"Mapel terakhir bahasa Inggris. Bolos, ya, Al?" Delon memasang raut memelas. Berharap bujukan sekaligus sogokan yang dia berikan dibayar dengan anggukan oleh Alkuna.
Namun Alkuna, remaja yang menjadi teman sebangku Delon itu mendengus sinis. Sembari menikmati jus mangga yang dibelikan Delon, raut wajahnya terlihat menimbang-nimbang. Awalnya, dia beri anggukan sebagai jawaban. Sedetik kemudian, kepalanya menggeleng dengan heboh. "Nanti ketahuan Om Kara. Ngeri gue sama Om lo yang satu itu, Del!"
"Ya 'kan Om gue nggak tahu. Gimana, sih, lo!"
"Tetep aja, Del. Gue masih trauma. Om lo ngeri banget sampe tega gantung lo kebalik!"
Delon mendelik dengan kesal. Lagi-lagi Alkuna mengungkit kejadian dua bulan lalu, kejadian yang membuatnya sedikit ngeri karena perlakuan Kara. Adik bungsu Ayahnya itu bahkan melakukan sesuatu di luar nalar. Bayangkan saja, ditengah tidurnya yang terusik karena mimpi buruk, dia kembali dikejutkan dengan tubuhnya yang digantung dalam posisi terbalik. Ah, sialan, mengingat kejadian itu kembali membuat tubuhnya terasa menggigil.
"Bolos sendiri deh, Del. Baiknya lagi kalau lo nggak usah bolos!" ujar Alkuna setelah sekian detik terdiam.
Delon menghela napas lesu. Dia bisa saja bolos sendiri. Namun, untuk naik ke tembok pembatas dia butuh bantuan Alkuna. Mengingat tembok tersebut tingginya melebihi dua meter. Yaaah.. tahu sendiri tingginya yang sekarang sudah disamakan dengan botol Yakult oleh yang maha agung readers.
"Gue kalau nggak bolos sekolah berasa banget jadi anak rajin, Al!" ucap Delon setengah mengeluh. "Padahal, nggak sekolah juga cita-cita gue bisa terwujud!"
Alkuna sukses melongo. Dia merasa telinganya tidak mendengar dengan jelas perkataan Delon karena suasana kantin semakin ramai. Namun, setelah meminta Delon mengulangi apa yang dikatakan tadi. Tetep, kalimat pertama yang dia dengar kembali terulang. "Cita-cita lo emang mau jadi apa, Del?" tanyanya penasaran yang alih-alih melanjutkan pembahasan mengenai 'bolos.'
"Tapi lo harus janji nggak bocorin ke siapapun, Al!"
Kening Alkuna mengernyit. Meski bingung, dia tetap mengangguk menyetujui. Begitu melihat Delon yang memberinya kode untuk mendekat, tubuhnya dia posisikan condong. Karena saat ini, jarak mereka dipisahkan oleh meja. "Gue janji nggak bakal bocorin ke siapapun, Del. Janji!"
Delon terbatuk kecil sebelum mendekat dan berbisik di samping telinga Alkuna. "Cita-cita gue mau jadi ketua mafia--"
"Brengsek!" Maki Alkuna langsung sebelum kalimat Delon usai terdengar. Mendengar dua kata terakhir saja membuatnya naik pitam. Apa kabar jika dia mendengar sampai akhir? Mungkin semua makanan yang dia telan akan kembali keluar. Bukannya apa, tapi Delon ini betulan spesies manusia yang rasa percaya dirinya tinggi, dia juga sempat disuguhkan cerita jika sebenarnya itu bukan tubuh asli Delon. Huh! Memangnya dia anak kecil yang gampang percaya dengan dongeng?
Mulut Delon yang sudah terbuka guna membalas makian Alkuna, justru kembali terkatup rapat begitu melihat kehadiran Kara yang melangkah cepat, -nyaris berlari dari pintu masuk kantin. "Om!"
Alkuna yang posisi duduknya membelakangi pintu masuk kantin segera menoleh ke belakang. Kelopak matanya berkedip dua kali sebelum berdiri dan melangkah mendekati Delon. Agaknya, bertemu dengan remaja yang dipanggil 'Om' oleh Delon itu masih membuatnya trauma hingga ingatannya secara otomatis kembali mengingat kejadian dua bulan lalu. Sumpah, ngeri coy!
Baik siswa maupun siswi yang berada di kantin juga menjadikan Kara pusat perhatian begitu remaja itu sudah berdiri di samping Delon yang masih duduk dengan santai.
Sementara Alkuna yang berdiri di sisi kiri Delon menunduk untuk menghindari, sebenarnya bukan menghindari, lebih tepatnya menahan diri agar tidak melihat wajah Kara. Sumpah, remaja yang dipanggil 'Om' oleh Delon itu tampan. Benar-benar definisi tampan yang sesungguhnya, dia sebagai laki-laki juga mengakui itu. Pahatan sempurna wajah Kara tidak memiliki cela sedikitpun. Aura bad boy juga tidak terlihat, betulan seperti anak kucing yang ekspresinya begitu manis saat tengah meminta makan. Setidaknya itu yang bisa dia deskripsikan sebelum melihat dengan mata telanjang bagaimana tubuh Delon digantung, lalu diturunkan dengan menembak tali gantung. Sejak saat itu, semua deskripsinya mengenai Kara 'si manis' seolah tertelan di dasar bumi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
Ficción GeneralIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
