Delon mengigit bibir bawahnya kuat saat menyadari jika Kara belum bertemu dengan Argon. terlebih setelah menyadari ucapan Ayahnya saat berada di dalam kamar. kembali.. kembali darimana?
"Kara, ayo!"
Tersadar dari keterdiamannya yang memikirkan banyak pertanyaan. Delon segera menarik ujung baju kaos Kara hingga remaja itu menoleh setelah berhenti melangkah. "Ikut.." pintanya pelan yang mengundang tatapan penasaran dari Arsen, Neo, maupun Gala. ketiga pemuda itu kompak menoleh dan menatap ke arahnya dengan intens. terlebih adik kedua Ayahnya itu. dari keempatnya, termasuk Kara. Neo yang paling dia hindari, karena pemuda itu memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. sebagai contoh, ketika identitas aslinya sebagai Delon belum terbongkar saat masih di tubuh Kara, dulu. pemuda itu berkali-kali bertanya tentang perubahannya yang sangat jauh, dari tutur kata, serta sikapnya yang tidak mau diatur.
Melangkah dengan menarik tangan Kara. Delon melewati ketiga pemuda yang masih diam dengan raut bertanya itu dengan langkah cepat. keduanya melangkah menaiki setiap anak tangga, dan berhenti tepat di depan kamar yang sebelumnya dia tempati.
"Kamu tahu abang aku di sini?" Kara bertanya heran. Kakak keduanya itu belum memberitahu di mana keberadaan Kakak sulung mereka secara rinci. namun, remaja ini justru tahu di mana keberadaan Kakak sulungnya itu.
Delon mengangguk mantap. "Kelebihan orang keren tahu semuanya. beda sama yang keliatan sok keren!" ujarnya setengah menyindir.
Memilih abai, Kara bersiap menekan knop pintu. namun, belum sempat terlaksana. pintu sudah terbuka dari dalam. "Abang!"
"Kara?!"
Keduanya kompak berseru begitu bersitatap di ambang pintu. rasa rindu yang tersimpan, terbayar dengan pelukan erat. bahkan, Kara sampai memekik girang begitu kembali melihat Kakak sulungnya yang sudah setahun ini memilih berada di Swiss. tanpa sungkan juga air matanya mengalir, membasahi kedua pipinya dengan deras.
Delon yang berdiri di belakang Kara tersenyum. meski rasa iri karena belum bisa memeluk tubuh Ayahnya timbul. dia harus bersabar, ini tidak semudah yang dia pikirkan.
"Abang-----"
Argon tersenyum tipis setelah melepas pelukannya bersama Kara. tangannya lantas terangkat mengusap rambut biru adik bungsunya ini. "Rambutnya jangan lupa diganti, sebentar lagi daftar kuliah, 'kan?"
Kara mengangguk setelah menyeka air mata. rasa bahagianya bercampur haru. terlebih begitu melihat keadaan Kakak sulungnya yang baik-baik saja. "Abang.. baik, 'kan?"
Argon mengangguk. kini, tangannya terangkat untuk menepuk puncak kepala Kara. "Tentu!" jawabnya. "Tapi di sini------" ujarnya melanjutkan dengan menepuk dada kiri. "Di sini masih sakit, Kara!"
"Kasih obat, Om. kalau nggak mau, biar gue yang obatin!"
Baik Argon, maupun Kara langsung menunduk begitu mendengar suara lain yang tiba-tiba terdengar.
Kara sendiri langsung mundur untuk mendekati Delon. karena, remaja itu berdiri di belakangnya sejak tadi. "Abang, kenalin, ini Deka!" ujarnya memperkenalkan yang kian membuat kening Kakak sulungnya itu semakin mengernyit bingung.
Argon mendadak diam. perasaannya mendadak aneh begitu kembali merasakan perasaan familiar, seperti sebelumnya. dia tidak salah, perasaan ini kembali muncul setelah setahun tidak dia rasakan. dan, itu kembali dia rasakan ketika berada dekat dengan remaja yang diperkenalkan Kara bernama Deka ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
General FictionIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
