"AYAH!"
"AYAAAH!"
Delon mencebik melihat Argon yang hanya meliriknya sekilas, meski dia sudah berteriak. Ayahnya itu berpura-pura sibuk menatap laptop, padahal jarinya tidak menekan apapun sejak tadi. karena saat ini, posisi mereka bukan lagi di balkon kamar, melainkan di ruang kerja.
Tadi, Delon juga sempat berpapasan dengan Neo. pipi pemuda itu terlihat bengap, persis seperti bekas tamparan. namun, saat dia tanya, Kakak ketiga Kara itu menjawab,
"Tidak apa-apa, Delon. ini bekas cakaran anjing!"
Delon tidak serta-merta untuk percaya. namun, dia tidak bisa bertanya lebih lanjut, karena Argon langsung berjalan meninggalkan Neo. dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena posisinya berada di gendongan Ayahnya itu.
Dan, ketika Delon sudah duduk manis di atas sofa. ada Sharing, Arsen, dan Gala yang masuk. ketiga pemuda itu kompak membawa bingkisan yang berisi makanan ringan untuk menemaninya agar tidak bosan. padahal, dalam keadaan lapar pun dia tidak akan bosan jika bisa menjahili sang Ayah.
Dan terakhir, ada Zirco yang datang menemuinya. tidak lupa pula memberinya nasihat agar tidak mengulangi kesalahan yang sudah dia lakukan. lalu Sharlock, pemuda itu datang dan langsung menanyakan hukuman apa yang diberikan oleh Argon. dan Delon dengan semangat menjawab. "Hiks.. Kaaak, aku ditodong pake senapan gedeee.. bentuknya mirip gergaji, huhuuuu------- aku sampe kaget, rasanya mau mati!"
Berkat aduannya yang terlalu mendrama. pipi putih Ayahnya itu langsung merah karena mendapat tamparan keras dari Sharlock. Delon cukup kaget, dia tidak menyangka jika sepupu Ayahnya itu akan berbuat seperti itu. meskipun begitu, dia hanya berkomentar, "Ayah yang malang!"
"Masa gitu doang Ayah marah? cemen bangeett!" ujar Delon mencibir. dia yang masih duduk selonjoran di atas sofa terus saja memancing Argon agar membalas perkataannya yang diabaikan sejak tadi oleh Ayahnya itu.
"AYAH!"
"AYAH, WOY!"
"BUDEK YA LO, ARGON!"
"Delon!" sentak Argon yang langsung berdiri di hadapan Delon. dia tatap putranya itu dengan tatapan memicing, meski raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi marah.
Delon merenggut dengan senyum terkulum. dia balas tatapan Argon saat Ayahnya itu sudah mengambil posisi duduk bersimpuh di hadapannya. "Keceplosan, Ayah. tadinya mau bilang Ayah tampan, tapi meleset gitu aja, hehe.." celetuknya dengan menepuk-nepuk puncak kepala Ayahnya itu.
Argon menghela napas panjang sebelum berujar. "Kau tahu Ayah sedang memikirkan apa, Delon?"
"Nggak tahu lah, yang pikir 'kan, Ayah, bukan aku!" jawab Delon sembari memilin rambut hitam Ayahnya yang kini duduk di bawah dengan posisi membelakanginya.
"------Ayah berpikir bagaimana harus mendidikmu lagi, Delon. Ayah keras, kau bisa lebih keras. Ayah sabar, kau justru tidak tahu diri!" jawab Argon dengan tertawa kecil yang langsung disambut jambakan pada rambutnya oleh Delon. putranya itu bahkan mendorong tubuhnya agar menjauh.
"Udah tua, inget umur! dikira nggak dosa apa ngomong gitu ke anak sendiri!"
Argon yang masih meringis mendengus dengan pelan begitu mendengar perkataan Delon. dia yang kini sudah berdiri, beralih mendudukkan dirinya di samping putranya itu. "Ayah benar-benar menyayangimu, Delon. kau harus berjanji untuk tetap berada di sisi Ayah!"
Delon menggeleng. tangannya yang masih dielus oleh Argon, dia tarik dengan cepat. "Nggak mau janji, ah. Ayah juga nggak mau beliin aku motor!"
Argon berdecih, pangkal hidungnya dia pijat dengan pelan. "Kau tidak bisa untuk tidak meminta benda sialan itu lagi, Delon? Ayah harap kau mengerti, Ayah lakukan ini demi kebaikanmu sendiri!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
Fiksi UmumIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
