Kembali patah?

5.4K 513 177
                                        

“AYAAAAAAAH!!” teriak Delon lantang yang spontan berlari meninggalkan bola yang tadinya dia dribble hingga bola tersebut memantul dan berakhir meninggalkan lapangan basket—begitu melihat mobil sang Ayah yang berhenti di pelataran depan mansion. Tidak sendiri, dari pintu kursi samping kemudi, ada sosok perempuan yang turut keluar dari sana.

Arsen, Neo, Gala, serta Kara yang tadinya tengah menunggu operan bola dari Delon, berakhir menggeleng begitu melihat remaja yang berstatus sebagai keponakan mereka itu berlari begitu saja meninggalkan lapangan.

“Iya, Delon. Ayah di sini.” balas Argon begitu putranya tiba di depannya, baru kemudian dia bertumpu dengan kedua lutut agar putranya itu tidak perlu mendongak ketika harus melihatnya. “Take a deep breath, Delon.. exhale.” pintanya kemudian begitu mendengar deru napas putranya yang terdengar memburu serta dadanya yang terlihat bergerak naik turun dengan gerakan cepat dan tidak teratur. “Santai saja, okay? Ayah tidak akan kemana-mana.” lanjutnya sambil mengusap puncak kepala putranya dengan gerakan teratur.

“Udah,” ujar Delon—yang dua detik kemudian mendongak dengan senyum mengembang begitu tatapannya bertemu dengan tatapan sosok perempuan yang kini berdiri tepat di samping Ayahnya—yang masih dalam posisi bertumpu dengan kedua lutut. “Aku Delon.” lanjutnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan kanan.

“Anak saya-” Argon melanjutkan setelah berdiri dan merangkul tubuh putranya dari samping—yang tinggi putranya itu sendiri hanya sebatas pinggangnya.

“Hallo, Delon. Saya Gabrielle, boleh panggil Kak Elle aja.” Perempuan dengan nama lengkap Gabrielle Gray Bailey itu balas tersenyum dan mengusap kepala Delon sesaat sebelum beralih menatap ke arah Argon. “Jadi berangkat jam berapa, Ar?”

Bukannya menjawab pertanyaan Elle, Argon justru menunduk menatap putranya. “Kau mau ikut Ayah, Delon?” tanyanya yang pada detik selanjutnya menggeleng pelan sembari berujar, “Maksud Ayah, kau akan ikut bersama Ayah, Delon!” —Yang kali ini terdengar seperti sebuah perintah yang tidak bisa dibantah.

“Mau kemana emangnya?” tanya Delon yang kali ini kembali menatap sang Ayah—hanya beberapa detik sebelum kembali menatap sosok perempuan yang baru saja berkenalan dengannya yang sekaligus memintanya memanggil sang puan—Kak Elle.

“Klien Ayah yang dari Jepang sore ini mengadakan resepsi pernikahan, Delon. Ingat? Kau pernah bertemu ketika menemani Ayah meeting di Singapura.”

“YANG KASIH AKU OLEH-OLEH MAINAN KUNCI ITU, ‘KAN? IYA ‘KAN?!” pekik Delon histeris yang spontan mendongak. Mengingat bagaimana Myoro—klien sang Ayah yang berasal dari jepang—yang juga pernah bertemu dengannya di Singapura dan memberinya mainan kunci sebagai oleh-oleh—menatap dirinya dengan ekspresi mengejek sewaktu memberinya mainan kunci seraya berkata, “anak kecil memangnya harus dikasih mainan, Delon. Kalau kita bertemu lagi, saya kasih susu deh. Okay, ‘kan?”

Nggakkk!! Delon nggak okee sama sekali!

Kedua sudut bibir Argon tertarik. Pun, kepalanya mengangguk membenarkan pertanyaan putranya. “Kalau begitu sekarang ayo masuk, Delon. Kau harus makan siang dulu.” ujarnya setelah menunduk sejenak menatap jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kiri. Pukul 11.57. “Jam tiga, Elle.” lanjutnya menjawab pertanyaan Elle beberapa saat lalu.

Begitu Ayahnya yang masih merangkul tubuhnya dari samping mulai melangkah memasuki mansion, Delon dengan cepat meraih tangan Elle untuk dia genggam agar bisa berjalan bersisian dengan dirinya dan sang Ayah. Jadi, posisi Ayahnya merangkul tubuhnya dari sisi kanan sementara dari sisi kiri dirinya yang menggenggam tangan kanan Elle. Terlihat seperti keluarga bahagia, bukan?

_____

Agenda makan siang yang biasanya memuat hampir seluruh kursi di ruang makan, maka siang ini hanya diisi oleh tiga orang, diantaranya ada Argon, Delon, juga Elle. Sementara Arsen, Neo, Gala, serta Kara menolak makan siang bersama dan memilih melanjutkan bermain basket di bawah teriknya panas matahari yang seperti berjarak satu jengkal di atas kepala—ketika ditanya akan ikut makan siang bersama atau tidak, beberapa saat lalu.

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang