***
Semilir angin pagi dari balkon kamar menerpa kulitnya wajah dan mata yang masih terpejam. Tama yang masih bergelung di atas ranjang pun akhirnya membuka mata secara perlahan, akibat hawa dingin yang kian mengusiknya.
Ia raba sosok yang semalam terlelap disampingnya. Tapi tak ada.
Segera Tama bangkit dan melirik sekitar. "Ra?" Panggilnya pelan. Matanya kembali menelusuri tiap sudut kamar, hingga berhasil menemukannya.
Sosok cantik itu berdiri di balkon, seperti biasanya. Hanya mengenakan dress putih selutut tanpa lengan. Membuat Tama semakin tertarik untuk mendekat.
Di lihatnya jam yang terletak di atas meja, yang kini menunjukkan pukul 6 pagi. Pantas saja cuaca masih begitu dingin. Sebelum menyusul, Tama menarik selimut yang tadi menemaninya di kasur. Membawanya keluar menuju balkon.
"Kamu nggak kedinginan?"
Tara menoleh. Menatap selimut yang kini telah disampirkan Tama dipundaknya. "Dingin.." Jawabnya lirih.
"Nanti, mau kerumah sakit lagi?"
Tara mengangguk kecil. "Iya. Mungkin sekarang Nisa sudah melahirkan. Aku nggak bisa diam disini setelah membuat suaminya celaka. Paling tidak, aku menemaninya disana. Meskipun Nisa tidak mengharapkan kehadiranku."
"Bukan sepenuhnya salah kamu, Ra." Tama mengusap bahu Tara lembut. Ia tahu, saat-saat seperti ini adalah saat yang berat untuk wanita itu. "Aku temani kamu ke rumah sakit, oke?"
Tara menatap suaminya gamang. "Kamu nggak kerja?"
"Aku bosnya, kalau kamu lupa. Aku bisa sesuaikan jadwalku."
Tara sebenarnya masih bimbang, tetapi tidak ada salahnya pula membiarkan Tama ikut. "Anak-anak gimana?"
"Kita titipkan Bunda dulu."
Tara terdiam kembali, menatap Tama begitu dalam. Terkadang, Tara masih belum percaya, laki-laki yang dulu selalu menolaknya kini malah selalu ada untuk membantunya. "Maaf, aku sering repotin kamu."
"Kamu ngomong apa sih, Ra? Hey, kita sudah sepakat mau memulai semuanya dari awal lagi kan? Lagi pula bertanggung jawab atas kamu dan anak-anak adalah kewajibanku."
Tara pernah memimpikan hal ini. Sungguh!
Ia dan Tama hidup bahagia dengan anak-anak yang lucu. Mendidik, menjaga dan menjadi orang tua yang bijaksana seperti Adam dan Hanin.
Harusnya Tara puas kan sekarang? Tapi kenapa dadanya malah sesak sekali?
Kenapa semua ini malah terasa.. tidak tepat?
"Dan kamu harus ingat ini, Ra. Ada atau tidak adanya Raka, aku akan menjadi ayah si kembar. Aku bersumpah akan menyayangi mereka seperti anakku sendiri. Jadi, jangan khawatirkan mereka jika sesuatu hal buruk terjadi pada Raka. Ada aku disini Ra, ada aku!"
"A-aku-," Rasa sesak itu malah melanda dadanya kian hebat. Meski ada Tama disana, Tara tetap tidak sanggup membayangkan jika Raka tidak lagi ada.
Tidak!
Tidak!
"Hiks.. Hiks.." Tara tidak bisa menahan untuk tidak menangis. Sungguh, Tara tidak akan menerima jika Raka pergi sekarang. Itu tak akan pernah adil.
"Ssstt.. it's oke, semua akan baik-baik saja. Percaya sama aku, Ra." Bisik Tama setelah menarik Tara dalam pelukannya.
Tidak!
Tidak ada yang baik-baik saja setelah kehilangan.
Buktinya Tama pernah hilang arah saat istri dan calon anaknya meninggalkannya. Jika saja saat itu bundanya terlambat menolong, mungkin Tama tidak lagi disini sekarang. Jika saja Nisa tidak datang dan memberitahu dirinya mengenai Tara, mungkin Tama juga tidak semangat hidup sekarang.
Tapi, inilah kehidupan. Tidak selalu berjalan dengan kehendak kita. Tidak selalu melaju pada jalur yang seharusnya.
Tring.. Tring...
Tama maupun Tara berpandangan melirik ponselnya Tara yang berdering di atas nakas. "Siapa ya?"
Bahu Tama mengedik acuh. "Mungkin Dinda?"
