★ D.A - 21 ☆

15.9K 1.8K 365
                                        

"Kar, Ayah gue mana?"

"Kamu baru bangun saja langsung cari bang Ar, Delon. tapi, kalau udah ketemu pasti marah-marah!"

Delon yang masih meregangkan kedua tangannya dengan mata yang setengah terbuka langsung menoleh menatap Kara dengan mata yang sudah terbuka dengan sempurna. "Mastiin doang, Kar. takutnya Ayah gue diculik, kan bisa bahaya!" celetuknya dengan menguap lebar. siang menjelang sore ketika dia dan Argon tiba di mansion. sebelumnya, mereka berdua sudah makan di cafe yang ada di samping Universitas. dan, dia tidak mengingat apapun selain kalimat Tidur yang nyenyak, putra Ayah! yang dia dengar sebelum Ayahnya itu membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur.

"Tidak ada yang berani culik bang Ar, Delon!"

Delon mendengus dengan jengkel mendengar balasan Kara. adik bungsu Ayahnya itu fokus membaca buku dengan kacamata baca yang bertengger di hidung mancungnya. "Lo baca apaan sih, Kar? rajit amat!"

"Aku baca buku, Delon!"

Delon tertawa pelan. "Iyaaa.. maksud gue, lo baca buku apa, anjir? nggak usah terlalu rajin bisa nggak, sih, Kar?"

Kara langsung menutup buku yang dia baca. serta, melepas kacamata yang dia pakai dan meletakkannya juga di atas meja. "Delon, aku tadi latihan pukul samsak, loh!" Ceritanya seraya mengambil posisi duduk di samping Delon yang kini menyandar pada sandaran tempat tidur. kedua telapak tangannya kemudian terulur ke hadapan anak angkat Kakak sulungnya itu. "Ini, aku tidak tahu kalau belajar bela diri dapat hadiah seperti ini!"

Kedua mata Delon membola kaget, bukan hadiah dua permen yupi yang dimaksud oleh Kara, melainkan luka yang ada di kedua telapak tangannya yang masih terlihat sangat merah. "Kar? kok bisa gini? ini pasti sakit, 'kan?!"

Kara menggeleng seraya menarik kembali telapak tangannya yang masih dipegang oleh Delon. "Ini tidak sesakit yang kamu pikirkan, Delon!" jawabnya meyakinkan begitu anak angkat Kakak sulungnya itu menatap ke arah telapak tangannya secara terus-terusan.

"Nggak sakit lo bilang?-------"

Delon langsung terdiam begitu Kara menggeleng dengan jari telunjuk yang berada di depan bibirnya. "Delon, dengar, ya, aku mau cerita!"

"Kar! apaan sih, obatin dulu luka lo!" tukas Delon yang menolak permintaan Kara yang memintanya untuk mendengarkannya bercerita. kedua netra hitamnya mengedar menatap ke sekeliling sebelum tangannya bergerak cepat untuk menarik laci nomor dua begitu mengetahui jika kamar tempatnya sekarang adalah kamar Ayahnya.

Kara tersenyum begitu melihat Delon yang mengambil salep dari dalam laci. tanpa diminta, kedua tangannya kembali terulur ke hadapan Delon agar anak angkat Kakak sulungnya itu dapat mengobati lukanya dengan mudah.

"Lo nggak usah sok kuat di depan gue, Kar!" dumel Delon dengan mengoleskan salep secara merata di telapak tangan Kara yang terluka. "Apa yang lo pikirin sampai ngelakuin sejauh ini, Kar? lo ngelakuin ini karena perkataan gue waktu itu?!"

Kara menggeleng cepat untuk menepis pertanyaan Delon yang terdengar seperti tudahan itu. "Tidak, Delon!" ucapnya mengelak. "Yang kamu katakan waktu itu benar, aku seharusnya bisa lindungin diri aku sendiri sebelum lindungin kamu, kamu keponakan aku!"

"Kar!"

Kara kembali menggeleng agar anak angkat Kakak sulungnya itu kembali diam. "Dulu, aku punya cita-cita mau jadi pengacara, Delon. tapi, semenjak aku sadar dan hidup kembali. cita-cita aku berubah, apalagi ketika kamu berada di tengah-tengah kami! kamu tahu cita-cita aku yang sekarang, Delon?" tanyanya yang langsung dibalas helaan napas pendek, serta gelengan yang dilakukan oleh Delon.

"Aku mau jadi kuat agar bisa melindungi kamu, Delon! kamu keponakan aku satu-satunya, aku mau jadi bagian dari CIA sama Brimob! agar kamu tidak bisa kabur-kaburan lagi!" ungkap Kara dengan tersenyum membayangkan jika dia nanti yang akan menjaga keponakannya yang nakal itu. entah itu akan terwujud, atau hanya menjadi khayalannya semata.

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang