★ D.A - 09 ☆

19.2K 2.1K 201
                                        

Delon yang berlari di lorong lantai tiga mendadak berhenti begitu melihat Zirco dan Kara yang keluar dari dalam lift. "Daddy!" sapanya begitu tiba di depan keduanya.

Zirco yang merangkul tubuh Kara dari sisi kanan beralih merangkul tubuh Delon di sisi kiri. pria yang berusia 45 tahun itu mengecup puncak kepala Delon sebelum kembali melanjutkan langkahnya. ketiganya kembali masuk ke dalam lift.

"Daddy tahu? Delon panggil aku Om, loh!" Beritahu Kara antusias.

Zirco tersenyum tipis. Kara selalu menyukai hal-hal yang bersangkutan dengan Delon. putra bungsunya ini amat sangat bahagia mendapat sosok yang ceria seperti anak angkat putra sulungnya itu. tidak mengherankan, karena selama ini, putranya itu selalu berhadapan dengan keempat Kakaknya yang kaku. "Oh, ya? benar begitu, Delon?" tanggap, serta tanyanya kemudian. padahal dia tahu, kedua remaja itu hanya berselisih tiga hari saja. Delon yang lahir pada tanggal 17, tiga hari setelahnya baru Kara. untuk menjadi Om dan keponakan memang terdengar sangat lucu bagi keduanya.

Setelah memberikan pelototan kepada Kara tanpa sepengetahuan Zirco, Delon mengangguk. "Kara yang minta, Daddy. aku nggak tega buat nolak!" elaknya yang dibalas gelengan ribut oleh Kara.

"Tidak begitu, Daddy. begini----- kami kan waktu itu kabur-----"

"Kabur?" sela Zirco menghentikan Kara yang akan bercerita.

Sementara Delon memijat pelipisnya dengan tersenyum miris. "Karaaa..." gerutunya pelan.

Kara mengangguk. "Kami 'kan waktu itu kabur ke Bar, Daddy----"

"Bar?!"

Kara merenggut. "Diam dulu, Daddy! aku akan cerita, jangan dipotong!" sunggutnya. melihat Delon yang melepas rangkulan Ayahnya, dia bergerak melakukan hal yang sama.

"Waktu itu kita kabur malam apa, Delon?" tanya Kara. kepalanya menoleh untuk melihat Delon, namun, remaja yang dia cari itu sudah tidak berdiri lagi di sisi kiri Ayahnya. kepalanya kembali menoleh ke segala arah dan menemukan Delon yang duduk lesehan di pojok lift.

"Delon, kenapa kau duduk di sana, kemari!" Panggil Zirco yang dibalas gelengan oleh Delon.

"Aku di sini aja, Dad. Kara kan mau cerita, lanjutin aja, Kar!" ucap Delon menolak. "Awas lo nanti sama gue, Kar!" lanjutnya pelan.

Kara mengangguk setuju dengan ucapan Delon. dia berdiri menghadap sang Ayah yang kini bersandar pada tembok lift dengan bersedekap dada. "Begini-----Daddy. malam itu kan kami kabur ke Bar, Delon tanya dia udah mirip mafia apa belum, pas aku bilang 'Mirip' Delon langsung panggil aku Om!" Ceritanya dengan menoleh menatap Delon yang duduk dengan kepala menunduk. 

Zirco memijat pelipisnya begitu mendengar cerita Kara. "Bagaimana kalian bisa kabur, Kara?" tanyanya setelah menghela napas berat.

"Itu loh, Daddy---ada pintu di belakang pohon mangga!"

Delon yang mendengar pengakuan jujur Kara semakin menunduk. bibirnya semakin mengulas senyum miris.

Helaan napas berat kembali dilakukan oleh pria paruh baya itu, tubuhnya yang bersandar, kini menegak begitu melihat waktu yang tersisa kurang dari dua puluh detik. "Berdiri, Delon. kemari!" perintah Zirco yang langsung dilaksanakan oleh Delon.

Sementara Kara kembali merangkul Ayahnya dari sisi kanan.

Tidak tahan dengan keheningan yang terjadi, Delon sontak bertanya. "Daddy, kapan sampai?" Kepalanya mendongak menatap Zirco yang kini menunduk menatapnya dengan tersenyum hangat.

"Baru saja, Delon. Daddy merindukan kalian berdua, kata Kara kau sakit?" jawab Zirco sekaligus bertanya.

"Cuma demam sedikit aja, Dad. aku 'kan anak kuat!"

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang