"A----apa.. apa yang kau katakan?!"
Delon yang masih memeluk Argon erat dengan menelungkupkan kepalanya di perpotongan leher Ayahnya itu mengigit bibirnya kuat. lidahnya terasa kelu. bukannya tidak sadar dengan apa yang dia katakan, tadi. dia bahkan sangat sadar. namun, pikirannya justru memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi. alhasil, alih-alih berkata jujur, mulutnya justru memberi bantahan. "Ma-----maaf, Om. gue tiba-tiba ke inget Ayah gue. lagian, Om kalau nangis keliatan jelek banget!"
Tentu saja itu adalah kebohongan yang hampir mendekati kata fitnah. Ayah angkatnya itu tidak pernah terlihat jelek, apalagi alasannya hanya karena menangis. dia juga heran, kenapa wajah Ayahnya tidak terlihat berbeda sedikitpun, masih terlihat sama seperti dulu. terlebih, penampilannya yang sekarang terlihat jauh lebih keren dan semakin tampan dengan tatanan rambut yang sengaja ditata tidak rapi. sial! jika seperti ini, dia akan merasa kalah keren. Delon mendengus samar, sedikit iri karena rambutnya yang sekarang semi ikal. dan, itu membuatnya risih.
Menghela napas ringan dengan debaran jantung yang kian menggila. Argon mengangkat tangan kanannya untuk mengelus punggung remaja yang masih memeluknya ini. tidak dipungkiri, degub jantungnya langsung bergemuruh hebat saat mendengar dua kata yang remaja itu katakan, tadi.
Setelah sepersekian detik terlewati. Delon bergerak melepas kedua tangannya yang sejak tadi melingar erat di leher jenjang Argon. lantas, tangannya dengan gerakan pelan menghapus sisa-sisa air mata yang masih memiliki jejak di kedua pipi Ayahnya itu. "Udaaah, Om. jangan nangis lagi, nanti gue traktir batagor, dua ribu, deh!"
Argon menggeleng sebagai tanggapan. pikirannya juga semakin tidak tenang, tanpa alasan. "Kita kembali sekarang!" serunya yang kemudian bangkit berdiri. dia tatap sekali lagi makam Angger dengan raut penuh sesal sebelum mengayun langkah untuk menjauh dari sana. namun, merasakan ujung jasnya yang ditarik. kepalanya sontak kembali menoleh ke belakang.
"Gue di sini sebentar, ya, Om? mau jemput hidayah!"
Meski bingung dengan perkataan remaja yang bernama Deka itu. Argon tetap mengangguk mengizinkan. "Saya tunggu di mobil!"
"Jangan ditinggal, Om!" ucap Delon memperingati. posisinya tidak bergerak sedikitpun sebelum melihat Argon keluar dari area makam.
"Hai, bang!" sapa Delon setelah berjongkok di samping makam Angger. "Delon di sini, bang!" lanjutnya seraya menghela napas pendek. kedua tangannya dengan pelan mengusap batu nisan yang terlihat berdebu. "Lucu, ya, bang? gue udah dua kali ke sini dengan wajah yang berbeda!" ungkapnya yang kemudian terkekeh. berbanding terbalik dengan perasaan nyeri, sekaligus sesak yang dia rasakan. rasa rindu akan sosok Kakak kandungnya ini memang kerap kali dia rasakan, meskipun dia tidak pernah mengutarakannya secara gemblang.
"Gue udah pernah bilang, 'kan, bang? rindu sama orang yang udah beda alam itu berat, berat bangeeet!" papar Delon. kali ini kekehannya terdengar pelan, tangan kanannya bahkan memukul dada kirinya dengan kuat saat rasa sesak yang dia rasakan kian menggila. belum lagi ulu hatinya yang berdenyut nyeri, nyaris membuatnya hilang kendali. "Perjalanan gue masih panjang, bang. dan, gue belum bisa ketemu lo!" ujarnya lirih saat isakannya ingin mengambil alih. "Pahala gue nggak terhingga sampai Tuhan tolak gue. gue harusnya bisa ketemu lo, bang!"
Delon kembali terkekeh. tangannya yang sejak tadi mengusap batu nisan. kini, beralih memeluk lututnya sendiri. "Gue nggak tahu harus bersyukur, atau marah sama Tuhan. kenapa hidup gue nggak se-keren wajah gue, bang? tapi, gue yakin, lo pasti bahagia karena tahu gue aman sama sahabat lo, 'kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
General FictionIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
