★ D.A - Exchap ☆

15.6K 1.6K 213
                                        

"KARAAA!"

"KARAAA WOY, SINI!"

Kara yang masih berdiri di area makam Delon sontak menoleh begitu mendengar teriakan yang memanggil namanya. di sana, di luar pagar utama----ada Amino yang berdiri dengan melambaikan tangan, di samping remaja itu juga ada Raksa dan Xenon. penjagaan keamanan di mansion utama memang diperketat hari ini, tidak semua tamu langsung dipersilahkan untuk masuk.

Amino, Raksa, dan Xenon contohnya. ketiga remaja yang baru pertama kali berkunjung itu tidak diperbolehkan untuk masuk, hingga mereka bertiga masih berdiri di luar pagar. 

Gala yang kini sudah berdiri di samping Kara menunduk menatap adik bungsunya itu dengan mengangguk. "Mereka sahabat Delon, Kara. mereka berhak tahu!"

Kara mengangguk dengan lemah. tangannya yang akan menarik tiang infus ditahan oleh Gala. hingga kini tiang infus tersebut beralih ke tangan Kakak keempatnya itu.

"Biar abang yang bawa, Kara!" ujar Gala yang kemudian menuntun Kara untuk berjalan ke arah pagar utama yang tidak jauh dari mereka. namun, sebelum berlalu dari sana. dia lebih dulu meminta izin kepada Zinc dan Zirco.

"Sombong bangeett nih pengawal lo, Kar. masa kita nggak dibolehin masuk!" keluh Amino begitu Gala dan Kara sudah berdiri di hadapan mereka. "Eh, anak manis, kenapa nih? kok diinfus? mata lo juga, Kar. kok sembab?!" tanyanya beruntun begitu melihat punggung tangan Kara yang diinfus, serta mata sembab remaja itu terlihat sangat jelas. 

Kara tersentak, wajahnya melirik ke sana kemari untuk menghindari tatapan Amino. "Aku tidak apa-apa, Amino. uhm, kalau ini aku hanya demam!"

Amino tertawa pelan mendengar jawaban Kara. "Get well soon, bro!" ujarnya yang kemudian merangkul tubuh remaja itu dari samping. "Eh, Delon mana, nih?" tanyanya kemudian yang dibalas raut cemas oleh Kara.

Raksa dan Xenon yang berdiri di sana ikut mengangguk begitu mendengar pertanyaan Amino.

"Delon mana, Kar?" tanya Raksa kembali karena Kara masih belum menjawab pertanyaan Amino, tadi. "Tu curut keasikan liburan, jadi lupa sama kita-kita!" lanjutnya mencibir yang dibalas anggukan cepat oleh Amino.

"Udah bolos sekolah dua hari, bela-belain ke Swiss, lagi!" keluhan Amino terdengar lagi. bahkan, terdengar sangat menggebu-gebu.

Kara berdiri kaku. meski wajahnya tidak berani menatap langsung ke arah mereka. "Uhm, kalian kok bisa tahu De----delon di sini?!" tanyanya mengalihkan.

Amino yang duduk di atas mobil berdecak. "Tiga hari yang lalu kita niatnya bolos sekolah mau main ke sana, eh pengawal lo bilang kalian lagi ke Swiss!"

"Kalian langsung nyusul?" tanya Kara terkejut. genggamannya pada tangan Gala bahkan kian kuat, ketiga sahabat Delon itu harus menelan kekecewaan begitu mengetahui jika sosok yang mereka cari saat ini sudah pergi, pergi untuk selamanya.

"Nggak lah, anjir! ogah bangeeet!" kelit Amino yang langsung dibalas senggolan di kakinya oleh Xenon. remaja yang sejak tadi diam itu kini menatap langsung ke wajah Kara yang terlihat kian gelisah. alisnya kemudian terangkat karena bingung begitu melihat reaksi yang putra bungsu Zirco itu tunjukkan.

Amino refleks mendengus dengan menjauhkan sepasang kakinya dari jangkauan Xenon.

"Nggak langsung, Kar. kita belum punya paspor. biasanya.. 'kan pakai jet pribadi!" Cerita Raksa. "Kita berangkatnya agak siang. pas banget bang Genta mau balik ke Manhattan, jadi kita ikut. ya udah, kita ke sana dulu. baru malam tadi berangkat ke sini!" jelasnya melanjutkan. tiga hari yang lalu, mereka yang berniat bolos dan akan berkunjung ke Mansion keluarga Flourine justru dikagetkan karena seluruh anggota keluarga yang katanya berangkat ke Swiss malam tadi, termasuk Delon. untuk alasannya, mereka tidak diberi tahu.

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang