★ D.A - 14 ☆

15.4K 1.8K 137
                                        

Kara yang masih memeluk, serta menenangkan Delon yang masih terisak pelan, mengelus punggung bergetar remaja itu dengan gerakan teratur. "Delon, aku di sini! kamu udah ya, nangisnya?"

Bujukan Kara tidak membuahkan hasil. terbukti dari Delon yang masih terisak, meskipun terdengar sangat pelan. "Ka---kar.. gue malu, di sini banyak orang!" bisiknya pelan di samping telinga adik bungsu Ayahnya itu.

Kara tidak bisa menoleh, karena posisinya membelakangi kerumunan siswa maupun siswi. Delon juga tidak ingin dilepas, remaja itu bahkan memeluknya semakin erat.

Bara yang berdiri di dekat kedua remaja yang berpelukan itu menghela napas panjang. tatapannya mengedar melihat kerumunan yang semakin ramai. "APA YANG KALIAN LIHAT, BUBAR!" teriaknya yang membuat kerumunan siswa siswi itu bubar seketika, dan menjauh dari sana. tubuhnya kemudian membungkuk untuk menepuk pundak Kara. "Ikut gue!"

Kara meregangkan pelukannya bersama Delon terlebih dahulu. beruntung, remaja itu menurut, meskipun raut cemberutnya langsung terlihat. "Kamu mau ikut dia, Delon?" ujarnya menanyakan persetujuan Delon terlebih dahulu.

Delon yang masih menunduk menghapus kasar jejak air mata pada kedua pipinya sebelum menjawab pertanyaan Kara. "D--dia siapa, Kar?" ucapnya ikut bertanya.

Kara menoleh, kemudian mendongak menatap Bara. "Kamu siapa?" tanyanya.

"Bara!" balas Bara dengan mensejajarkan tubuhnya agar sejajar dengan Delon dan Kara yang sejak tadi berjongkok. "Ayo ikut gue, sebentar lagi bel masuk bunyi!" lanjutnya yang dibalas anggukan setuju oleh Kara.

"Ayo, Delon. kita ikut dia saja, dia tidak jahat, kok!"

Delon mengangguk sekali sebelum berdiri. kepalanya kembali menunduk melihat almamater sekolahnya yang sedikit basah karena terkena cipratan kuah bakso. dengusan kesalnya terdengar sebelum kembali mendongak dan disambut senyuman hangat oleh Kara.

"Pakai ini!" ujar Bara setelah melepas almamater dan menyerahkannya kepada Delon.

Beruntung, Delon langsung mengambil alih tanpa memberi penolakan. meskipun almamater milik Bara sangat kebesaran pada tubuhnya yang kecil.

Senyuman tipis Bara terbit setelah melihat tubuh Delon tenggelam pada almamater miliknya. "Lewat sini!" Tuntunnya kemudian agar Delon dan Kara keluar dari kantin melalui pintu belakang.

Kedua sahabat Bara yang sejak tadi di sana juga ikut menyusul, ada Lintang Arthamahen dan Sangga Diartha. keduanya berjalan di belakang Delon dan Kara, sementara di depan ada Bara sebagai penunjuk jalan.

Tepat ketika mereka akan berjalan menaiki tangga untuk menuju kelas XI. Bara berhenti melangkah, remaja itu menoleh menatap Delon dan Kara yang sejak tadi mengikuti langkahnya tanpa banyak bertanya. "Kalian percaya gue, 'kan?"

Kara sedikit menunduk untuk menatap Delon. "Delon, kamu?" tanyanya.

Alih-alih menjawab, Delon justru melayangkan tuduhan kepada Bara. "Lo nggak ada niat jahatin kita berdua, 'kan?"

"Bukannya gue nggak tahu berterima kasih. sebelumnya.. gue mau ngucapin makasih banyak sama lo, seandainya lo nggak dateng tepat waktu, gue nggak bisa bayangin apa yang terjadi sama gue sekarang!" Delon menghela napas pendek sebelum kembali melanjutkan. namun, suara Bara lebih dulu terdengar.

"Lo tinggal jawab iya, atau, nggak! kalau nggak, silahkan lo naik buat balik ke kelas lo!" sela Bara cepat.

Delon terdiam, begitu juga dengan Kara. keduanya bertatapan, lalu berjalan sedikit menjauh dari jangkauan Bara dan kedua sahabatnya itu.

"Gimana, Kar?" tanya Delon dengan menarik pundak Kara agar remaja itu sedikit membungkuk.

Tinggi keduanya tidak berbeda jauh. namun, untuk berbisik di samping telinga Kara, kaki Delon diharuskan untuk berjinjit sedikit. maka dari itu, Kara harus mengalah dan membiarkan tubuhnya ditarik untuk menunduk.

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang