tersenyum lebar. "Makanya, ayo masakin gue sebelum gue berangkat. Rugi loh nggak ada gue di rumah. Nanti nggak ada yang bisa jahilin lo lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaladri
Chick-LitJaladri. Sang Samudra. Samudra itu luas. Tenang dan menghanyutkan. Mempertemukan dua hal yang bertolak belakang layaknya arus Kuroshio dan Oyashio. Namun samudra juga bisa memisahkan, bahkan bisa saja perpisahan itu tak akan pernah ada lagi yang nam...
