Pada umumnya, hubungan kekasih antar ketua geng pasti bersifat romantis, lucu, dan menggemaskan. Tapi tidak dengan pasangan Rasya Pradipta dan Aqeela Aselyana.
Kedua ketua geng itu justru menjalin hubungan kekasih yang alay dan menggelikan. Walaupu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌸🌸🌸
"Gue nggak tau ini feeling atau bukan, tapi gue pikir nanti atau deket-deket ini bakal ada masalah besar."
Saski, Ratu, dan Sandy menatap Aqeela penuh tanda tanya.
Aqeela mengangguk. "Beberapa jam lalu Rio ngabarin, markas kita ada yang neror." Ujarnya dengan suara pelan.
"APA??!"
"Kecilin suara kalian!" desis Aqeela melirik beberapa siswa-siswi yang menatap ke mereka dengan penasaran.
Ketiga cewek itu meringis dan meminta maaf kepada siswa-siswi di sekitarnya karena menganggu.
"Kok gue nggak tau?" tanya Sandy.
"Hmm Rio emang cuma ngabarin gue doang," jawab Aqeela seadanya.
Gadis itu menghela nafas. Menjadi leader sebuah geng ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Ia kira dengan menjadi leader geng akan bisa seenaknya memerintahkan anak buahnya. Tapi ternyata salah besar. Aqeela menyesali keputusannya mau menjadi leader. Andai waktu itu dia menolak, sudah pasti hidupnya aman tentram dan damai.
Dua tahun menjadi leader membuat Aqeela paham apa itu arti ketua yang sebenarnya. Bukan hanya soal memerintah dan dihormati. Tapi tentang banyak cara mengatur strategi untuk melawan musuh. Dan melindungi anggotanya.
Walaupun Alastor selalu adem ayem tanpa war, tapi bukan berarti Aqeela dapat hidup tenang. Selama ini banyak beberapa anggotanya yang sering di keroyok anggota geng lain. Alasannya karena iri akan tahta Alastor.
"Hmm gue harus gimana?" batin Aqeela pusing sendiri.
Suara kantin yang tadinya bising tiba-tiba menjadi hening. Atensi seisi kantin teralih pada empat cowok yang baru masuk ke kantin megah tersebut. Mereka menatapnya kagum. Merasa heran karena mereka datang pada saat pertengahan istirahat. Biasanya belum bel saja sudah nongkrong di kantin.
Ya siapa lagi kalau bukan anggota inti Alvasdor, Rassya and the geng. Aura Rassya kali ini bukan aura seorang bucin. Melainkan aura kepemimpinan yang tegas yang menunjukan keseriusan. Siswa-siswi bertanya-tanya, apa hal yang membuat aura lelaki itu tampak berbeda sekarang.
Tatapan tajamnya bagai elang, dengan wajah datar sedatar triplek. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Matanya menatap kagum pada gadis yang sepertinya tengah berpikir serius.
Rassya mendekat, dia tersenyum tipis mendapati Aqeela tidak menyadari keberadaannya.
"Kenapa nggak makan?" bisik Rassya tepat di telinga Aqeela.
Aqeela terpelonjak kaget. Dia melotot. Tangannya mengusap-usap dadanya sambil terus mengumpat karena saking kagetnya.
"Rassya!" marah Aqeela. "Kenapa kamu nggak ngabarin aku dari tadi pagi??!"
"I'm sorry babe," Rassya mendudukkan dirinya di samping Aqeela. Sebelumnya dia mengusir Sandy terlebih dahulu.
"You make me worry," gumam Aqeela dengan bahasa Inggris. Berharap Rassya tidak mendengarkannya dengan jelas.