Nyatanya, bukan hanya bunga saja yang membutuhkan waktu untuk mekar. Melainkan kehidupan juga. Jika bunga memiliki beberapa komponen agar tumbuh dengan cepat, serta sesuai harapan. Kehidupan juga demikian. Tidak selamanya kesedihan menyapa. Terkadang, kesedihan hanya bumbu yang dihaluskan, namun tidak sempat ditambahkan. Sama seperti Delon, kesedihan yang dilalui selama beberapa tahun terakhir, berbuah manis. Saking manisnya, dia tidak membutuhkan komponen lain untuk bertahan hidup. Komponen ajaib yang seolah menyerap seluruh kehidupan, beserta eksistensinya di dunia sudah dia temukan. Sosok itu ialah pemuda yang selalu meluangkan waktu untuk berselisih paham dengannya, dulu.
Tuhan memang adil. Kelahiran, sekaligus kehadirannya di dunia tidak diharapkan oleh kedua orang tua kandung. Namun, keluarga lain justru mengharapkan kehadirannya di tengah-tengah mereka. Ikatan takdir yang sudah terikat tidak akan bisa dibuka begitu saja. Sama halnya dengan apa yang dilalui oleh Delon. Karena pada dasarnya, dia tidak pernah berharap kehidupannya akan berjalan seperti ini. Mempunyai sosok Ayah yang begitu sempurna, juga memiliki anggota keluarga yang nyaris lengkap. Itu cukup, bahkan lebih dari cukup untuknya yang haus akan perhatian, dan kasih sayang.
Kini, alur hidup Delon berubah. Dari yang pahit, menjadi manis, semanis senyum Ayahnya yang selalu dia lihat.
Dan, sesuai ucapan Delon yang akan menagih janji akan hadiahnya saat di rumah sakit, tiga minggu lalu. Kini, dia sudah mendapatkan hadiahnya itu. Tahu apa yang dia minta? Iya, sekolah umum. Ayahnya setuju? Tentu. Dengan syarat, dia harus mengulang kembali dari kelas VIII sekolah menengah pertama.
Alih-alih menolak, Delon justru setuju. Dia tidak masalah akan hal itu, dia bahkan percaya jika dirinya bisa kembali mengulang. Karena, selain belajar, dia juga menginginkan kebebasan.
Sementara Kara, remaja itu benar-benar menarik keinginannya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Setelah tiga hari mengikuti ospek. Kini, dia sudah resmi menjadi mahasiswa di jurusan Kriminologi.
"Kami umumkan kepada siswa yang memiliki nama lengkap Delona Archy Flourine, untuk segera ke ruang guru!"
Delon tersentak begitu mendengar namanya yang diumumkan melalui pengeras suara. Kepalanya sontak mengedar menatap seisi kelas. "Jancok!" gerutunya pelan begitu semua pasang mata menjadikannya pusat atensi. Pun, dengan seorang Guru yang tengah berdiri menjelaskan di depan kelas. Dia juga yakin jika seluruh murid di sekolah mendengar pengumuman tadi.
"Dipanggil tuh, Del. Perasaan lo kemaren nggak bolos, deh!" Alkuna, teman sebangku Delon itu berbisik pelan. "Apa lo bolos nggak ngajak gue?" lanjutnya bertanya dengan tatapan memicing.
"Bolos mata lo, belum jam pulang aja Ayah gue udah nungguin!"
"Sekali lagi kami panggil siswa atas nama Delona Archy Flourine---"
Enggan mendengar pengumuman itu lebih lanjut. Delon segera bangkit, dan meminta izin pada Guru yang ada di depan. Begitu izin sudah dia dapat, sepasang kakinya sontak melangkah cepat untuk keluar kelas. Namun, begitu pintu sudah dia buka. Sosok Ayahnya yang berdiri menggunakan seragam pilot membuatnya terheran-heran. Dia tidak salah lagi, itu memang seragam pilot, bukan setelan jas yang biasa Ayahnya pakai.
"Ayah?"
Argon mengangguk dengan senyum mengembang sembari menepuk puncak kepala Delon dua kali. Dia tidak membalas karena masih sibuk dengan panggilan yang tersambung di ponsel. "Batalkan semua janji sampai seminggu ke depan!" ujarnya yang kemudian mengakhiri panggilan.
"Ayah mau ke mana?" Delon mendongak. Perasaannya mendadak cemas begitu mendengar ucapan Ayahnya, tadi.
"Kita akan ke Swiss, Delon!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
Ficción GeneralIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
