Teriakan Arsen, Neo, juga Gala yang terdengar saling bersahutan disusul kemudian oleh teriakan Delon. ketiga pemuda itu bergeming, masih terlalu terkejut karena tindakan impulsif adik bungsu mereka. hanya Deka----ah, Delon? hanya remaja itu saja yang berlari mendekati Kara.
Kedua telapak tangan Kara yang terkepal, mengendur secara perlahan begitu merasakan ada tarikan di ujung jaket yang dia pakai. kepalanya sontak menunduk, ada remaja mungil yang sebelumnya dia kenal dengan nama Deka. namun kini, remaja itu adalah keponakannya sendiri, anak angkat Kakak sulungnya yang mereka anggap sudah tiada, Delona Flourine.
"Cengeng!"
Atas ejekan yang dilontarkan oleh Kara, justru dibalas pelukan oleh Delon setelah adik bungsu Ayahnya itu mensejajarkan tingginya. "Om Karaaa.."
Kelopak mata Kara terpejam untuk menikmati debaran jantungnya yang berdegup semakin kencang. seolah ada beban yang terangkat, rasanya sangat melegakan. belenggu yang mengikatnya dengan kerinduan mendalam akan sosok anak angkat Kakak sulungnya itu seakan terlepas. perasaan bahagianya terasa meledak-ledak, belum lagi pikirannya yang juga terasa sangat ringan. kombinasi yang sangat sempurna, hingga bibirnya mengulas senyum dengan sangat menawan.
Sementara itu Arsen, Neo, juga Gala masih berdiri di tempat semula. ketiganya saling menatap bergantian antara Kakak sulung mereka yang kini sudah berdiri, dan adik bungsu mereka yang tengah memeluk Delon dengan erat.
"Kara!"
Kara kembali memejamkan kelopak matanya sejenak begitu mendengar panggilan Argon. Kakak sulungnya itu kini sudah berdiri di depannya. alisnya sontak terangkat tinggi, dia balas tatapan bingung Kakak sulungnya itu dengan tatapan yang amat sinis. kedua tangannya yang sejak tadi mengusap punggung Delon, kini beralih mendekap anak angkat Kakak sulungnya itu semakin erat seraya berbisik. "Om di sini!"
Delon yang kembali terisak dengan menyandarkan kepalanya di pundak Kara, tertawa pelan seraya memukul punggung adik bungsu Ayahnya itu dengan kuat secara berulang kali. sebuah kombinasi yang sangat bangsat yang tadi sempat membuat otaknya buntu, kini terasa amat melegakan. meski sesak di dada terancam membuatnya kesulitan bernapas karena merasa sangat terhimpit. "Pe----percaya?" tanyanya terbata.
Alih-alih menjawab, Kara justru berdiri dengan menggendong tubuh mungil Delon ala koala. tatapannya kembali jatuh kepada Argon, Arsen, Neo, lalu Gala. dia tatap keempat Kakak kandungnya itu dengan tatapan memicing tajam. "Kalian akan terima akibatnya!" desisnya yang kemudian mengayun langkah untuk menjauh. langkahnya begitu tegas membelah kerumunan yang sempat mengelilingi mereka. ya, sejak tadi mereka menjadi pusat perhatian oleh orang-orang yang ada di Bandara.
Gala sukses melongo begitu melihat perbuatan Kara. kelopak matanya benar-benar mengerjap lambat dengan kaki yang bergerak acak di bawah sana. "Kak?" Panggilnya yang merujuk kepada Argon.
Rahang Argon mengeras, pun dengan kedua telapak tangannya yang terkepal dengan sempurna. tidak tinggal diam. kakinya mengayun langkah cepat untuk menyusul kepergian Kara dengan emosi yang meledak-ledak. Arsen ikut menyusul kemudian. begitupun dengan Neo, namun kembali terhenti seraya menoleh menatap Gala yang masih diam dengan raut linglung. "Hubungi Papi, Kak Ar tidak akan kembali ke Swiss!"
"Kak, tapi?---"
"Ck! Lakukan, sialan! jangan membantah!"
Gala kembali mengerjap dengan lambat se-usai kepergian Neo. dia tatap kepergian Kakak ketiganya itu dengan perasaan jengkel "Bego! harusnya gue nolak!" gerutunya kesal. meski begitu, tangannya tetap meraih ponsel untuk menghubungi Zinc.
💘
"BERHENTI, KARA!"
"KARA!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
Ficção GeralIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