Tara melepaskan diri dari pelukan Tama. Melangkah masuk kembali menuju kamar, dimana ponselnya kembali berdering setelah tadi sempat berhenti.
Tama ikut masuk, menyusul Tara yang kini menatap ponselnya dengan raut bingung. "Siapa?"
"Satria." Jawab Tara singkat. "Ya, Sat?"
"...."
"Hah? Apasih Sat, yang jelas dong ngomongnya!" Tara ingat terahir kali ia membersihkan telinganya masih tiga bulan yang lalu. Tara yakin kok, pendengarannya masih normal.
Ia juga bisa merasakan selimut yang masih menggantung dipundaknya. Itu artinya, ia juga tidak sedang bermimpi juga kan?
"Dia nggak bisa bertahan. Dia pergi, ninggalin kita, Ra!"
***
Guncangan itu terasa begitu hebat menerpanya hingga Tara tak sanggup untuk berdiri. Tubuhnya bisa luruh menyatu dengan dinginnya lantai rumah sakit andai saja Tama tidak menahannya.
Rasanya Tara masih tak ingin percaya tetapi ini nyata! Tubuh kaku nan pucat itu telah tertutupi kain putih dari rumah sakit.
Tangisan pilu terus terdengar ditelinga Tara. Menambah beban rasa bersalahnya kian menggunung. Lagi-lagi ini tidak berakhir baik.
Dia memilih pergi dari pada bertahan. Sekejam itukah dunia ini padanya, hingga menunggu sebentar lagi pun tak mau? Padahal ada kehidupan seorang anak yang membutuhkannya.
Bayi perempuan mungil dan lucu yang ditunggu-tunggu kini malah di tinggalkan.
"Hei, kita tunggu diluar aja, oke?" Dengan lembut, Tama menyadarkan Tara dari lamunannya. Memberikan senyum hangat meski itu tak begitu berguna dalam keadaan seperti ini.
Tama menuntun Tara keluar ruangan dengan sedikit memapah, sebab perempuan itu seolah tak memiliki tenaga apapun sekarang.
"A-apa ini juga gara-gara aku?"
"Maksud kamu?"
"Di-dia.. pergi.."
"Hei..!" Tama tarik wanita itu dalam pelukannya. "Kematian adalah takdir, dan semua orang memiliki gilirannya. Bagaimana bisa ini karenamu? Kamu tidak membunuhnya, Ra!"
"Tama.. hikss.. hikss.. Tama.. hiks..."
Sungguh, Tara bingung sekarang. Menatap wajah Andra dan Ira pun ia tak berani, tiba-tiba ia begitu takut dan malu pada dirinya sendiri. Tara takut, jika semua ini memang karenanya.
"Ayo kita pulang, nanti kita datang lagi saat pemakaman." Ajak Tama.
Tara mengangguk lemah. Namun, sebelum kembali melangkah, tiba-tiba sebuah emosi menyerbunya. Menghidupkan ketakutan yang sudah sejak tadi terus ia sembunyikan.
Tara kembali menoleh kebelakang. Andra, Ira, Satria dan perawat yang tadi diruangan Nisa telah keluar.
"Tama, kamu tunggu disini sebentar. Aku, ingin bicara sedikit dengan Nisa!"
Tama menatap Tara tak mengerti. Namun tak juga berniat menghalangi. Biar saja ia menunggu disini, semoga apa yang dilakukan Tara nanti bisa membuat dirinya merasa lebih baik.
Tara menguatkan diri kembali melangkah memasuki ruangan. Tangannya terkepal erat seiring langkahnya mendekat, hanya untuk memastikan sahabatnya mendengar apa yang akan ia sampaikan.
"Selama ini aku nggak pernah minta apapun sama kamu."
"Kamu menang!"
"Dalam banyak hal diantara kita kamulah pemenangnya."
"Dan hari ini pun kamu kembali menang, bisa menghembuskan nafas terakhir dalam ikatan pernikahanmu dengan Raka."
"Tapi kali ini aku akan memohon.. Sa.."
"Pergilah sendiri dengan tenang."
"Jangan coba-coba kamu bawa Raka! Pergilah sendiri dengan segala penderitaanmu itu! Pergilah sendiri dengan semua kesakitanmu!"
"Raka akan tetap disini, bersamaku. Aku akan membuatnya tinggal walaupun dia tidak ingin. Aku bersumpah!"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SALAH RASA
RomantikRasa cinta bisa membuat dunia kita lebih berwarna. Tapi kalau jatuhnya pada orang yang salah, apakah cinta akan tetap indah? #27 Oktober 2021
