***
Raka memarkirkan mobilnya ditepi jalan. Memukul keras bagian kemudinya berkali-kali. "Sialan! Apa rencana mereka sebenarnya?" Desis Raka penuh kebencian.
Dikeluarkannya ponsel dari dalam saku celananya. Setelah mulai tenang, ia menekan panggilan pada seseorang.
"Batalkan semua reservasinya, saya tidak jadi mengadakan acara malam ini!"
Tut.
***
Tok. Tok..
Tama mengetuk pintu agar orang-orang didalam ruangan menyadari kehadirannya. Termasuk sosok mungil yang kini telah berlari girang lalu menubruk kedua kakinya.
"Dad..dad.."
Pekik Kala dengan semangat. Dengan tangan mengayun keatas meminta untuk digendong. Dengan senang hati Tama mengangkat gadis kecilnya itu.
"Tam, aku kira siapa." Ucap Tara sebagai sapaan.
Tama tersenyum kecil. "Aku bawa Kala sekarang ya?" Izinnya.
Tara hendak mengangguk, namun tidak jadi ketika matanya menemukan noda merah pada kemeja Tama yang berwarna biru muda. Sehingga terlihat begitu jelas meski dari kejauhan.. "Tam, sebentar!"
Segera Tara bangkit dari duduknya dan mengambil Kala dari lelaki itu, untuk memeriksa dengan jelas. Tara menunduk tepat pada noda itu. "Darah..?" Gumamnya begitu mencium bau anyir yang ia yakini, pasti belum lama.
"Buka baju kamu!" Titah Tara tegas.
Tama menurut. Meski ia sendiri juga bingung. Tara tidak canggung, ia mengangkat kaos Tama dan menekan beberapa tempat didada Tama. Namun tidak ada apapun disana.
"Nggak luka.. lalu, ini darah apa?" Tara mendongak penuh tanya. Tama juga tidak memiliki jawaban. Keduanya sama bingung.
"Kamu habis berantem? Atau nolongin orang kecelakaan?"
"Enggak Ra, dari kantor langsung ke sini kok. Aku juga cuma periksa berkas hari ini, nggak ketemu klien." Jelas Tama yakin.
Ayu ikut mendekat, ia menatap Tama dari atas ke bawah dengan teliti. Bahkan ia juga memutari lelaki itu, tidak juga menemukan apapun. Akhirnya Tara mengangkat bahunya acuh, dan kembali menyerahkan Kala begitu Tama selesai merapikan kembali bajunya. "Hati-hati yaa.. Maaf nggak bisa nemenin kalian."
Tama hanya terkekeh geli lalu melangkah pergi bersama Kala. Kembali ke Indonesia, bisa di hitung dengan jari berapa kali mereka keluar bersama-sama. Tama tidak pernah mengajak, menurutnya jika Tara pengertian pasti ia ikut pergi bersama mereka. Tapi lagi-lagi,
Tara dan Ayu kembali melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda. Bukan lagi soal Tama, mereka telah berganti topik pada urusan pekerjaan.
Namun Tama belum mengalihkan pikirannya. Matanya mengawasi sekitar butik saat ia keluar dari ruangan Tara.
Dinda!
Tama yakin darah dibajunya adalah milik gadis itu. Tapi kenapa? Apa gadis itu terluka?
Di geserkan gendongannya pada Kala untuk menutupi darah itu. Ia melawati Dinda dengan tenang sama seperti tadi, namun matanya mengamati tajam pada bagian leher dan kepala gadis itu. Jika dilihat dari letaknya, darah itu berasal dari tubuh bagian atas.
"Mari, Pak..." Sapa Dinda ramah.
Dan Tama menemukannya. Leher gadis itu tertutup dua plaster sekarang.
Ia tetap melangkah tanpa menjawab sapaan Dinda.
***
Waktu saat ini menunjukkan pukul 7 Malam. Harusnya Raka sudah berada dirumah, menjalankan rencananya, pulang lebih cepat untuk memberi kejutan Nisa seperti rencananya. Tapi Tara malah sukses membuatnya terkejut, bahkan ia benar-benar pulang larut malam ini. Tidak ada lagi kejutan untuk Nisa di hari jadi pernikahan mereka yang ke 6.
