"Jawab Ayah, Delon!"
Untuk sampai pada titik dimana Delon bisa berada di tengah-tengah sebuah keluarga, diberi kasih sayang yang melimpah ruah, diberi peluk hangat tanpa pamrih, diberi kesempatan untuk dimanja, serta diberikan sosok se-sempurna Ayahnya. Seharusnya, dia cukup menikmati itu semua, karena seharusnya memang begitu. Dia hanya perlu menjalani hidup seperti biasa, menanggapi yang perlu ditanggapi, dan mengabaikan yang perlu di abaikan. Tapi, kali ini dia gagal. Gagal mengabaikan apa yang perlu dia abaikan. Rasanya, tiap-tiap kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat, seolah menamparnya pada sebuah kenyataan. Kenyataan yang membuatnya sadar jika kehadirannya di sini membuat hubungan antara anak sulung dan bungsu menjadi asing.
Isi kepalanya penuh, tapi tidak ada sedikitpun yang mampu Delon suarakan, rasanya berisik dan sangat menggangu, tapi lagi-lagi dirinya bungkam secara vokal. Baru kali ini dia merasa malu, malu yang terasa amat menyakitkan sampai dirinya merasa seperti sedang dikuliti. Dulu, dia terbiasa mendengar caci makian dari mendiang Ayahnya. Bosan mendengar dirinya yang harus melakukan ini itu agar bisa setara dengan mendiang saudaranya. Bosan pula diperlakukan seolah-olah dirinya adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak lahir. Seharusnya dia terbiasa, karena hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya ketika kecil. Tapi, tidak kali ini. Sekali lagi, dia gagal. Gagal karena berhasil mempengaruhi otaknya untuk memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu.
Sekali ada Delon, Kara terasingkan.
Kara terasingkan..
.. terasingkan.
Kara terasingkan. Dua kata itu tidak pernah Delon pikirkan, sekalipun tidak pernah sebelum orang lain yang merangkai dua kata itu menjadi sepasang kalimat yang membuatnya dihantui rasa bersalah selama seminggu ini. Katakan dia lebay atau semacamnya hanya karena kalimat singkat tersebut. Karena nyatanya, kalimat singkat tersebut berhasil membuat perutnya merasakan mual. Semakin dia pikirkan, semakin pula rasa bersalah membelenggunya bak gulungan ombak pasang yang enggan surut. Karena seharusnya yang dia lakukan dulu, adalah meninggalkan keluarga Kara dan kembali menjalani kehidupan seorang diri. Bukan malah semakin menyamankan diri sampai lupa jika di sini, dia tetaplah orang asing. Dia yang seharusnya dipasangkan dengan kalimat terasingkan, bukan Kara.
Kara, jika bukan karena Kara. Delon tidak akan pernah mendapat kesempatan berada di tengah-tengah mereka. Jadi, sekalipun Kara meminta nyawanya, akan dia beri tanpa pikir panjang. Ayahnya dan Kara, keduanya menempati bagian masing-masing di hatinya. Tidak perlu dipertanyakan dia lebih menyayangi siapa. Karena keduanya memiliki porsi yang setara.
"Ayah apaan, sih? Siapa juga yang menghindar?!"
Argon menggeleng, alisnya kontan terangkat begitu mendengar kalimat pengelakkan Delon. Putranya itu bahkan langsung bangkit setelah beberapa detik yang lalu dia paksa untuk duduk di atas sofa panjang ruang tengah. Setelah hampir seminggu dia diam dan membiarkan kepalanya memikirkan kesalahan apa yang dia perbuat sampai putranya itu menghindari dirinya. Maka sekarang, tidak lagi. Lantas, begitu mendapat kesempatan untuk bertanya setelah meminta Gala meninggalkan ruang tengah-dan tentu dirinya meninggalkan kantor karena isi kepalanya bukan lagi didominasi oleh beragam pekerjaan yang menanti, melainkan hanya nama putranya yang terpatri,-maka sekarang, dia di sini---turut berdiri begitu putranya berdiri setelah menjawab pertanyaan dari dirinya, atau lebih tepatnya mengelak.
Mungkin, bukan hanya Argon saja yang merasa jika Delon tengah menghindari dirinya. Melainkan seluruh anggota keluarga. Karena, bukan hanya Kara yang bertanya kepada dirinya mengenai perubahan putranya tersebut, melainkan semuanya, tanpa terkecuali Sharlock---yang biasanya selalu diam memperhatikan, kini turut buka suara. Jelas, karena cara putranya menghindar menuai banyak perhatian lantaran terlalu kentara, dari yang menolak diantar sekolah oleh dirinya dan lebih memilih diantar oleh Gala---yang sudah jelas jarang terjadi, sampai menukar tempat duduk ketika jam makan dengan siapa saja agar tidak duduk di sampingnya. Semua putranya lakukan dengan banyak cara, kadang mengajak keempat adiknya melakukan suit untuk menentukan siapa yang menang yang bisa duduk di kursi yang biasa putranya duduk-ki, harus cepat-cepat berangkat sekolah karena harus mengerjakan peer, atau terlambat bangun dan tidak sempat untuk sarapan. Dari alasan yang terakhir saja, mereka semua bisa menyimpulkan jika ada sesuatu yang terjadi sampai Delon menghindar seperti itu. Seperti ucapan Papi-nya tempo hari lalu, "Delon ada tapi terasa sepi". Karena semuanya tahu, kata sepi haram diucapkan ketika ada Delon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
Ficción GeneralIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
