Birthday chaos -

1.6K 218 13
                                        

Langkah kaki saya mengayun pelan menuju kamar Delon pada pukul lima lewat empat puluh sembilan—pagi. Hari ini, tepat pada tanggal tujuh belas September, anak saya berulang tahun, di mana pada tanggal ini, dia lahir ke dunia menjadi salah satu sosok yang menerima banyak rasa dari sang pencipta. Termasuk yang menerima banyak kebahagiaan dari saya dan keluarga saya. Kami memang tidak terikat darah yang sama, tapi itu tidak menghalangi saya untuk mencurahkan segala kasih serta sayang yang saya miliki untuk anak saya. Saya sangat bersyukur dia bisa bertahan sebelum bertemu dengan keluarga saya. Karena seandainya dia menyerah, mungkin saya tidak akan pernah melihat bagaimana ‘matahari’ bersinar terang di tengah-tengah keluarga saya.

Delon itu seperti sosok matahari, kehadirannya benar-benar berhasil mencairkan suasana hangat di tengah-tengah keluarga saya. Saya bisa membeli apapun yang saya inginkan tanpa menunggu hari berganti esok, tapi saya tidak bisa membeli kehangatan untuk keluarga saya sendiri. Saya selalu mengandalkan uang untuk apapun, termasuk kebahagiaan, tanpa pernah menanyakan apakah sesuatu yang saya beri membuatnya bahagia. Saya selalu egois, selalu menutup mata, dan selalu merasa paling benar. Nyatanya, semua yang saya lakukan salah, termasuk cara saya memberi kasih sayang kepada adik bungsu saya.

Langkah kaki saya semakin pelan saat pintu kamar anak saya sudah terlihat di depan mata. Saya berdiri, menatap pintu yang pada permukaannya terdapat tulisan timbul berwarna coklat keemasan, yang di sana tertulis—kamarnya orang ganteng—.

“Bang Ar?”

Saya spontan menoleh dan mendapati adik bungsu saya yang berdiri dengan tangan memegang kue tanpa ada lilin di atasnya dan dengan piyama tidur yang masih memeluk tubuhnya. “Kapan sampai, Kara?” tanya saya. Karena seingat saya, adik bungsu saya sudah dua hari ini pulang ke apartemen.

“Lima menit yang lalu, mungkin?”

Atas jawabannya yang terkesan tidak yakin, saya balas dengan anggukan. Tangan saya lantas bergerak mengusap puncak kepalanya dengan pelan. Setelah itu, saya serta adik bungsu saya melangkah masuk setelah pintu saya buka secara perlahan dan membiarkannya tetap terbuka lebar tanpa menutupnya kembali. Di atas tempat tidur masih terlihat anak saya yang berbaring menghadap kanan, tangannya terlihat erat memeluk guling tapi bantal sudah tidak ada di bawah kepala, selimut juga terlihat terbentang di bawah tubuhnya. Saya menggeleng, inilah pemandangan setiap pagi yang selalu saya lihat ketika datang untuk membangunkan.

“DEDEEEEE YUUHHHHUUUUU!!”

Baik saya maupun Kara langsung menghentikan langkah. Teriakkan menggelegar itu berasal dari Gala, adik ketiga saya itu berlari kencang menuju tempat tidur. “Gall-”

“Aduhhhh!”

“Abang!”

Mulut saya kembali tertutup rapat saat melihat kue yang dibawa adik bungsu saya berakhir sebagian di atas pipi kiri anak saya—yang saat ini terlihat menggeliat kecil, sebagian lainnya berakhir di atas tempat tidur. Saya melirik Gala serta Kara secara bergantian, adik ketiga serta adik bungsu saya itu masih duduk di lantai sambil mengaduh kesakitan.

Arsen serta Neo muncul selang beberapa menit, kedua adik saya itu tampak terkejut melihat apa yang sudah terjadi. Adik pertama saya—Arsenic, memegang kue yang di atasnya dipenuhi lilin-lilin kecil, sementara adik kedua saya—Neo, terlihat memegang kamera, kacamata, serta buket bunga di tangannya.

“Abang.. kuenya kena Delon.”

Gala yang sudah berdiri menganga, lalu pelan-pelan menempatkan diri berdiri di belakang Neo. Saya mendengus kecil, adik ketiga saya itu memang terkenal ceroboh sedari kecil, hanya saja ketika tumbuh dari tahun ke tahun, sifatnya pelan-pelan berubah menjadi kaku sama seperti saya dan kedua adik saya. Tapi, dua tahun terakhir ini berubah drastis.

“Apaan, nih?”

Kami yang masih berdiri dalam diam, spontan menoleh saat mendengar suara anak saya yang tiba-tiba terdengar. Saya mendapati anak saya duduk dengan tangan kanan memegang pipi kiri, ketika melihat telapak tangannya yang dipenuhi buttercream dan kemudian dibawa ke depan hidung, gerakan selanjutnya yang tidak pernah saya duga membuat mulut saya yang sudah terbuka untuk mengatakan sesuatu—berakhir kembali terkatup rapat.

“Ini kue?” tanya anak saya setelah menjilat buttercream yang ada di telapak tangan. Saya melangkah dan menduduki tempat tidur setelah mengambil tisu basah dari dalam laci samping tempat tidur. “Biar Ayah yang bersihkan, Delon.” ujar saya. Tapi, yang saya dapat justru penolakan.

“Kok dibersihin, Yah? Bukannya ini sengaja jadi kejutan buat aku?”

“Tadi bang Gala lari nabrak aku, jadi kuenya jatuh ke muka kamu, Delon.”

Tangan saya secara otomatis bergerak mengusap belakang leher saya sendiri. Suara adik bungsu saya yang melapor terlampau cepat, sampai saya sendiri tidak bisa mencegah. Saya tidak memiliki niat untuk menutupi. Tapi, jika diberitahu sekarang…

“ARGHHHHHHH BANG GALAAAAAAA!!”

Maka, ini yang akan terjadi-

Saya dengan cepat berdiri begitu anak saya melompat turun dari tempat tidur. Jadi, sekarang pemandangan yang saya lihat membuat saya menghela napas pendek berkali-kali. Aksi kejar-kejaran antara anak saya dan adik ketiga saya itu menjadi pemandangan yang saya serta ketiga adik saya saksikan dengan mulut tertutup rapat. Tidak ketinggalan pula teriakan serta lemparan bantal sofa oleh anak saya. Sementara adik ketiga saya yang dikejar terlihat sesekali menoleh ke belakang sembari memperlihatkan ekspresi mengejek.

“BANG GALAAAAAAA SIALAAAAAN!!”

“SINI NGGAK LOOO!”

“ARGHHHHHHH KEPALA LO GUE BOTAKIN LIAT AJAAAA!!”

“NGGAKKKK TAKUT WLEEE!”

“GUE ADUIN KE KAKEK GUE ARGHHHHHHH!! SINIII!”

“TUKANG NGADU HUUUUUUU!!”

Saya memijat kening. Terlebih setelah menunduk dan melihat angka pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri saya, pukul enam lewat dua belas menit.

“Ck. Harusnya tadi Kak Ar ikat aja kaki bang Gala.” kata adik kedua saya, yang disahuti kemudian oleh adik bungsu saya. “Aku juga tadi kepikirannya begitu, abang.”

Adik pertama saya menggeleng-geleng tapi terlihat sangat menikmati aksi kejar-kejaran yang sedang berlangsung.

“AYAAAAHH TANGKAP BANG GALAAAAAAA!”

Saya menoleh dan panik begitu melihat adik ketiga saya yang berlari naik ke atas tempat tidur dan melompat kemudian bersembunyi di belakang tubuh saya. Sementara anak saya yang turut berlari ke atas tempat tidur, dengan cepat saya tarik pelan dan saya dekap sebelum berhasil menjangkau adik ketiga saya.

“AYAAAAHH AWAAAASSS!!”

Saya justru semakin mengeratkan dekapan.

“OOOOooM TOLOOOONNNNGG!!”

“Bang Ar, biarin saja Delon pukul bang Gala. ‘Kan bang Gala salah.”

Saya tidak menanggapi ucapan adik bungsu saya. Saya benar-benar semakin mengeratkan dekapan, meskipun tangan anak saya memukul-mukul pinggang saya, saya tetap bergeming.

“ADUHHHH BANG ARSENNN TOLOOOONGG!! BANG NEOOOO TOLONG PUKULIN BANG GALAAAAAAA ARGHHHHHHH!!”

Teriakkan anak saya semakin menjadi-jadi. Sementara dari belakang saya bisa mendengar gelak tawa adik ketiga saya. Jelas saja itu semakin memancing kekesalan anak saya. “Gallium!” tegur saya agar adik saya itu diam. “Sudah, nak, sudah.”

“Bang Gala tuh Yaaaahhhh. Dari kemarin ganggu aku teruuuusss!” adu anak saya yang saya balas dengan usapan di punggungnya.

“Aku nggak mau ulang tahun hari ini kalau bang Gala nggak dihukum!”

“Iya, Delon. Nanti Ayah yang hukum, ya?” Pukulan pada pinggang saya berhenti. Setelah memastikan anak saya tenang, saya meregangkan pelukan dan menyamakan tinggi saya dengan anak saya. Kedua tangan saya bertengger pada kedua bahunya, saya lalu mengusapnya pelan sebelum mengatakan. “Anak Ayah Delona Archy, selamat ulang tahun, nak.”

🤫🤫🤫

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang