"Sekalian aja gue nggak usah dijemput!" erang Delon kesal begitu melihat Kara yang baru melangkah ke luar setelah pintu mobil bagian kemudi terbuka. Terhitung sudah lebih dari tiga puluh menit bel sekolah berbunyi dan dia menunggu seorang diri di halte depan sekolah. Dia bertahan untuk menunggu selama itu, karena sang Ayah selalu mewanti-wantinya untuk tidak pulang sendirian. Baik itu menggunakan angkutan umum, ataupun berjalan kaki. "Besok nggak usah jemput gue deh, Om!" lanjutnya menggerutu ketika dua langkah lagi Kara akan tiba di depannya. Tapi, bukannya mengambil alih ransel hitam yang biasa Kara lakukan ketika menjemputnya, adik bungsu Ayahnya itu justru berlutut sebelum mendekap tubuhnya erat. "Om?" panggilannya dengan suara yang jelas terdengar bingung, terlebih begitu mendengar isak tangis Kara setelahnya. "Om kenapa?" tanyanya yang urung untuk kembali melanjutkan aksi protes begitu tahu jika adik bungsu Ayahnya ini sedang tidak baik-baik saja.
Bukannya melepas pelukan begitu Delon berusaha mengurai pelukan diantara mereka. Kara justru kian mempererat pelukan. Suara isak tangisnya terdengar teredam lantaran wajahnya yang tenggelam pada bahu Delon. Kedua tangannya yang melingkari tubuh Delon, terasa bergetar hebat, lidahnya juga seolah kelu hingga dia tidak bisa mengeluarkan suara apapun selain isak tangis, belum lagi detak jantungnya yang berdegup kencang dengan tidak stabil. Tapi, yang rasanya paling dominan, ialah perasaan takut yang dia sendiri sudah tahu asalnya dari mana.
"Om kenap--a?"
"Ma-maaf Delon maaf.." Kara menyela cepat dengan kepala yang kini menggeleng berulang kali dengan posisi yang masih memeluk tubuh Delon. Karena wajahnya yang sudah tidak tenggelam lagi pada bahu Delon, maka suara isak tangisnya terdengar jelas. Tapi tetap, dia masih enggan untuk melepas pelukan meski kini keponakannya itu berusaha untuk kembali melepas diri. "O-om minta maaf Delon. Ma-maaf.."
"Lebay bangeeeet, Om. Gue juga nggak jadi marah, kok." balas Delon karena merasa ucapan permintaan maaf dari Kara pasti merujuk pada keterlambatan menjemputnya hari ini. Tetapi, alih-alih diam setelah dia berkata begitu, suara isak tangis adik bungsu Ayahnya itu justru terdengar lebih keras. "Iya Om, iya. Gue maafin, kok." lanjutnya dengan tangan yang kini bergerak menepuk-nepuk punggung Kara. Tapi tetap, tidak berhasil membuat suara isak tangis itu senyap.
Bahkan sampai hitungan menit kelima, isak tangis Kara masih tetap terdengar. Delon tidak lagi berusaha melepas pelukan. Mungkin saja, adik bungsu Ayahnya ini tengah memiliki masalah yang membuatnya sampai seperti ini. Pada akhirnya, dia hanya diam sambil terus menepuk-nepuk punggung Kara. "Nangis aja, Om. Mau gue temenin, nggak?" tawarnya kemudian yang selang lima detik, mulutnya sontak mengeluarkan suara huu.. huu.. huu.. huuuu..,-yang jelas terdengar dibuat-buat. Suaranya bahkan terdengar seperti desisan orang melahirkan. Kendati demikian, isak tangis Kara tidak kunjung terdengar reda. "Om kalau ada masalah, bisa banget cerita ke gue. Yaa.. walaupun gue nggak bisa bantu cari jalan ke luar, setidaknya gue bisa bantu jebolin jalan lain." ujarnya setelah mengambil jeda untuk tidak membuat suara tangisan.
"Ba-bang.. b-bang Ar---"
"Kok Ayah gue, Om?" serobot Delon yang kemudian dengan cepat melepas pelukan diantara mereka. Bagusnya, Kara tidak menahannya seperti tadi.
Kara mengigit bibir begitu perasaan takut kian terasa mendominasi. Tatapannya yang tadi masih berani membalas tatapan Delon. Kini, tidak lagi. Kepalanya menunduk dengan air mata yang semakin deras mengalir membasahi pipi. "Ba-bang Ar kecelakaan dan dinyatakan meninggal dunia--"
Secepat itu indera pendengarnya menangkap setiap kata yang dituturkan oleh Kara, secepat itu pula telapak tangan Delon bergerak untuk memberi tamparan pada pipi kiri adik bungsu Ayahnya itu. "NGOMONG APA LO, SIALAN?!" tanyanya cepat yang lebih terdengar seperti sanggahan. Meski tidak dipungkiri, detak jantungnya spontan berdegup kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
Ficção GeralIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
