Midnight talk

1.4K 238 29
                                        

“Aku mau tanya, deh. Tapi Ayah nggak boleh tersinggung, ya? Ah nggak jadi, deh!” 

Argon langsung mengalihkan tatapan dari laptop begitu mendengar suara Delon yang tiba-tiba terdengar. Putranya itu terlihat kembali sibuk menikmati kue di piring kecil seolah-olah tadi tidak mengatakan apapun. 

Pun, dengan Kara yang sibuk mengerjakan tugas di iPad, kontan mengalihkan perhatian. Kacamata baca yang membingkai wajahnya lebih dulu dia lepas dan letakkan di sisi kanan gelas minuman sebelum berkata. “Mau tanya apa memangnya, Delon? Tanya saja, kenapa malah tidak jadi?” 

Delon urung memasukan suapan kue yang sudah berpindah ke sendok dengan ukuran yang lebih kecil. Kepalanya yang menoleh ke arah Kara serta tatapannya yang menatap lekat ke arah adik bungsu Ayahnya itu, kini beralih menoleh ke arah sang Ayah yang kini menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah memintanya untuk bertanya perihal apa yang ingin dia tanyakan. Tangannya mengusap leher belakangnya dengan pelan sebelum berujar. “Misalkan nih, ya. Misalkan Ayah punya istri terus punya anak juga. Terus suatu hari anak Ayah berantem sama Ibunya sampai bentak-bentak Ibunya gitu. Apa Ayah bakal marahin anak Ayah atau Ayah marah ke istri Ayah karena berantem sama anak Ayah?”

Delon mengerjap lambat setelah mengutarakan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala. Tujuh menit lalu, ada sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan laki-laki yang sudah remaja duduk tidak jauh dari meja yang mereka tempati. Benar, posisi mereka sekarang memang sedang berada di salah satu restoran yang letaknya tidak jauh dari kantor. Dari tempat mereka duduk yang condong ke sudut bagian barat, dia bisa mendengar samar-samar perdebatan yang terjadi tapi tidak mendengar secara keseluruhan penyebab si anak marah kepada Ibunya. Jadi, berhubung dia sendiri tahu bagaimana sifat Ayahnya, dia jadi penasaran bagaimana jika Ayahnya berada di posisi sebagai Ayah dari anak yang membentak Ibunya tadi. Alhasil, pertanyaan yang muncul di kepalanya dia utarakan secara langsung untuk mendapat jawaban. 

Kara memutuskan untuk mematikan iPad. “Perumpamaannya gini. Seandainya Delon mau pergi ke luar negeri bareng temen-temennya tapi kondisinya lagi sakit, terus sama Ibunya dilarang karena alasan itu. Tapi Delon malah marahin Ibunya karena tidak terima. Bang Ar bakal gimana? Bakal marahin Delon atau bakal marahin istri bang Ar karena berantem sama Delon. Gini ‘kan maksud pertanyaan kamu, Delon?” 

Meski sedikit tidak terima namanya yang dijadikan sebagai perumpamaan, Delon tetap mengangguk membenarkan. 

Argon berdahem pelan dan melirik sekilas ke arah laptopnya yang masih menyala sebelum menjawab. “Ayah bakal tanya begini; Delon berani ngomong sama Ayah kayak ke Ibu tadi? Kalau berani, ayo ulang.” katanya—yang membuat putranya itu menggeleng-geleng kecil. Lucunya. “Katakan sama Ayah kenapa kau harus ke luar negeri disaat kondisimu sedang sakit, Delon. Kalau alasannya masuk akal, Ayah akan izinkan dan Ayah sendiri yang akan belikan tiket. Tapi, kalau kau tidak punya alasan selain bersenang-senang dengan teman-temanmu, Ayah tidak akan izinkan. Kecuali kau bisa pergi tanpa minta sepeserpun uang dari Ayah.” lanjutnya dengan kedua sudut bibir yang turut tertarik. “Dan dengar, ya, Delon, your mom is my wife, and no one can raise their voice in front of my wife.” 

Argon mengusap bahu Delon. Putranya itu terlihat masih mencerna kalimat panjang atas jawaban dari pertanyaan yang dia berikan. “Ayah tidak akan marah, Delon. Baik ke anak Ayah, ataupun ke istri Ayah. Keduanya tidak salah. Tidak ada yang salah dari kekhawatiran seorang Ibu kepada anaknya. Anaknya pun demikian. Tidak ada yang salah dari pergi ke luar negeri untuk bersenang-senang, dengan catatan kondisinya harus sehat. Jadi, paham, ya, nak? Begitu juga dengan Ayah, selama kondisimu baik-baik saja, segala sesuatu yang ingin kau lakukan tidak akan pernah Ayah larang.” 

Kara bertepuk tangan kecil. “I'm so so so proud of you, bang Ar!” ungkapnya begitu mendengar jawaban Kakak sulungnya yang tidak condong ke anak atau istrinya dan alih-alih mengatakan, “Ibu itu yang melahirkan kamu, mau jadi anak durhaka kamu?!” Kakak sulungnya itu justru mengatakan, “Your mom is my wife, and no one can raise their voice in front of my wife.”

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang