11. MANTAN TUNANGAN
***
Sebab terlalu berfokus dengan sketsa di tangannya, Tara sedikit kaget melihat Asistennya berdiri salah tingkah di depan pintu ruangannya.
"Masuk Din...!" Perintah Tara, dengan tatapan aneh yang tak berusaha ia sembunyikan.
"Ada apa?" Tanyanya to the point, begitu Dinda dua langakah lebih dekat dengan dirinya. Tara tidak suka basa-basi.
"He he, i-itu mbak, ada yang mau ketemu sama mbak.."
Kening Tara mengerut. "Suruh masuk aja dong, kenapa kamu malah aneh begitu?"
Mendengar itu, Dinda kembali menggaruk kepalanya salah tingkah. "Tapi, itu.. dia.. Mas Tama mbak yang mau ketemu."
Tepat setelah Dinda mengucapkan itu, hilang sudah raut santai nan tenang yang sejak tadi melekati Tara. Tama? Lagi?
"Se-sebenarnya saya pengen usir mbak. Tapi, nggak berani he he he.."
Tara meringis. Beberapa bulan lalu, Dinda menasihatinya agar meninggalkan Tama saja karena Tama terlalu menggantungkannya. Tapi sekarang, gadis itu malah terlihat salah tingkah dan malu-malu karena membahas Tama. Sekeren itu kah Tama?
"Suruh dia masuk. Saya nggak masalah.."
"Siap mbak!"
Bergegas Dinda keluar dari ruangannya. Dan tak lama setelah itu, sosok jangkung berwajah manis dengan tatapan teduh itu datang. Duduk di kursi yang berseberangan dengan Tara, memancarkan senyum manisnya.
"Terimakasih, sudah mengizinkanku mengganggu waktumu." Ucap Tama tulus.
Tara menggertakan giginya demi menahan gejolak rindu yang selama ini membelenggu. Ia sudah berusaha move on, tapi sepertinya belum berhasil. Hingga menanggapi ucapan Tama saja bibirnya tidak mampu.
Andai saja-,
"Aku ingin bicara serius, apakah tidak masalah jika kita bicara disini?" Mengerti maksud Tama, Tara melirik jam di pergelangan kirinya. Rupanya memang jam makan siang telah tiba.
"Mau keluar?"
Tama mengangguk disertai senyuman dibibirnya.
Tara bangkit. Di ikuti Tama dan keduanya melangkah keluar bersamaan.
"Mbak?.." Dinda kaget bukan main melihat keduanya melangkah bersama seperti masa bertunangan dulu. Otak kecilnya mulai menebak apakah bos nya yang sangat mencintai Tama itu kembali luluh dan-,
"Saya mungkin kembali lagi agak sore, atau bisa jadi nggak ke butik lagi. Telfon aja kalau ada perlu sama saya." Pesan Tara pada Dinda sebelum kembali menyusul langkah Tama, lalu masuk kedalam mobil pria itu.
Dinda menggeleng pelan melihat kepergian keduanya. "Pasangan yang aneh.. Tapi sebenarnya mereka terlihat cocok sekali."
Tara yang begitu cantik nan modis, Tama yang begitu hangat dan elegan. Keduanya seperti pasangan impian yang sempurna di mata manusia.
***
Tara tidak tahu apa maksud Tama mengajaknya ke pantai. Suasana memang sedang sepi, apalagi cuaca sedang cerah-cerahnya. Kalau berniat refresing atau menenangkan diri, orang-orang pasti akan memilih sore hari. Dimana matahari sedikit redup.
Tama mengajaknya duduk di atas kayu besar yang dipotong pendek sengaja di jadikan tempat duduk. Pepohonan disekeliling mereka membuat suasana begitu rindang dan sejuk, rambut Tara sampai berkibaran diterpa angin.
"Tunggu sebentar ya, aku beli minum dulu.." Pamit Tama, lalu beranjak menuju satu-satunya penjual kelapa di tepi pantai itu.
Sejenak, Tara menimbang-nimbang. Apakah ia perlu memberitahu Raka atau tidak? Tapi setelah dipikir-pikir, apapun alasannya sebagai istri ia perlu memberitahu Raka karena ini menyangkut Tama, mantan tunangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SALAH RASA
RomanceRasa cinta bisa membuat dunia kita lebih berwarna. Tapi kalau jatuhnya pada orang yang salah, apakah cinta akan tetap indah? #27 Oktober 2021
