Camping huru-hara🦋

11.3K 993 234
                                        

"Nggak asik, ah. Masa kalian nggak mau uji nyali, sih?" Delon menggerutu dengan terus meniup air sabun di dalam gelas plastik bekas air yang dia pegang hingga menimbulkan gelembung. "Minimal datengin harimau, kalau nggak, beruang deh, yang lebih lucu!"

"Skip, uji nyalinya bawa-bawa nyawa. Berasa nyawa tinggal dicas apa sampe mau uji nyali pake harimau segala?" Putra bungsu dari Arya Wirasuganda Pandita itu menyahut dengan ikut meniup air sabun dalam gelas plastik yang dipegang Delon.

"Dih, bilang aja penakut. Baru harimau loh, ya! Bukan anjing!"

"Bang Delon kalau mau mati jangan ngajakin olang dong. Laffa 'kan, masih sayang nyawa! Lagian, masih mendingan anjing dalipada halimau tahu, bang!"

"Dih, yang ngajak lo juga siapa, bociiil!" tanggap Delon geram dengan memukul kepala Raffa tanpa perasaan hingga ringisan remaja enam belas tahun itu langsung terdengar setelahnya. Alasan dia dipanggil dengan embel-embel 'abang', karena seminggu yang lalu dia bercerita terus terang dengan takdirnya yang sudah dua kali menempati raga orang lain kepada mereka. Ada Gata, Raffa, juga Vino. Sama halnya seperti Alkuna, mereka juga tidak percaya begitu saja. Namun siapa sangka, mereka justru iya-iya saja dan berakhir percaya begitu Ayahnya memvalidasi jika itu benar adanya dan bukan karangan semata. Karena nyatanya, yang merupakan karangan semata itu ialah Argon yang bisa dimiliki.

"Bang Delon jahat banget! Kepala Laffa jadi mutel-mutel, nih!"

"Lebay banget lo, bocil! Baru gitu doang udah kek orang sekarat!" kilah Delon yang masih terus meniup air sabun. "Ngomong-ngomong, ini kita serius mau camping sampe besok di sini? Gue sih malah seneng, yang gue takutin tuh, Ayah gue berubah jadi reog!"

Gata yang kini mengelus-elus puncak kepala Raffa, menoleh menatap Delon dengan bibir mengerucut. "Ini 'kan ide bang Delon. Lagian cuma sehari, masa Om Ar bisa langsung nge-reog sih, bang?"

Begitu mendengar ucapan Gata. Raffa yang awalnya memilih mendiami Delon dengan tidak menanggapi obrolan, justru dengan lancar berkata. "Bagus dong, Om Algon emang bisa menali, bang?"

Delon dan Gata kompak tertawa ngakak begitu mendengar pertanyaan Raffa. Remaja enam belas tahun itu kini menatap mereka berdua dengan tatapan amat polos yang disertai dengan ekspresi bingung.

"Sialan! Ni bocil sebenernya belum waktunya lahir, tapi malah diusir duluan dari rahim!" celetuk Delon yang membuat gelak tawa Gata terdengar semakin keras.

"Ih, bang Delon sama bang Gata ketawa gala-gala apa, ya? Keliatan lucu banget, Laffa jadi pengen ikut ketawa, deh!" Raffa justru kini menatap keduanya dengan bertopang dagu sembari ikut tertawa kecil. "Bang Delon matanya jadi hilang, lucu bangeeet!" lanjutnya yang terdengar begitu antusias sembari menekan-nekan pipi kanan Delon dengan jari telunjuk.

"Argh! Jancok! Ngapain lo tusuk pipi gue, bocil?!" geram Delon dengan mendengus kesal setelah tawanya mereda. Dia juga sesekali terbatuk akibat tertawa begitu lepas. Tenggorokannya sudah sakit sejak kemarin sore, dia juga kesusahan menelan makanan. Rasanya seperti ada yang tersangkut, padahal aslinya tidak. Ayahnya itu juga sudah membujuknya untuk ke rumah sakit, atau mendatangkan dokter langsung ke Mansion kemarin malam, dia tentu menolak dan justru menjawab begini. "Ayah nggak perlu khawatir, tenggorokan aku sakit karena pahala aku yang kebanyakan, ini namanya kode supaya aku lebih sering ngomong biar pahalanya nggak nyangkut lagi!"

Raffa menggeleng-geleng setelah menjauhkan tangannya yang tadi mencubit kedua pipi Delon secara bersamaan. "Habisnya pipi bang Delon kenyal. Laffa 'kan jadi pengen cubit lagi, boleh ya, bang?"

Gata yang masih tertawa, kini berulangkali menghembuskan napas secara perlahan. Meski sekarang, melihat raut polos wajah Raffa saja membuat perutnya kembali merasa tergelitik.

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang