★ D.A - 23 ☆

12.5K 1.6K 187
                                        

"DE--------"

"DELON!"

Kara yang terbangun dengan napas memburu langsung menoleh ke sisi yang Delon tempati. detak jantungnya kian berpacu dengan cepat saat tidak melihat keberadaan anak angkat Kakak sulungnya itu di sana. lantas, kakinya bergerak cepat untuk turun dari atas tempat tidur, dan melangkah ke arah kamar mandi, baru setelahnya melangkah ke walk in closet.

"Kamu di mana, Delon?!" decak Kara khawatir. kakinya bergerak gelisah memikirkan di mana keberadaan Delon saat ini. "De----delon.. kamu di kamar bang Ar, atau tidak, sih?" Monolognya sendiri dengan memeluk kedua lututnya yang dia tekuk. dia yang tidak tahu harus melakukan apa, menelungkupkan kepalanya di atas lipatan lutut, darahnya berdesir hebat saat memikirkan mimpi yang baru dia dapat.

Di mimpinya itu, dia dan Delon tengah liburan di Villa yang sempat mereka datangi, setahun yang lalu. mereka berdua mandi di pantai dengan canda tawa yang tidak luput terdengar. namun, anak angkat Kakak sulungnya itu tiba-tiba berenang ke tengah sembari melambaikan tangan ke arahnya. dan dia yang terus berteriak memanggil, agar Delon segera kembali. namun, anak angkat Kakak sulungnya itu tetap melambaikan tangannya dengan tersenyum sebelum hilang diterjang ombak.

"De----delon.. aku tidak bisa diam saja!ya, aku harus pastiin kamu ada di kamar bang Ar!" ujar Kara bertekad sebelum melangkah keluar dari dalam kamar. namun sebelum itu, dia lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan mengambil baju hangat di dalam walk in closet.

Kara mengigit jarinya sendiri saat sudah tiba di depan kamar Argon. namun, tangannya yang akan menekan knop untuk membuka pintu, berulang kali urung saat merasa ragu. dia takut, takut jika Delon tidak berada di kamar Kakak sulungnya itu. lantas, kakinya berjalan menjauh dari sana dan turun menuju lantai dua menggunakan lift.

"Abang!"

"Abang.. bangun!"

"Kara?"

"Iya, abang.. ini Kara!" ungkap Kara begitu mendengar panggilan ragu dari Neo. ya, dia memutuskan untuk mencari Delon bersama Kakak ketiganya itu. "Abang, Delon tidak ada di dalam kamar!"

Neo yang kembali memeluk guling kini spontan duduk begitu mendengar perkataan Kara. kelopak matanya terbuka dengan sempurna, meskipun harus mati-matian menahan rasa kantuk yang masih mendera. "Tidak mungkin kabur, 'kan, Kara?" serunya bertanya sebelum bergerak untuk menyingkap selimut.

"Tidak tahu, abang. aku mau minta abang cek di kamar bang Ar dulu!"

Neo mengangguk dengan helaan napas leganya yang terdengar. dia tatap Kara yang terlihat khawatir, lantas, tangannya bergerak untuk menepuk pundak adik bungsunya itu. "Delon pasti ada di kamar Kak Ar, kamu tunggu sebentar!" pintanya seraya beranjak turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah kamar mandi.

Kara menghela napas panjang. "Se----semoga kamu berada di dalam kamar bang Ar, Delon!"

♡♡

"Bang, gue bakal traktir lo sepuasnya asal lo tolak tantangan balapan ini!"

"Bang Delon! ck! batu bangeet, anjir!" gerutu Axelo yang berdiri di belakang Delon yang tengah memanaskan motor. ya, remaja yang setahun di atasnya itu benar-benar akan balapan, malam ini. remaja itu berusaha sendiri untuk meminjam motor yang akan dia pakai untuk balapan. "Bang Delon-----"

"Ck! bisa diem nggak, anjir?!" sunggut Delon kesal dengan menyela cepat perkataan Axelo. karena, sejak tadi remaja itu terus menggerutu yang membuat telinganya terasa panas. "Gue udah sering balapan, lo nggak perlu khawatir!"

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang