★ D.A - S3 - 28 ☆

11.5K 1.4K 246
                                        

"Tuan muda Delona?"

"Tuan muda---" Janc tersentak begitu tangan Delon yang memeluk lehernya erat, justru kian mengerat. remaja yang berstatus sebagai anak angkat Argon ini terus saja meracau sejak di mobil, sampai kini mereka tiba di rumah sakit. bahkan, sejak mereka keluar dari Mansion, remaja itu tidak pernah sekalipun membuka kelopak mata.

"Tuan muda Delona?" panggil Janc sekali lagi agar Delon segera sadar. posisi mereka kini masih berada di dalam lift untuk menyusul Kara yang sudah lebih dulu dibawa ke lantai atas.

Sementara Kara, remaja itu benar-benar tidak sadarkan diri sejak di Mansion. dan kini, dia tengah ditangani oleh Dokter senior setelah tadi para perawat memekik terkejut. karena, yang menjadi pasien mereka ialah putra bungsu seorang Zirco. dua tahun yang lalu, lantai lima resmi dialihkan menjadi milik keluarga Flourine yang diserahkan langsung oleh pemilik rumah sakit, yaitu keluarga Beryllium.

Tiba di lantai lima, keempat pengawal yang ikut langsung menempatkan diri di depan ruang rawat Kara. pengecualian untuk Janc yang masih berusaha untuk membangunkan Delon yang masih terisak dengan kelopak mata terpejam. dia juga sesekali mendengar racauan remaja itu yang mengatakan, "A---aku.. aku memang pembawa sial!"

"Tuan muda Delon---a?" Janc langsung terdiam begitu kelopak mata Delon sudah sepenuhnya terbuka. remaja itu sontak menatap sekeliling dengan kepala yang sesekali tersentak lantaran masih sesenggukan.

Begitu diturunkan. Delon langsung mengambil posisi duduk di bawah kursi tunggu dengan memeluk kedua lutut, serta menenggelamkan kepalanya di sana. isakan turut terdengar, meski suaranya sudah amat serak. bayangan semu yang terbersit, sampai skenario buruk yang diciptakan oleh dirinya sendiri semakin membuat ketakutannya mencuat ke permukaan. Kara, remaja kesayangan keluarga, sekaligus kesayangan Ayahnya itu kini tengah berjuang di ruangan yang penuh dengan obat-obatan karena dirinya. memikirkan itu kembali membuatnya dilanda ketakutan yang tidak berujung.

Mengenai insiden tadi. Delon benar-benar tidak menyadari jika kakinya akan tergelincir, alih-alih menginjak anak tangga selanjutnya. mereka justru berguling sampai bawah. karena, sebelum itu terjadi. dia yang akan menoleh untuk menatap Kara yang akan berbicara, tidak menyadari apapun.

"Ka--kara.." racau Delon begitu mengangkat kepala hingga menemukan Janc yang berjongkok di depannya dengan memegang sebotol air.

"Tuan muda Dekara masih ditangani oleh Dokter, tuan muda Delona."

Delon mengigit bibir untuk menahan diri agar tidak berteriak histeris. kedua tangannya kini juga beralih memeluk tubuhnya yang bergetar hebat. kemungkinan besar ketakutan yang dia bayangkan tadi akan terjadi, mengingat posisi Kara di dalam keluarga Flourine begitu penting.

Merasa penantian untuk menunggu kabar baik mengenai kondisi Kara membutuhkan waktu yang cukup lama. Delon yang berniat kembali menenggelamkan kepala di atas lutut. justru dipaksa kembali duduk tegak begitu melihat sosok Ayah angkatnya yang setengah berlari di koridor rumah sakit setelah tadi keluar dari dalam lift. tidak sendiri, Ayahnya itu juga bersama Arsen, beserta Neo.

"Ayaaah.." Delon melirih amat pelan. takut jika yang dia bayangkan tadi benar-benar terjadi. saking takutnya, begitu menyadari Ayahnya yang sudah tiba di sana. dia langsung mengambil langkah mundur dengan terseok-seok.

Kelima pengawal, termasuk Janc kompak membungkuk sembilan puluh derajat begitu Argon, Arsen, juga Neo tiba di sana. namun, tidak sampai sedetik. kelimanya terjatuh akibat tendangan berulang kali yang dilayangkan oleh Neo. meski begitu, kelima pengawal itu kembali berdiri dengan kepala menunduk. mereka bahkan tidak mundur, atau sekedar melakukan perlawanan.

"APA YANG TERJADI, SIALAN?!"

Delon menahan keterkejutannya dengan mengigit bibirnya kuat. raut khawatir, sekaligus marah yang dia lihat membuatnya semakin ketakutan. lidahnya bahkan seolah kelu hingga membuatnya bertahan untuk terus bungkam. isak tangisnya yang terdengar sejak tadi. kini, sekuat tenaga dia tahan agar tidak kembali mengeluarkan suara. dadanya bahkan teramat sesak dengan ulu hatinya yang berdenyut nyeri. menangis dalam diam ternyata se-menyakitkan ini.

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang