30. Hati yang semakin kacau.. [Revisi]

131 14 0
                                        

***

Tara melangkahkan kakinya begitu perlahan. Ingatannya tentang hari itu kembali, hari dimana ia menginjakkan kakinya di rumah itu tepat setelah menghilangnya senja. Lalu, Tara menemukan duka milik Nisa.

Hari ini, saat ini, keadaan seolah berbalik begitu jauh. Dari balik pintu pun Tara bahkan bisa mendengar tawa nyaring sahabatnya disertai suara bocah laki-laki dan pria dewasa. Mereka terlihat begitu bahagia sekarang.

Tara meringis dalam hati. Saat ini, duka itulah yang berganti menghampirinya. Menghantui Tara begitu kejam hingga Tara tidak tahu lagi bagaimana cara menjalani ini semua dengan benar. Setiap saat perasaan menyesal selalu menghantuinya, bukan hanya tentang kehilangan Kaisar, Tara merasa sebentar lagi juga akan kehilangan Kaila jika tetap menyimpan rahasia ini.

Bagaimana caranya Tara tetap baik-baik saja? Sementara untuk mengakui kepada mamanya bahwa Kaila putri kandungnya saja ia tidak mampu? Bagaimana bisa ia tertawa lepas jika semua orang hanya menganggap Kaila adalah Putri Tama seorang? Dan Tara sebagai ibu sambung?

Tara benar-benar hampir gila membayangkan bagaimana nanti jika Kaila dan Kaisar mengetahui hal yang sebenarnya? Tentang betapa buruknya sang Mama yang tidak bisa mempertahankan apalagi  menunjukkan mereka kepada dunia bahwa mereka adalah anaknya.

Tapi Tara harus bagaimana? Pernikahan pura-puranya dengan Tama telah berjalan. Tanpa rasa. Tanpa asa. Bahkan Tara juga tidak tahu kapan tepatnya perasaannya pada Tama ternyata telah hilang.

Tok.. tok.. tok..

"Siapa itu sayang? Kamu pesan grabfood?" Tara mendengar suara Raka yang mempertanyakan kedatangannya.

Tara mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Betapa kebahagiaannya mereka bisa Tara rasakan bahkan meski dari balik pintu.

Ceklek..

"Tara?"

Ini seperti dejavu. Kejadiannya hampir seperti tiga tahun lalu saat Tara mengunjungi mereka setelah Nisa mengadu banyak hal padanya. Raka yang membukakan pintu, hanya mengenakan celana  jeans selutut di padu dengan kaos putih pendek. Sama, sangat sama seperti tiga tahun lalu. Bedanya, kali ini Nisa segera menyusul di belakang Raka.

"Pa..papaa.. wawawaa.."

Mata Tara langsung berkaca-kaca melihat bocah dalam gendongan Nisa. Lebih tampan dari pada di foto yang Nisa kirimkan. Bahkan Tara takjub melihat giginya yang baru tumbuh beberapa, terlihat jelas begitu ia membuka mulutnya.

"Hai..." Sapanya canggung pada semua orang dihadapannya. Tara mendongak mempertahankan agar air matanya tidak lolos  begitu saja saat mendengar ocehan  kecil putranya.

"T-Taraa.." Secepat kilat Nisa menyerahkan Kaisar pada suaminya sebelum berhambur memeluk Tara.

"Ya Tuhan.. terimakasih telah mendatangkan Tara ku..." Ungkap Nisa penuh syukur. Bahkan ia bertambah tersedu dalam pelukan sahabatnya.

"Jangan menangis, Kaisar takut melihat kalian." Ujar Raka menginterupsi keduanya. Perempuan memang sangat emosional.

Nisa terkekeh disela isakannya. Perlahan, ia melepaskan pelukannya dari tubuh Tara. "Kamu kenapa kurus sekali? Lihat, bahkan tanganmu sangat kecil. Aku bahkan takut mematahkan tulangmu saat ingin memeluk erat." Omel Nisa perhatian. Ia bahkan meraba beberapa bagian tubuh Tara hingga wanita itu memberontak risih.

