***
Tama mengamati Tara yang terus melamun sejak tadi. Entah apalagi yang sedang dipusingkan wanita itu hingga mengabaikan putrinya selama beberapa hari ini.
Meskipun Kala sangat pintar dan tidak rewel, Tama sebisa mungkin selalu menemani Kala. Terus mengawasi setiap pertumbuhannya, tidak ingin melewatkan banyak moment bersamanya, bahkan Tama akan sangat tidak tenang jika dalam sehari tidak melihat kehadiran putrinya. Tama tidak tahu apakah semua ayah juga merasakan hal yang sama atau tidak, tetapi Tama yakin seorang ibu harusnya seperti itu juga.
Tama tidak akan mengatakan tapi apakah Tara benar-benar tidak tahu, jika putrinya mulai tidak bergantung lagi padanya? Apakah ini juga bagian dari rencana Tara? Tetapi mengapa?
"Kamu bisa berbagi kalau memang berat, Ra. Jangan dipikul sendiri, aku ada disini dan siap membantumu." Ujar Tama serius, sembari mengalungkan selimut dipundak Tara. Malam ini begitu dingin, dan angin berhembus kencang di balkon apartementnya sekarang.
Terlihat Tara menarik nafas dalam, sebelum beralih menatap Tama dengan tatapan penuh kesedihan. Bahkan matanya juga berkaca-kaca.
"Ada apa, Ra?" Tanya Tama bingung.
"Kamu ...." Tara kembali membuang tatapannya ke arah lain. Tama tebak, pasti wanita itu tengah menangis sekarang. Perlahan, Tama merengkuh wanita dari samping, ikut menyandar di pagar balkon. "Hey, ada apa?"
Tara terisak lirih. Lalu menggeleng pelan. Ia bahkan sedikit kesulitan bernafas akibat tangisnya.
"Kalau semua kacau gimana, Tam?" Cicit Tara setelah tangisnya mereda.
"Aku akan bantu kamu membenahi."
"Kalau nggak bisa dibenahi?"
"Apa yang tidak bisa dibenahi selama raga masih bernyawa?" Tanya Tama serius.
Tara tersenyum tipis menatap sendu pada Tama, lalu menunjuk dadanya. "Hati Tam.."
'Ada apa dengan hatimu? Ingin sekali Tama menanyakan itu, tetapi lidahnya malah terasa kelu. Tama ingin pura-pura tidak tahu saja, tetapi ia sudah terlanjur tahu.
Dan jahatnya lagi, Tama tetap bersikeras diam. Tama tahu, kepada siapa Tara melabuhkan hatinya sekarang. Tapi Tama tidak peduli, ia tidak memperdulikan apapun selama ia masih tetap bersama Kala. Tama juga tidak peduli jika ia harus menjadi tameng Tara atas semua masalahnya, asalkan Kala adalah hadiah yang ia terima, untuknya. Selamanya.
***
Kaisar menatap bergantian papa dan bundanya yang duduk berdampingan tapi tidak saling bicara. Kaisar berada ditengah-tengah mereka, tetapi ia malah merasa sendirian.
Acara televisi pun tak asik, Kaisar ingin bermain sendiri saja tapi haru sudah malam. Bundanya beberapa kali mengusap perut besarnya sembari melamun. Sementara papanya asik dengan tab ditangannya.
Kaisar bosan sekali. Papa dan bundanya sering bertengkar sekarang. Suasana rumah terasa canggung membuat Kaisar bingung harus melakukan apa.
"Pa, Mama Tala kapan kesini lagi?"
"Kai mau Papa antar ke Mama?"
"Mau, Pa! Mau! Nanti kita main ail lagi ya sambil mandi belsama? Telus main pelang-pelang di kasul oke?"
Prang!!!
Demi apapun Kaisar tidak tahu apa permasalahan orang tuanya. Ia menanyakan Tara karena memang sedang merindukan wanita itu. Tetapi saat Papa menjawab pertanyaannya, tiba-tiba gelas berisi susu formulanya yang tadi berada diatas meja melayang menghempas keras mengenai dinding.
"Kai, kamu ke kamar dulu yaa.." Titah Raka pada putranya.
Kaisar mengangguk patuh. Sedikit ia lirik bundanya, yang ternyata sudah berurai air mata. Kaisar menunduk dalam, lalu berlari ke kamarnya. Menutup rapat pintu sebelum ia kembali mendengar perdebapatan Papa dan Bundanya.
***
Kerlap-kerlip lampu dan suara musik yang memekakkan telinga tidak asing lagi bagi Tara. Beberapa kali ia pernah menyambangi tempat itu, bersama teman-teman SMA dulu,
bersama rekan kerja, dan bersama musuh besarnya juga pernah.
Tetapi kali ini Tara sendirian. Tara tidak memiliki siapapun yang bisa ia bawa kesini sebagai teman. Dinda lebih menjauh darinya sejak insiden pengancaman Raka. Gadis itu masih bekerja dengannya, tetapi memilih tinggal di kos. Mengajak Ayu pun tak mungkin, Dana bisa mengomelinya dua kali lipat jika tahu. Satu-satunya teman yang menjadi tempatnya berbagi adalah Nisa, tetapi Nisa sendiri terasa begitu jauh darinya sekarang.
Ini salah gue!
Berkali-kali Tara melafalkan kalimat itu dalam hatinya. Tertawa getir atas jalan hidup yang tak terduga lalu perasaannya yang tak tahu diri.
Tara duduk dimeja paling pojok. Sengaja mencari tempat tersembunyi agar tidak diganggu. Tara juga tidak ingin mabuk, ia hanya ingin melepas penat setelah menertawai diri sendiri habis-habisan disini.
Minumannya telah habis, sekarang Tara berniat berhabung dilantai dansa. Melenggokkan tubuh sesuka hati tanpa memikirkan apapun sepertinya menyenangkan, pikir Tara.
Namun niatnya untuk berdiri lenyap begitu saja saat ia menemukan perempuan yang dikenalnya. Sedang bergelantungan ria di pangkuan laki-laki yang juga tak asing bagi Tara.
Tara mengeluarkan ponselnya. Tersenyum smirk setelah berhasil mengambil beberapa foto dan video perempuan itu. "Kena kau Lava!" Kekeh Tara sinis.
Jika Tara perhatikan, sepertinya Lava sedang mabuk. Matanya terlihat memejam namun bibirnya tertawa seperti orang gila. Wanita itu juga pasrah saja saat laki-laki yang merengkuhnya membawanya dalam gendongan, lalu diangkutnya tubuh lunglai Lava keluar dari kelab.
Dari jarak yang cukup jauh, Tara tetap membuntuti mereka. Hasrat ingin membalas kelancangan Lava membuncah dalam diri Tara. Tapi disamping itu, ia juga penasaran, apakah Lava kembali lagi dengan lelaki itu?
Harusnya Tara berhenti begitu mereka melajukan mobilnya, tetapi jiwa keponya malah semakin membesar saja. Tara ikuti mereka dari jauh, tentu saja karena lelaki itu adalah pembalap handal. Tidak kehilangan jejak saja sudah sangat beruntung.
Mulut Tara menganga melihat mobil yang ditumpangi Lava memasuki kawasan apartement. Tara memutuskan berhenti diluar.
"Inikan apartement Tama, mereka juga tinggal disini?" Gumam Tara takjub.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SALAH RASA
Storie d'amoreRasa cinta bisa membuat dunia kita lebih berwarna. Tapi kalau jatuhnya pada orang yang salah, apakah cinta akan tetap indah? #27 Oktober 2021