Drtt... drt...
Tara is calling...
"Ck, Tara!" Dengan kasar, Raka menutup laptopnya, mengabaikan ponselnya juga. Ia kembali merasa kesal begitu melihat nama Tara terpampang menjadi panggilan masuk.
Saat mengetahui bahwa Tara akan menikah, Raka memang merasa sakit. Tapi saat mengetahui pernikahan mereka hanya sandiwara, Raka merasa lebih sakit lagi.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, Ra?" Gumam Raka datar. Ia tahu Tara, wanita itu tidak mungkin mau melakukan sesuatu tanpa alasan.
Nama Tara kembali menghiasi layar ponselnya, namun kembali Raka abaikan. Untuk pertama kalinya, Raka merasa sedang tidak ingin bicara dengan wanita itu.
Dari jendela kaca gedung lantai 5 tempat Raka berdiri, suasana jalanan terlihat sepi, padahal biasanya jam 7 adalah jadwal lalulintas padat. Walaupun kantor Raka bukan berada di pusat kota, jalanannya tetap saja ramai.
Tak berselang lama setelah itu, rintik air berjatuhan mengenai kaca dihadapannya. Pantas saja jalanan terlihat lebih lenggang, ruapanya angin diluar lebih kencang dari biasanya. Seolah memberi tanda bahwa sebentar lagi hujan akan turun.
Benar-benar malam indah.
Drtt... drt...
Raka menoleh kebelakang, tersenyum miring melihat nama Tara kembali terpampang dilayar ponselnya.
"Raka.. Apa yang kamu lakukan dengan Dinda HAH? Jangan macam-macam kamu!" Suara keras nan parau Tara menyambutnya.
"Mamanya Kai, ada apa marah-marah sambil menangis begini?" Ucap Raka tenang, namun penuh makna. Membuat deru nafas wanita di sebrang sana semakin tidak beraturan.
"A-aku, tidak bermakud menyembunyikannya dari mu. Maaf, sungguh, aku hanya-, tidak ingin mengganggu hubungan kalian." Rengek Tara disela isakannya.
"Kamu kenapa? Kok malah nangis?" Ucap Raka tenang.
Terdengar tangisan Tara semakin keras disana, yang malah membuat Raka senang.
"Pernikahanmu adalah hak mu, Ra. Kenapa kamu menangis?"
"Ka-kamu marah, kamu.. jahat!"
"..... Tidak."
"Tapi kamu sakitin Dinda, Raka! Kalau tidak marah kenapa kamu ancam Dinda? Kenapa kamu jahat?"
Raka terkekeh geli. "Oohh, Dinda buka mulut?"
"Raka, jangan keterlaluan! Dinda ketakutan sekarang! Aku yang salah disini!"
Mendengar itu, Raka menghela nafas jengah. "Ra, dengar! Aku tidak tahu apapun, anggap saja begitu kalau itu mau mu. Lalu soal Dinda, aku sendiri yang akan mengurusnya nanti.! Akan ku bereskan dia-,"
"Jangan sentuh Dinda! Jangan libatkan Dinda! Ini urusan kita, selesaikan dengan aku!" Potong Tara histeris.
"Oke. Datang ke kantorku sekarang juga!"
Tut.
Raka tidak suka berbelit. Tara sudah mengatakannya, maka ia akan membuat ini segera selesai.
Dinda bukan apa-apa, ia hanya menjadikan gadis itu sebagai pancingan. Gadis itu terlalu polos dan mudah ditindas, mudah di manipulasi dan tidak bisa berbohong. Sangat mudah sekali dibaca. Membuat Tara cepat menyadari ancamannya adalah tujuannya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SALAH RASA
RomansaRasa cinta bisa membuat dunia kita lebih berwarna. Tapi kalau jatuhnya pada orang yang salah, apakah cinta akan tetap indah? #27 Oktober 2021
