CHAPTER 46

939 76 12
                                        

🌸🌸🌸

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌸🌸🌸

"Gimana Rio? Udah ada hasil?" tanya Aqeela kesekian kalinya.

"Nggak bisa Qeel, nomernya udah nggak aktif," jawab Rio lesu.

Aqeela menghela nafas. Dia mengacak rambutnya frustasi. Mencoba menahan diri agar tidak mengamuk saat ini.

"Tapi nomornya sama kayak yang sering neror gue akhir-akhir ini," Aqeela menggigit kukunya gelisah. "Berarti orang yang sama."

"Nomernya juga sama kayak yang neror Rassya. I'm very sure orang yang sama dan waktu yang sama."

Rio menatap bosnya prihatin. Dia merasa iba akan hubungan Aqeela dan Rassya. Sesama ketua geng terkenal, tentu membuat banyak orang menatap mereka kagum. Ada juga yang iri, tak heran banyak orang yang menginginkan hubungan keduanya kandas.

Beruntung, dua tahun menjalani hubungan keduanya tak pernah putus. Ya bisa dilihat sendiri seberapa bucin keduanya. Kalau sampai putus, bisa jadi gempar nanti.

"Udah deh gue keluar. Btw thanks udah bantu Yo," ucap Aqeela.

Rio mengangguk. "Sorry ya bos. Nggak sesuai sama yang lo harapin."

"Nggak papa, santai aja. Nggak semua harus bisa," jawab Aqeela membuat Rio tersenyum tipis.

🌸🌸🌸

"Kenapa bisa lalai?" tanya Aqeela dengan suara tajam. Tidak seperti biasanya, wajah gadis itu juga tampak menahan amarah yang bisa meledak kapan saja.

Mereka semua menunduk, anggota Alastor. Tak berani menatap mata tajam Aqeela.

"KENAPA? GUE TANYA! GUE TAU KALIAN NGGAK BISU!" bentak Aqeela kesal.

"Em i-itu g-gue juga ga tau bos. Pas gue ke dapur udah berantakan. Padahal gue cuma ke depan sekitar sepuluh menit," jelas salah satu dari lima orang tersebut.

Aqeela memejamkan matanya. Memijat pelipisnya. Di sampingnya ada Sandy yang mengelus punggung Aqeela memberi ketenangan. Gadis bule itu memang jago membuat orang tenang karena kelembutannya. Maka dari itu, Sandy biasa dijuluki Alastor's mother.

"Calm down, di dapur ada cctv kan?" Sandy menatap Aqeela.

Aqeela mengangguk. "Gue tadi udah cek, cctv-nya sengaja di tutup pake kain hitam. Dan yang nutup juga pake baju serba hitam dan masker. Pake kacamata juga, bikin gue susah deteksinya."

"Dia juga pake kaos tangan tebel, jadi nggak ada sidik jarinya," sambungnya.

Sandy membelalakkan matanya. Oke, sekarang dia percaya orang yang mereka hadapi bukan orang biasa. Mereka bermain cantik tanpa meninggalkan jejak. Berarti ini sudah direncanakan.

"Gila! Ini bener-bener di luar kendali kita Qeel! Alastor nggak pernah punya rival!" heboh Ratu.

Aqeela mengangguk. "Gue juga nggak tau."

Mata Aqeela menatap beberapa anggota Alastor yang ada di markas. Sekitar ada 50-an orang.

"Kalian nggak buat masalah kan?" tanya Aqeela.

Mereka sontak menggeleng.

"Nggak bos beneran!"

"Serius nggak pernah boss!"

Aqeela berganti menatap lima orang yang bertugas berjaga di luar markas.

"Kalian juga nggak punya masalah sama siapa aja kan? Pas kalian jaga ada hal yang mencurigakan?"

Mereka kompak menggeleng. Aqeela menghembuskan nafasnya.

"Aqeela, ada hal janggal," ujar Saski mendekat.

Aqeela menoleh dan menaikkan satu alisnya. Menatap Saski penuh tanda tanya.

Saski menyerahkan sebuah kertas putih yang ada tulisan bertinta merah, entah itu darah atau memang tinta merah biasa.

Aqeela melihatnya dengan seksama.

Y & B
Ready to kill you

Dia mengernyit. "Y sama b? Siapa...?"

🌸🌸🌸

Thank you for reading this story🙆🏻‍♀️💘

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Thank you for reading this story🙆🏻‍♀️💘

Jangan lupa untuk vote

- d n a

BUCIN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang