"Ganteng amat bos. Mau caper ke siapa, sih?"
Argon yang berdiri di hadapan cermin panjang seukuran dirinya-di dalam ruang walk in closet,-seraya mulai mengalungkan dasi pada kerah kemeja, hanya bergumam kecil sebagai tanggapan, baru kemudian menoleh ke arah sofa panjang yang di atasnya ada Delon yang berbaring dengan posisi menyamping---masih menggunakan piyama tidur. Putranya itu tumben sekali sudah bangun sebelum dirinya yang bangunkan. "Kau juga harus siap-siap sekolah, Delon. Gih, duluan ke kamar, nanti Ayah menyusul setelah selesai."
"Ayah pernah ketemu Miss Vivien, nggak?" tanya Delon yang alih-alih menanggapi kalimat perintah Ayahnya tadi---karena kini, dia masih santai berbaring sambil melihat Ayahnya yang saat ini sudah selesai memakai dasi dan terlihat melangkah ke arah lemari penyimpanan parfum. Lima detik setelahnya, wangi familiar seolah menyebar ke seluruh ruang walk in closet begitu Ayahnya itu selesai menyemprotkan parfum pada area belakang leher, belakang telinga, serta kedua pergelangan tangan. Aroma woody yang hangat dan maskulin dengan sentuhan floral yang segar, seolah suits Ayahnya as if it has been his signature scent. The sweet, powdery notes cling to his skin and become one with his natural body odor. Aromanya cukup kuat tapi tidak sampai membuat kepala pusing---justru, wanginya cukup menenangkan dan membuat candu. Atau, mungkin karena Ayahnya yang pakai? Dia sendiri sih yakin kalau Ayahnya punya pacar, pacarnya itu pasti akan betah memeluk Ayahnya dua puluh empat jam.
"Miss Vivien?" tanya Argon setelah kembali meletakkan botol parfum pada tempat semula dan menoleh ke arah sang anak yang kini langsung duduk dan mengangguk dengan kuat. Nama yang putranya itu sebut terdengar tidak asing, mungkin salah satu guru yang mengajar di sekolah.
"Iya Miss Vivien, guru bahasa Inggris." jawab Delon begitu mendengar suara Ayahnya yang sarat akan tanya. "Masa katanya Miss Vivien pacaran sama muridnya sendiri, sih, Yah?" katanya melanjutkan dengan menggebu-gebu, ekspresinya terlihat jelas jika saat ini dia tengah menunggu jawaban dari sang Ayah,-yang Ayahnya itu sendiri kini sudah berdiri di depan lemari penyimpanan jam tangan dan tengah memakai jam tangan pada pergelangan tangan kiri. Pilihan Ayahnya jatuh pada jam tangan Rolex Oyster Perpetual dengan rantai berwarna silver dan dial berwarna hitam serta berdiameter 36. Jam tangan tersebut hadiah dari Kara ketika Ayahnya berulangtahun, tahun lalu.
Argon lebih dulu mendudukkan diri pada sofa single yang ada di dekat lemari yang menyimpan beragam jenis sepatu sebelum menanggapi, "oh yaa?" -yang disambut anggukan antusias. Bahkan kini, anaknya itu kembali mengubah posisi duduk, yang tadinya selonjoran, berganti menjadi bersila untuk semakin menyamankan diri sebelum kembali membeberkan gosip yang didengar di sekolah. Kepalanya lantas menggeleng dengan senyum kecil yang turut terbit. Hal-hal seperti ini menjadi hal baru baginya. Mengingat dulu dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan beragam jenis dokumen. Namun, kini seolah memiliki waktu luang untuk mendengar sebuah gosip tidak jelas.
"Iyaaa!" seru Delon kian antusias begitu mendengar tanggapan dari Ayahnya yang turut penasaran. Meski setelah menanggapi, Ayahnya itu kembali menyibukkan diri memakai sepatu setelah sebelumnya mengelap telapak kaki menggunakan tisu basah sebelum memakai kaos kaki. "Soalnya ada yang liat Miss Vivien berangkat bareng ke sekolah. Ada juga yang ketemu mereka lagi makan malam bareng. Terus, masa katanya Miss Vivien juga jadi selingkuhan kepala sekolah. Ihhh.. padahal Miss Vivien keliatannya berkelas banget, cantik, anggun, kalem. Sayang banget malah kayak gitu-"
"-Delon."
Saking serunya membeberkan gosip yang dia dengar dari sekolah, Delon sampai tidak sadar jika Ayahnya kini sudah berdiri tepat di depannya. Sudah rapi seperti biasa meski belum memakai jas dan hanya mengenakan setelan khas kantoran---yakni kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam, kaki Ayahnya are tall and lean which makes every step he takes seem effortless,-senada dengan dasi yang sudah terpasang rapi. Kali ini, Ayahnya bukan hanya tampan berwibawa, bukan hanya ganteng dengan aura yang aur-auran, bukan hanya menarik serta mempesona. Tapi kali ini, visual wajah Ayahnya seolah menampar realita kehidupan hanya karena potongan rambut baru yang membuat Ayahnya beribu-ribu kali lipat terlihat tidak manusiawi---gantengnya. Okay sorry, dia terlalu hiperbola. Tapi ARGHHHH, bisa tidak visual wajah Ayahnya yang seolah menampar realita kehidupan itu dikurangi sedikit, sedikit bangeeeet juga tidak apa-apa asal dikurangi. Masalahnya di sini, dia jadi tidak percaya diri menjadi anak dari seorang Argon Archy Flourine. Ihhhh keseeel!
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
General FictionIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
