"WOY, ANJIR!" Delon yang tadinya melangkah santai menuruni satu persatu anak tangga. kini, sontak berjalan cepat begitu melihat kehadiran Amino, Raksa, juga Xenon di ruang tengah. jaraknya memang cukup jauh. namun, jika di atas tangga seperti ini. dia bisa melihat dengan jelas. dia yang berjalan---hampir berlari, sontak berhenti mendadak begitu Kara muncul secara tiba-tiba, dan langsung mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
"ANJIR OM, TURUNIN, NGGAK!"
Kara yang tadinya berada di dapur dan melihat Delon yang berjalan cepat di tangga. langsung bergerak untuk menghampiri. padahal, dia sudah berulang kali menegur untuk tidak turun menggunakan tangga kepada anak angkat Kakak sulungnya itu. namun, tegurannya itu hanya dianggap angin lalu. "Kamu benar-benar keras kepala, Delon!" desisnya setelah mendudukkan Delon di atas sofa single. "---Sudah berapa kali ditegur agar tidak turun lewat tangga, hah?!"
"Serah!" balas Delon cuek. dia yang melihat ketiga sahabatnya duduk di sofa panjang. tersenyum cerah. "WOY, ANJIR! KALIAN KAPAN NYAMPE SINI?!" teriaknya yang langsung dibalas tepukan di bibirnya oleh Kara.
"Mulut kamu memang tidak pernah bisa berubah, Delon!"
"Emang nggak bisa berubah, Kar. sekalipun dipatok ayam juga, nggak bakal jera!" celetuk Amino yang disambut anggukan setuju oleh Raksa. keduanya melakukan tos, seolah-olah senang melihat tatapan kesal yang Delon tunjukkan. "-Gini-gini juga kalau udah menyangkut Delon, gue informan paling terpercaya!"
Kara mengangguk. tatapannya menatap bergantian antara Amino dan Delon. "Iya, kalian berdua sama. sama-sama banyak bacot!"
Kelakar tawa Amino terdengar keras, lalu disusul kemudian oleh Delon, dan terakhir Raksa. ketiga remaja itu tertawa sangat keras begitu mendengar suara Kara yang terdengar sewot. sementara Xenon hanya diam dengan kepala menggeleng.
Kini, Delon yang masih tertawa pelan. beranjak turun dari sofa single dan berniat mendudukkan diri bersama ketiga sahabatnya itu. namun, langkah kakinya terhenti begitu melihat kotak bekal yang berukuran lumayan besar di atas meja. "Itu apa?"
Raksa yang masih tertawa, sontak berhenti begitu mendengar pertanyaan Delon. begitu juga Amino. dan, Kara yang masih berdiri di tempat semula, mengerutkan kening. dia juga tidak melihat kotak bekal itu, tadi.
"Titipan bang Hellium, kesukaan lo, Del!" ujar Xenon menjawab pertanyaan Delon. tadi, sebelum datang ke sini. mereka semua berkumpul di Markas. bukan hanya Hellium, namun hampir seluruh anggota yang pernah ikut sunmori, juga berada di sana. pengecualian untuk Lawrence. karena, Kakak kandung Raksa itu masih berada di Manhattan saat ini.
"Tebak Del, isinya apa!" ujar Raksa melempar pertanyaan. kotak bekal itu dia angkat di hadapan Delon. kini, keduanya menjadi pusat atensi. baik Amino, Kara, dan Xenon menatap ke arah mereka berdua.
Delon menelan ludah. perut spek gelandangannya seakan berbunyi nyaring ingin melahap isi dari kotak bekal tersebut. dia yakin, isinya masih sama seperti sebelum-sebelumnya. karena masakan Hellium, hampir semua pernah dia makan. mengangguk yakin, mulutnya lantas kembali terbuka untuk menjawab. "Onigiri!"
"Ding, Ding, Ding! Selamat, tebakan anda benar, anda berhak mendapatkan Onigiri beserta telur gulung. Yeay!"
Raksa dan Delon kompak bertepuk tangan dengan cengiran lebar yang terlihat. keduanya bahkan langsung bergerak untuk duduk di atas karpet bulu. Amino dan Kara ikut bertepuk tangan sebelum bergabung untuk duduk di bawah. sedangkan Xenon hanya menggeleng melihat tingkah mereka. dia tidak berniat untuk bergabung, dia bahkan dengan santai menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Ngomong-ngomong, besok motor gue dateng, dua sekaligus!" Cerita Delon. meskipun kini mulutnya sibuk mengunyah, dia tetap antusias untuk bercerita. "-Dibeliin Ayah gue dong, sama Kakek!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
General FictionIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
