Delon berdiri kaku dengan kepala tertunduk begitu Raksa tiba-tiba berteriak memanggil namanya. dia yakin jika sahabatnya itu pasti mengingat kalimat yang dia ucapkan, tadi. kalimat yang sama yang pernah dia ucapkan sebagai penyambutan atas kunjungan pertama saat mereka resmi berteman, tiga tahun lalu.
Suasana mendadak hening. dua langkah yang sudah diambil oleh Raksa tiba-tiba terhenti begitu menyadari tingkahnya yang terlalu berlebihan jika menyangkut soal Delon. kepalanya lantas menoleh ke arah Xenon yang masih berdiri di samping. "Xe, lo lupa?" tanyanya yang langsung dibalas gelengan oleh sahabatnya itu.
Kening Kara mengernyit, raut terkejut sekaligus bingung terlihat sangat kentara di wajahnya saat mendengar nama Delon yang tiba-tiba disebut. kepalanya lantas menoleh ke belakang untuk menatap Raksa dan Xenon yang masih berdiri di ambang pintu. kakinya langsung melangkah mundur agar sejajar dengan mereka. "Kok Delon, Raksa?" tanyanya pelan.
Raksa terdiam. tidak mungkin dia menjawab jika kalimat yang remaja asing itu ucapkan sama persis dengan kalimat yang diucapkan oleh Delon, dulu. itu hanya kebetulan, karena kenyataannya, sosok Delon yang mereka kenal sudah pergi untuk selamanya.
"Raksa.. kenapa Delon?" tanya Kara kembali saat Raksa masih diam. namun, alih-alih mendapat jawaban. justru gelengan kepala yang dia dapat. dengan begitu, kakinya lantas kembali berjalan lebih masuk dan mendekat ke arah Delon.
Delon yang sejak tadi menunduk tidak berani mendongak begitu melihat sepasang kaki yang sudah berpijak di hadapannya saat ini. dia yakin jika sepasang kaki itu milik Kara. tangannya juga sejak tadi tidak lepas memeluk perutnya. bahkan, tangannya sampai berkeringat dingin. bukan karena minder begitu melihat tampilan adik bungsu Ayahnya yang terlihat semakin keren, melainkan takut bunyi perutnya yang kelaparan tiba-tiba terdengar. dasar perut gelandangan, runtuknya sejak tadi.
Kara yang sudah berdiri di hadapan Delon menelan ludah kelu seraya mengusap tengkuknya pelan. "Uhm.. maaf, kamu tidak salah masuk rumah, Dek?" tanyanya berusaha tenang. dia tidak tahu kenapa dia bisa se-kaku ini. padahal, dia hanya berbicara kepada anak kecil yang usianya jauh di bawahnya. setidaknya.. itu yang dia tahu saat ini.
Delon menahan diri agar tidak kelepasan tertawa, kedua sudut bibirnya bahkan berkedut begitu mendengar pertanyaan, serta mendengar panggilan Kara untuknya. namun, mulutnya yang sudah terbuka dan hendak menjawab, kembali terkatup begitu suara Amino terdengar menginterupsi.
"Pada ngapain ngalangin jalan, sih?! minggir, ah, gue mau masuk!"
Bukannya menyingkir dari ambang pintu, Raksa dan Xenon kompak menatap Amino dengan tatapan permusuhan hingga remaja itu menyengir seraya menggaruk kepalanya pelan.
Kara juga demikian, remaja itu ikut menoleh menatap Amino setelah cukup lama menunduk menatap Delon yang sejak tadi masih menunduk. apakah leher remaja itu tidak sakit? itulah pertanyaan yang sejak tadi bersarang di kepalanya, bukannya bertanya. dia justru terkesan membiarkan.
"Hehe.. okey deh okey, maaf. gue 'kan nggak sengaja tinggalin kalian!" ucap Amino dengan menyengir lebar. "Lagian, gue juga tadi masih dikejar, tahu!" lanjutnya yang hanya dibalas dengusan kasar oleh Raksa dan Xenon. lalu, tatapannya beralih ke arah Kara yang menatapnya dengan alis terangkat tinggi. "Kenapa, Kar?" tanyanya kemudian dengan melangkah masuk setelah memberikan bungkusan makanan yang baru saja dia beli kepada Raksa.
"Kamu tahu dia siapa, Amino?" tanya Kara dengan menggeser tubuhnya agar Amino bisa melihat Delon yang berdiri di belakang. dia juga kembali menatap remaja asing itu dengan kening mengerut begitu melihat kepala remaja itu yang masih setia menunduk. memangnya.. apa yang remaja itu cari di bawah? uang? atau, sampah?
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
General FictionIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