"Jangan pegang-pegang!" Rengeknya memohon.

"Yasudah, ayo masuk-masuk! Papa, ajak Tara ke ruang tengah biar aku ambilkan makanan untuk kalian. Makan malamnya sudah siap."

Raka diam tak menjawab. Namun kakinya melangkah perlahan menuju ruang tengah begitu Nisa meninggalkan mereka.

"Mau gendong?" Tawar Raka, menyodorkan tubuh mungil Kaisar.

"A-aaku, sepertinya-,"

"Sayang, ini Mama. Mau ikut Mama?" Bisik Raka pada Kaisar.

Raka menggeser duduknya hingga berdempetan dengan Tara. Dengan begitu jarak antara dan Kaisar semakin dekat. "Mama.. say hai to Mama..!" Bisik Raka lembut.

Bocah kecil itu berkedip bingung, tidak terlalu memahami ucapan Papanya. Namun ia juga penasaran dengan wanita di hadapannya. Harumnya..

Tetapi bukannya menerima ukuran tangan Tara, Kaisar malah memeluk Papanya erat. "Papapa..pa..." Ia bingung. Ia juga malu. Menurutnya Tara masih terlihat asing.

***

Tama tersenyum lembut melihat putri kesayangannya sudah terlelap dengan tangan dan Kaki merangkul dadanya. Digeserkan sedikit tubuhnya untuk menyamankan posisi tidur Kala. Setelah dirasa cukup, ia kembali berbaring dan mengecup seluruh wajah Kala beberapa kali.

Tama sangat menyukai ini. Dunianya terasa sempurna setelah kehadiran Kala nya. Putri cantiknya. Balita yang baru bisa mengeja Kata Mommy dan Daddy beberapa minggu lalu.

Rasanya Tama tidak membutuhkan apapun lagi. Kala sudah melengkapi segalanya. Ia telah memiliki teman hidup sekarang yang tidak akan jauh-jauh lagi darinya.

Setahun  ini, ia sering bolak-balik Indonesia Paris untuk menemui bayi itu. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, tetapi terbayarkan dengan kehadiran Kala yang mulai sekarang akan terus menetap disisinya. Lagi pula uangnya banyak, dua kali dalam satu bulan melakukan perjalan dari Indonesia ke Paris tidak akan membuatnya Bangkrut.

Baru saja hendak ikut memejamkan mata, ponselnya yang diletakkan di atas nakas bergetar. Perlahan Tama bangkit, dilihatnya nama Tara tertampang disana.

"Hallo.."

"Kala sudah tidur?" Tama mengernyit heran mendengar suara Tara begitu serak dari seberang sana.

"Kamu kenapa? Kala sudah tidur." Lagi, Tama malah mendengar suara isakan kecil dari wanita itu. "Hey? Are you oke?"

Tidak ada jawaban, hanya ada tangisan yang membuat Tama semakin bingung. "Pulanglah.. Sudah selesai kan acara dirumah Nisa?" Ujarnya lembut.

"Hiks.. s-sud..ah.."

"Pulanglah.. Ku tunggu dirumah ya?"

Tidak ada jawaban pasti yang bisa Tama dengar sebab Tara belum selesai dengan tangisnya. Namun ia tahu, Tara mendengarkannya.

Begitu panggilan terputus, Tama kembali mengarahkan pandangannya pada Kala. Selama ini ia hanya memperhatikan Kala, apapun yang ia lakukan adalah untuk Kala. Ia kira itu saja cukup, Tara tidak membutuhkannya kan? Tara hanya membutuhkan status isteri darinya kan? Sesuai kesepakatan mereka.

Tapi.. Apakah benar begitu? Atau.. dia salah?

***

SALAH RASACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang