"De----delon? Delon ada dua, abang?"
"De----delon?" Panggil Ethan terkejut. revolver yang masih dia pegang terjatuh begitu saja setelah jarinya menarik pelatuk dan tepat mengenai dada kiri Delon.
Baik Arsen maupun Gala yang memberontak dalam dekapan Sharlock dan Sharing spontan terdiam begitu mendengar pertanyaan Kara. keduanya kompak menoleh dengan raut terkejut yang sangat kentara. bukan hanya mereka berdua, namun dua sepupu kembarnya itu juga ikut menoleh. benar, yang dipertanyakan adik bungsunya itu benar adanya.
Sementara Zinc yang cukup frustasi atas kepasrahan Argon langsung berjalan mendekat. matanya mengerjap pelan, sebelum tubuhnya benar-benar berdiri bak patung. Zirco juga demikian, pria itu menatap terkejut, sekaligus bingung.
"SUDAH KUKATAKAN DIA BUKAN DELON, BUKAN DELON, SIALAN!" teriak Neo histeris. tangannya yang masih menggenggam telapak tangan Kara spontan terlepas. kakinya langsung melangkah lebar mendekati Ethan yang berdiri seperti patung. "KAU SIALAN, BRENGSEK, SIALAN!" hardiknya kemudian dengan memberikan pukulan telak di wajah adik tiri Ayahnya itu.
Refleks, pengawal yang berdiri di belakang Ethan kompak menodongkan senjata ke arah Neo. begitupula dengan pengawal keluarga Flourine, mereka ikut menodongkan senjata ke arah lawan.
Namun, situasi itu tidak berlangsung lama saat Ethan mengangkat tangannya tinggi sebagai isyarat agar mereka tetap diam. akhirnya, para pengawal itu kembali menurunkan senjata mereka dan tetap berdiri diam di belakang.
"KAU SIALAN, BRENGSEK, SIALAAAN!" jerit Neo kian histeris dengan mencekik leher Ethan kuat.
Ethan yang mendapat perlakuan seperti itu hanya diam. bahkan, untuk sekedar memberi perlawanan kecil saja tidak dia lakukan. tubuhnya berdiri seperti patung. tangannya yang bergetar, kian bergetar dengan jantung yang berdegup kencang. ini benar-benar di luar kendalinya, dia tidak pernah menyangka jika remaja itu muncul di saat jarinya menarik pelatuk. padahal, dia sudah merencanakan ini dengan matang. dan, dia sudah pastikan remaja itu aman di dalam kamar dengan dijaga oleh empat pengawal.
"Ayaaah.. hunghhh----mau-----Ayaaah.. mau Ayaaah!" racauan Delon kembali terdengar seusai melompat-lompat seperti kuntilanak. dan kini, remaja itu kembali meracau saat tidak melihat kehadiran Ethan yang dia lihat seperti Argon di dalam kamar. tubuhnya yang tengkurap di atas tempat tidur tidak bisa diam, kedua tangan dan kakinya terus saja bergerak-gerak layaknya orang yang tengah berenang.
Kepalanya yang ikut telungkup lantas mendongak saat empat pengawal yang berdiri di dekat kasur hanya diam dengan menatap lurus ke arahnya. "Pamaaan.. Ayah gue mana?" tanya Delon dengan mata menyipit. kepalanya masih saja terasa pusing, perutnya juga terasa melilit dengan rasa mual yang yang ikut serta.
Keempat pengawal itu diam, mereka tidak mengerti apa yang Delon katakan. "Sir, please say in english!" pinta salah satu dari mereka.
Mengerjap pelan, Delon lantas bangun dari posisi tengkurap. "Sisir?" tanyanya dengan kepala mendongak. "Ma--manggis, hahaha.. gue suka Manggis!" lanjutnya dengan tangan menengadah. "Mana? gue mau------"
Delon tidak melanjutkan, kakinya langsung berlari ke arah kamar mandi saat perutnya terasa semakin bergejolak dan ingin memuntahkan sesuatu.
"Argh!------Ayaaah.. kepala Delon sakit, hiks.. sakit!" racaunya dengan memijat kepalanya pelan. perutnya terasa semakin mual, padahal yang keluar hanya cairan bening. dan, posisi Delon kini duduk menyandar di tembok dengan kepala yang telungkup di atas lutut dengan posisi kaki yang dia tekuk.
"Sir!"
Delon lantas mendongak, kedua matanya menatap sayu ke arah dua pengawal yang berdiri menjulang tinggi di depannya saat ini. belum sempat mulutnya berucap, kakinya kembali berdiri dan melangkah menuju wastafel saat rasa mualnya kembali hadir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
Ficción GeneralIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
