Argon yang baru berjalan dua langkah sontak berhenti dan menoleh begitu mendengar racauan Delon. ya, putranya itu masih terlelap dengan racaunya yang terus terdengar.
"Aku bukan anak pembawa sial, Ayah!"
"Sakit Ayah, hiks.. ampun! ampun!"
"Delon!"
"Delon!" panggil Argon lagi. dia guncang tubuh Delon agar putranya itu terbangun. namun, justru Kara yang lebih dulu menggeliat karena terganggu dengan suara racauan Delon.
Argon menepuk-nepuk puncak kepala Kara agar adiknya itu kembali pulas. setelahnya dia beralih menggendong tubuh Delon ala bridal sebelum Kara terbangun karena mendengar racauan putranya itu.
Argon melangkah keluar kamar dengan menahan emosi begitu mendengar Delon yang terus mengatakan bahwa dirinya bukan anak pembawa sial. "Delon!" panggilnya begitu merasakan kedua tangan Delon yang melingkar pada lehernya. putranya terbangun sebelum dia tiba di kamar.
"A----ayah.."
"Iya, Delon? Ayah di sini!" jawab Argon setelah membaringkan tubuh Delon di atas tempat tidur. namun, putranya itu justru kembali bangun dan langsung berhambur memeluknya.
"Ayah di sini, Delon, tenang, ya?" tutur Argon dengan mengelus punggung Delon saat mendengar isakan yang lolos dari bibir putranya itu.
Delon mengurai pelukannya bersama Argon. kepalanya mendongak dengan pipi yang sudah basah oleh air mata. "Ayah.." panggilnya dengan kembali terisak. "Di sini.. di sini nyeri Ayah.. sa--sakit!" adunya dengan menepuk dadanya lemah.
Argon langsung menarik tubuh Delon agar putranya itu kembali memeluknya. "Ayah di sini, Delon, di sini!" ucapnya dengan mengecup puncak kepala Delon beberapa kali. "Bagi sama Ayah apa yang kau rasakan, Delon! kau putra Ayah, putra Ayah, Delon!" lanjutnya yang dibalas pelukan semakin erat oleh putranya itu.
Argon menunduk menatap Delon yang terpejam dengan menyandar pada dada bidangnya. sesegukan putranya masih terdengar sesekali, hingga beberapa saat kemudian digantikan dengan dengkuran halus. dia yang akan membaringkan tubuh Delon karena merasa pegal justru kembali duduk seperti semula saat kepala putranya itu menggeleng tidak mau dilepas.
"Delon!" Argon memanggil terkejut begitu merasakan suhu tubuh putranya yang tiba-tiba meningkat drastis. dia yang akan kembali membaringkan tubuh Delon kembali gagal saat putranya itu justru memeluknya semakin erat. "Kau demam, Delon! Ayah akan ambilkan obat sebentar!"
Delon menggeleng. tubuhnya dia baringkan sendiri, setelahnya dia ambil tangan Argon untuk diletakkan di atas keningnya.
Argon menghela napas berat. dipijatnya kening Delon pelan dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan putranya yang terasa dingin. "Kau benar-benar keras kepala, Delon!" dengusnya.
Nyatanya, Argon yang tidak tahan dengan suhu tubuh Delon yang kian meningkat menarik dirinya secara paksa. setelahnya dia turun ke lantai satu untuk mengambil air hangat yang digunakan untuk mengompres, tidak lupa juga dia buka selimut yang menutupi tubuh putranya agar suhu panasnya keluar.
♡♡
"ABANG!!"
"ABANG!!"
"ABANG----" Kara langsung terdiam begitu melihat Argon yang mengisyaratkannya supaya diam dengan jari telunjuk yang berada di depan bibir. Kakak sulungnya itu duduk dengan Delon yang masih terlelap menggunakan pahanya sebagai bantalan.
Kara berjalan cepat mendekati kasur. "Abang.. aku kira Delon hilang!" bisiknya di samping telinga Argon. napasnya benar-benar terdengar memburu. tadi, ketika bangun dan tidak melihat Delon di samping, dia langsung bangun dan berlari ke arah kamar mandi. namun, Delon tidak ada di sana. dia yang akan melihat apakah Delon kabur dari balkon menjadi urung begitu melihat pintu balkon yang terkunci. alhasil, dia berlari ke kamar Argon, dan benar saja, orang yang dia cari berada di kamar Kakak sulungnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
General FictionIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
