20. Bertemu Charles [Revisi]

145 15 0
                                        

20. BERTEMU CHARLES

***

Ayu mengernyiykan keningnya melihat seorang laki-laki berdiri di depan butik dengan sebuah bucket bunga di tangannya." Mas Raka, ada yang bisa saya bantu?" Sapanya ramah.

Melihat ayu, Raka pun tersenyum lebar. " Yu, Mas titip dong ini untuk mbak".

Mendengarnya, Ayu pun bingung. " Lho, mbak kan lagi diluat kota Mas. Keburu layu bunganya kalau nunggu Mbak Pulang."

"Luar kota? Kemana Yu?" Jantung Raka rasanya seperti jumpalitan. Baru kemarin ia ia tahu Tara hamil, sekarang sudah ke luar kota saja.

"Ada pekerjaan di Surabaya Mas. Mbak Tara bilang, akan pulang hari minggu."

"Ayu, kamu serius? Kenapa Tara tidak bilang dengan Mas?"

Ayu tidak bisa menjawab. Karena ia juga tidak tahu.

"Ck, sama siapa Tara pergi?"

"Sama Dinda, Mas."

Tanpa bisa ditahan, Raka mendengus kesal. "Bunganya buat kamu aja kalau gitu, Yu. Mas pamit. Assalamualaikum.."

"Walaikum salam."

Raka memasuki mobil dengan mood memburuk. Padahal, ia sudah membuat banyak list kegiatan yang akan ia lakukan bersama Tara dan Nisa. Ia bahkan hendak menyiapkan pesta untuk merayakan kehadiran calon bayinya. Kenapa Tara bepergian jauh sih? Apakah dia tidak tahu itu bahaya?

Sampai di parkiran kantornya, Raka merasa moodnya makin terjun bebas. Ia menghempaskan tubuhnya pada sandaran mobil.

Dengan kesal, ia mengeluarkan ponsel di celana bahannya dan mencari nama Tara pada log panggilan.

Nomor yang anda tuju, sedang berada diluar jangkauan. Cobalah-  Tuth.

Berkali-kali ia menghubungi wanita itu, tetapi  suara dari operatorlah ia dapatkan sebagai jawaban.

"Ck, dimana sih?" Gerutunya kesal.

Akhirnya Raka beralih menghubungi Dinda. Dan betapa Raka ingin membanting ponselnha saat panggilannya pada Dinda juga tidak tersambung.

Perasaan Raka semakin kacau. Tiba-tiba resah menghantui entah datangnya dari mana.

"Halo, Ayu?"

"Iya, Mas. Ada apa?"

"Yu, tolong kamu kirimkan lokasi dimana Tara dan Dinda sekarang!"

"Hah? Maksudnya gimana Mas?"

"Kirimkan tempat tujuan Tara di Surabaya! Siapa klient yang ia temui dan dimana Tara menginap! Sekarang!"

Tuth.

***

" Tara?"

Tara berdiri  terkejut begitu mendengar sapaan laki-laki yang cukup ia kenali itu, bagaimana bisa lelaki itu bertemu dengan dirinya disini?

"Hai.. Charles..?"

"Tara.. Sedang apa disini?" Charles tersenyum begitu ramah. Namun Tara tentu tidak bjsa membalas balik keramahan itu. Ia bahkan tidak tenang sekarang, kepergok saat  sedang dalam masa pelarian. Bisa kacau kalau Charles membocorkan keberadaannya kepada Nisa.

Bagaimana bisa Charles ada di Paris?
Ya, ia terbang ke Paris 3 hari lebih cepat dari rencananya.

Ia ingin mempersulit Raka jika lelaki itu memulai pencariannya. Sengaja membuat lelaki itu bersantai sebelum tahu kalau isteri keduanya menghilang.

"Charles, ehm.. Saya.. saya sedang ada pertemuan dengan klient."

"Oh, Tara. Kenapa bisa kebetulan sekali? Ku rasa dunia sangat sempit, aku juga akan bertemu klient disini." Gurau Charles, mencoba mencairkan keadaan.

"Ya, ternyata dunia memang sekecil itu. Em, Bukankah, kau kembali ke Rusia setelah Ciara pulih?"

"Rencananya memang begitu, aku kemari karena ada hal penting yang tidak bisa kutinggalkan. Sebenarnya, selama ini aku juga tidak selalu menetap di Rusia. Aku berkelana, Tara. Banyak tempat yang  aku kunjungi. Oh ya, Ciara sudah kembali di Rusia sekarang. Dan... kamu sendiri atau dengan seseorang, di sini?"

Tara menelan salivanya susah payah. Iya terus berusaha tenang meski dalam hati merasakan kegugupan yang luar biasa.

"Tara? Are you okay? Kau terlihat... kurang sehat..?"

"Amm, aku baik Charles, tidak ada masalah. Dan aku di sini bersama Dinda. K-kau tahu dia adalah asisten ku. Dan, Charles bisa aku meminta satu hal padamu?"

"Ya? Ada apa Tara?"

" Bisakah setelah ini kau melupakan kejadian hari ini? Anggap saja setelah ini kita tidak pernah bertemu. Aku sedang ada masalah dengan seseorang dan aku sedang dalam masa menyembunyikan diri. Mereka,  termasuk Nisa mungkin akan mencariku, jadi tolong jangan katakan keberadaanku karena aku masih membutuhkan waktu untuk sendiri."

Tara bisa melihat raut kaget Charles. Namun mungkin lelaki itu menyadari keengganan Tara padanya,  jadi Charles hanya mengangguk paham setelah itu.

"Iya, Tara. Aku mengerti. Kamu tenang saja!"

Tidak ada lagi yang membuka suara antara charles mapupun Tara. Meski Charles terlihat meyakinkan untuk menyimpan rahasia, tetapi Tara tetaplah ragu.

Jika ada orang lain yang paling tidak bisa ia tebak saat ini mungkin orang itu adalah Charles.

Charles sangat mencintai Nisa, Tara tahu orang yang terlalu mencintai bisa melakukan apa saja meski itu adalah hal bodoh sekalipun.

"Ra, its okay. You have your privacy, dan aku menghargai itu. So, please! Jangan menatapku seolah aku ini penjahat." Charles kembali mencoba meyakinkan Tara. Sungguh ia tidak bermaksud untuk membuat wanita itu tidak nyaman. Ia tidak ingin melakukan apapun dan tidak ingin ikut campur dengan urusan wanita itu.

"Aku tahu. Em, kurasa aku harus pergi-,"

Tara telah bersiap untuk pergi, namun Charles menahannya.

"Berikan alamatmu, aku serius untuk ini. Aku memang tidak tahu masalah apa yang kau hadapi, tapi setidaknya biarkan aku membantumu. Kau sahabat Nisa, dan aku tahu dia sangat menyangimu. Paling tidak, biarkan aku memastikan kau baik-baik saja." Tara mencoba melepaskan cekalan Charles di lengannya, namun tidak berhasil.

Tara menatap Charles tajam. Mencoba mengintimidasi lelaki itu. Tetapi Charles tidak terpengaruh, Ia tetap teguh pada pendiriannya. " Berikan alamat mu, Tara!"

"Tidak perlu, Charles. Aku juga akan berpindah setelah ini."

"Siapa yang percaya akan hal itu? Kau tidak akan kemana-mana lagi jika Raka sudah memulai pencariannya!"

Tara melotot kaget. "Kau...."

"Berikan.. aku memiliki saudara disini. Ia bisa dipercaya."

"Tapi aku tidak mempercayaimu!"

"Aku tidak memintamu, tapi sungguh aku berniat baik."

"Tidak Perlu, Charles!"

"Tara, tolong. Kau adalah sahabat Nisa, aku menyayangimu sama seperti Nisa melakukannya."

"Jika Nisa tahu keberadaanku disini sebelum aku siap, kau adalah orang pertama yang akan bertanggung jawab?"

"Ya."

"Kau laki-laki, ucapanmu harus bisa di pegang!"

"Kau pasti tahu bagaimana mana aku, Tara."

Meski ragu, akhirnya Tara memberikan alamat tinggalnya sekarang. "Tepati janjimu, Charles." Desis Tara lirih namun tajam.

"Kau bisa percaya padaku, Tara."

Charles melihat alamat yang dituliskan Tara. Senyum tipisnya terbit, ia tahu tempat itu. "Kamu berencana tinggal untuk waktu yang lama?"

Tara tidak menjawab. Segera, ia pergi meninggalkan tempat itu.

Charles sialan!

***

***

SALAH RASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang