★ D.A - S3 - 07 ☆

13.8K 1.7K 357
                                        

"Ck! Tadi Deka lari ke mana?!"

Kara melangkah dengan tatapan yang terus mengelilingi area Bandara. dia kehilangan jejak Delon. dia bahkan baru bergerak membuka pintu mobil saat remaja itu sudah berlari masuk.  hingga sekarang jejaknya tidak tertangkap oleh kedua iris hitam terangnya. "Lagipula.. Deka mau ketemu siapa?!"

Suasana Bandara pagi ini cukup ramai. Kakak sulungnya itu bahkan berangkat satu jam sebelum jadwal penerbangan. alasannya? tentu untuk menghindarinya. Sharing yang mengatakan hal itu ketika dia sudah turun dan mendapati keadaan Mansion yang sangat sepi. Arsen, Neo, juga Gala ikut serta untuk menemani. sementara Sharlock, sepupunya itu sudah berangkat pagi-pagi sekali ke kantor. Ayah kandungnya itu juga masih berada di Jerman, dan akan kembali siang nanti. Kara berhenti melangkah begitu ponselnya berdering, ada panggilan masuk dengan nama Xenon X tertera di layar.

"Kara?"

Kara mengernyit saat menyadari nada suara Xenon yang terdengar ragu saat panggilan sudah tersambung. "Iya, Xenon? ini Kara. kenapa?" jawabnya seraya kembali melanjutkan langkah.

"Deka, di mana?"

Kara berdahem. "Hilang!" jawabnya jujur. "---Aku kehilangan jejak Deka!" lanjutnya menjelaskan. "Aku tidak tahu dia mau ketemu siapa di Bandara-----"

"Kara, dengar!------fuck! sialan! putar balik cari jalan lain! shit! kenapa harus macet sepagi ini?!"

Kara terkesiap. kalimatnya belum usai, namun Xenon lebih dulu menyela dengan cepat, terlebih umpatannya yang ikut terdengar. padahal, remaja itu memiliki sikap setenang air. suara klakson juga terdengar bersahutan-sahutan. dia yakin, jika remaja itu tengah berada di dalam mobil untuk menuju Bandara, sekarang. "Ya, aku dengar!"

Ada helaan napas panjang dari Xenon sebelum suaranya kembali terdengar. "Delon----"

Langkah Kara terhenti begitu Xenon tiba-tiba menyebut nama Delon. terdengar sangat menggantung. dia bahkan sampai menunduk saat hampir lima belas detik tidak ada suara lagi yang terdengar. "Xe?"

"Jiwa Delon----ada di tubuh Deka, Kara!"

Kara merenggut begitu ponselnya terjatuh karena menabrak seseorang dari arah berlawanan. saking tidak fokusnya setelah mendengar kalimat Xenon, dia bahkan tidak percaya jika telinganya akan mendengar kalimat seperti itu. "Sorry, Xenon. bisa katakan sekali lagi? aku tidak dengar!" ujarnya setelah kembali menempelkan ponsel di samping telinga.

"Dia Delon, Kara, bukan Deka-----"

Kara mendengus kecil. kalimat Xenon masih terdengar menggantung. dia bahkan harus memukul dadanya beberapa kali saat ritme jantungnya tiba-tiba bergemuruh hebat. fokusnya terbagi. "Xe------"

"I know, lo pasti nggak percaya, 'kan?"

Lagi, bantahan yang akan Kara ucapkan kembali terhenti karena Xenon menyela dengan cepat. dan, itu benar-benar tepat sasaran. dia memang tidak percaya apa yang sahabatnya itu katakan. gemuruh jantungnya kian hebat, tatapannya juga sangat linglung menatap ke arah depan.

"Siapa yang ada di Bandara? abang lo?" Helaan napas berat Xenon terdengar. "Om Ar?" lanjutnya memastikan. "Lo nggak mikir kalau dia-----maksud gue Delon nyusul abang lo, Kar?!"

Belum pulih dari rasa terkejutnya. Kara kembali dihadapkan dengan fakta yang tidak dia pikirkan. perasaannya kian bertalu-talu. bodoh! makinya pada diri sendiri. dia bahkan lupa, remaja yang bernama Deka itu sangat panik setelah dia mengatakan jika Kakak sulungnya akan menetap di Swiss. dan, di dalam mobil tadi. remaja itu terus menangis histeris. dia tidak tahu alasannya apa. dia juga tidak memiliki kesempatan untuk bertanya, karena remaja itu terus terisak keras. tapi sekarang, kalimat-kalimat yang Xenon ucapkan semakin terdengar masuk akal. Argon---Swiss---Delon.

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang